Hantam Rata Sufi Sesat?

87

Di antara salafush shalih yang terkenal banyak touring-nya ialah Yusuf bin al-Husain al-Razi (w. 304 H). Dengan kuniyah Abu Ya’qub. Ia salah satu murid Imam Ahmad bin Hanbal yang dipuji-puji ulama hadits. Dalam biografinya di Siyar A’lam al-Nubala’, 14/248, al-Dzahabi menulis:

يوسف بن الحسين الرازي، الإمام العارف، شيخ الصوفية

“Yusuf bin al-Husain al-Razi, dia imam yang ‘arif (bijak bestari), dan guru besar sufi.”

Disusul dengan pengakuan al-Dzahabi bahwa Yusuf bin al-Husain menimba ilmu dari Dzun Nun al-Mishri dan Imam Ahmad. Al-Dzahabi bukan ulama pertama yang mengakui semua itu. Ia urutan pertama di deretan Hanabilah yang bernama يوسف (Yusuf) di Thabaqat al-Hanabilah karya Ibnu Abi Ya’la, 1/481:

يوسف بن الحسين بن علي أبو يعقوب الرازي من مشايخ الصوفية… صحب ذا النون… وسمع إمامنا أحمد

“Yusuf bin al-Husain bin ‘Ali, Abu Ya’qub al-Razi, termasuk ‘alim pembesar sufi. Ia sahabat Dzun Nun… dan menyerap ilmu dari imam kami, Ahmad˝

Ibnu al-Jauzi al-Hanbali berkata:

سمع يوسف بن الحسين من أحمد بن حنبل وذي النون وغيرهما

“Yusuf bin al-Husain menyerap (ilmu dan hikmah) dari Ahmad bin Hanbal, Dzun Nun, dan selain mereka˝ (Shifat al-Shafwah, 2/301)

Menariknya, tak satu pun ulama Hanabilah yang mentahdzir, mencela, apatah lagi memvonis sesat Yusuf bin al-Husain hanya karena ia SUFI. Bahkan Ibnu al-Jauzi yang dikenal cukup pedas kritikannya atas keyakinan dan perbuatan (SEBAGIAN) sufi di kitab Talbis Iblis pun tak mentahdzirnya sama sekali. Malah sebaliknya. Di Talbis Iblis halaman 105, Ibnu al-Jauzi mengambil faedah dari Yusuf bin al-Husain yang bertanya tentang ghibah pada al-Harits al-Muhasibi yang juga sufi. Di Dzam al-Hawa halaman 29, Ibnu al-Jauzi mengutip perkataanya: ‘ainul hawa ‘auraa’ (mata hawa nafsu itu juling). Di Dzam al-Hawa bertebaran kata-kata sufi. Ini bukti kuat bahwa Ibnu al-Jauzi tak menghantam rata para sufi, dan tak pula memandang sebelah mata prinsip “ambil baiknya, buang buruknya”

Hanabilah generasi setelahnya juga tak mau kalah menyerap hikmah darinya. Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam li Ibnu Rajab (hal. 84) dan Madarij al-Salikin li Ibnu Qayyim (2/92), dua kitab rujukan Salafi dalam tazkiyah al-nafs, memuat ini:

وقال يوسف بن الحسين: أعز شيء في الدنيا الإخلاص، وكم أجتهدُ في إسقاط الرياء عن قلبي، فكأنه ينبت على لون آخر

Yusuf bin al-Husain berkata: “Yang paling berat di dunia ini adalah ikhlas, berapa banyak aku bersungguh-sungguh dalam menghilangkan riya’ dari hatiku, namun seakan-akan ia tumbuh lagi di hatiku dengan warna yang lain”

Baca Juga: Sejarah Kelahiran Istilah Sufi

Mungkin aura batiniah, tawadhu’ dan ilmu tawasuf yang melekat pada Yusuf lah yang menarik hati al-Hafizh Abu Bakar al-Najjad (w. 348 H), seorang muhaddits, faqih Hanbali dan mufti Iraq di masanya, untuk belajar langsung kepada GURU BESAR SUFI ini. Abu Bakar al-Najjad yang kemudian menjadi guru al-Daraquthni, al-Hakim, Ibnu Syahin, dan ulama mutaqaddimin lainnya (Tarikh Baghdad, 5/309, Siyar A’lam al-Nubala’, 15/502). Statusnya shaduq kata al-Dzahabi dan riwayatnya dishahihkan oleh al-Hakim. Barangkali karena al-Najjad mewarisi ilmu-ilmu tasawuf ala Yusuf hingga ia disebut pula ‘arif oleh al-Khatib al-Baghdadi dan wara’ oleh Ibnu Abi Ya’la. So, gurunya guru para ahli hadits itu SUFI BESAR.

Sikap para ulama Hanabilah tersebut jauh berbeda dengan SEBAGIAN saudara-saudara kita di zaman ini yang seenaknya mentahdzir dan memvonis sesat sufi. Perkataan mereka tentang sesat dan menyesatkannya sufi terkesan menggeneralisasi. Ada pula jama’ah sosial media kalau melihat video-video amaliah yang mereka anggap “aneh” dan caranya tak sesuai sunnah, langsung mencap itu sufi dan dilabeli sesat. Termasuk segelintir fanpage FB yang mengklaim diri sesuai al-Qur’an dan hadits, sesuai pemahaman Salaf, tapi postingannya turut serta menyebar kesalahpahaman dan kebencian terhadap kelompok lain. Lebih parah lagi bila alergi terhadap orang-orang alim hanya karena orang-orang itu mahsyur kesufiannya. Semua itu sebab kurang baca, sempit wawasan, dan tak klarifikasi. Cukuplah kuat bertaburnya fakta di Tarikh Baghdad, Thabaqat al-Hanabilah, Dzil Thabaqat al-Hanabilah, Shifat al-Shafwah, Dzam al-Hawa, al-‘Ibar fi Ghabar Man Ghabar, Siyar A’lam al-Nubala’, dan al-Manhaj al-Ahmad, bahwa para ulama sangat menghormati dan mengapresiasi para sufi. Khususnya ulama Hanabilah yang menjalin tali intelek dan kekerabatan dengan para sufi.

Baca Juga: Hamzah Fansuri; Sufi Multitalenta. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here