Dua Kiai Berdebat Soal Hukum Rokok

159
Sebuah anekdot tentang sulit dan rumitnya menentukan hukum lalu berfatwa. Sebuah kisah mengenai dimensi-dimensi hukum yang menjadikan fatwa begitu rentan jika disimpulkan dalam bentuk generalisasi non-kasuistik.

______________________________________

 

Suatu hari Kiai Salim dan Kiai Harun terlibat satu obrolan semi serius mengenai hukum rokok. Keduanya bersahabat sejak lama. Sejak nyantri di sebuah pesantren tua di Jawa Timur, keduanya memang dikenal sebagai tandem debat. Berbagai medan perhelatan Bahsul Masail sudah menjadi panggung keduanya untuk memperlihatkan keliahaiannya dalam menguasai teks-teks turast dan beretorika. Berdebat dan berdiskusi lalu menjadi kebiasaan sampai kedua memimpin pesantren masing-masing kini. Pertemuan yang awalnya hanya diniatkan untuk melepas rindu dan ngopi, ujung-ujungnya juga akan berakhir debat kusir dengan jawaban yang tak pernah bulat.

Setelah beberapa bulan tak bersua, Kiai Salim dan Kiai Harun akhirnya dipertemukan dalam sebuah acara tahunan organisasi keislaman tempat keduanya mengabdi. Seperti laiknya sahabat karib, keduanya pun terlibat dalam tawa dan kepulan asap rokok yang menyatu dengan kepulan asap kopi sore itu. Tak menunggu waktu lama, Kiai Salim dan Kiai Harun pun tiba di sebuah permasalahan mengenai hukum merokok ketika sedang ihram. Beberapa santri dan kiai muda yang hadir pun disuguhkan tontonan debat berbobot di antara dua kiai berpengaruh yang dikenal alim itu.

Menurut Kiai Salim merokok ketika ihram hukumnya haram karena rokok mengandung cengkeh. “Lho, cengkeh itu wangi Kiai! Sampean tanya ke pakar kue dan tataboga, mereka sepakat kalau cengkeh itu wangi!” kata Kiai Salim kepada Kiai Harun memperkuat argumentasinya. “Kalau wangi, ya sah berarti meng-ilhaq-kan cengkeh dengan wewangian. Hukumnya pun sama dengan parfum, minyak wangi dll… gak boleh dipake ketika ihram,” tambah Kiai Salim. Kiai Harun mendengarkan argumentasi sahabatnya dengan seksama sembari sesekali menyedot batang rokoknya.

Dalam kitab-kitab fikih, salah satu larangan orang berihram memang menggunakan wangi-wangian. Tapi apakah cengkeh rokok bisa dikategorikan wangi-wangian? Di situ Kiai Salim dan Kiai Harun berbeda pendapat. “Kalau menurut saya, gak pas cengkeh disamakan dengan parfum, Kiai… Wangi yang keluar dari cengkeh itu kan hanya dampak kimiawi saja. Kalau parfum kan jelas memang dibuat dan disemprotkan untuk wangi-wangian,” jelas Kiai Harun mengutarakan pendapatnya. “Yo kan tapi tetap wangi Kiai. Yang haram itu kan karena wanginya, bukan dzatnya!” Kiai Salim tampak sumringah mengetahui argumen sahabatnya tidak cukup kuat. Dengan telak Kiai Salim mentaukid pernyataannya, “Jadi ya tetap. Ketika ihram, orang gak boleh ngerokok. Pas itu sudah!”

“Oke. Kalau misalnya kita sepakat dengan kesimpulan seperti itu, lalu pertanyaannya…” Kiai Harun menghela untuk meneguk kopinya yang sisa setengah. Kiai Salim hanya tersenyum. “Apakah ketika orang ihram dilarang rokoan karena terdapat unsur cengkeh yang wangi, orang juga disunnahkan rokoan ketika shalat jumat?” Kiai Harun mulai mempermainkan logika dan filsafat hukumnya. Kiai Salim terhenyak dan kembali menghirup rokoknya. “ehmmm…” Kiai Salim terdiam. Keduanya tahu kalau pembahasan sudah selesai. Tak ada kesimpulan hukum rigid yang bisa disimpulkan soal hukum rokok. Keduanya pun tersenyum lalu beranjak mengakhiri perdebatan karena panitia sudah menghaturkan naik ke panggung acara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here