Konsep Mahram Menurut Madzhab Syafi’i: Mahram Susuan [Bagian 2]

66

Penyebab munculnya ikatan mahram selain disebabkan karena nasab adalah persusuan, atau dalam bahasa fiqih diistilahkan dengan رِضَاع (Ridha’), pembahasan berkaitan dengan mahram persusuan lebih rumit daripada mahram nasab. Berikut beberapa rangkuman penting berkaitan mahram persusuan menurut mazhab Syafi’iy:

Ada tiga pihak yang terlibat dalam mazhab persusuan, tiga pihak tersebut adalah المرضع (al-Murdhi’) yaitu ibu yang menyusui, الرضيع (al-Radhi’) yaitu anak yang menyusu dan صاحب اللبن (Shāhib al-Labn) yaitu suami dari ibu yang menyusui, dimana air susu dari si ibu keluar dari hasil hubungan intim dari suami tersebut, oleh karena itu suaminya disebut dengan “pemilik air susu” karena memang sejatinya air susu tersebut keluar melalui hubungan badan dengan dirinya sebelumnya.

Terjadinya Ridha’ atau persusuan memberikan pengaruh ikatan mahram kepada tiga pihak tersebut. Dari pihak al-Murdhi’ (ibu susu) yang menjadi mahram bagi anak susu-nya terbagi kepada tiga, yaitu 1) أصل mencakup ibu dari ibu susu-nya dan ke atas seterusnya, 2) فروع mencakup anak keturunan dari ibu susu-nya dan 3) حواشى mencakup saudara dari ibu susu-nya dan bibi dari ibu susunya.

Dari pihak al-Radhi’ (anak susu) yang menjadi mahram bagi orangtua susu-nya hanya satu yaitu فروع, artinya yang menjadi mahram bagi orangtua susu-nya hanyalah anak keturunan dari anak. Dari pihak Shāhib al-Labn (ayah susu atau suami ibu susu)yang menjadi mahram sama seperti ketentuan yang berlaku pada pihak al-Murdhi’. Istri dari anak susu tidak halal bagi ayah susu, begitu juga suami dari anak susu tidak halal bagi ibu susu.

 

Baca Juga: Konsep Mahram Menurut Madzhab Syafi’i (Bagian 1)

 

Saudara sepersusuan atau saudara Ridha’ diketahui dengan sembilan keadaan, yaitu:

  1. Anak susuan dari ayah dan ibu nasab-mu, yaitu: Seseorang yang menyusu pada ibumu dan Shāhib al-Labn-nya adalah ayahmu juga, maka orang tersebut tergolong sebagai saudara sepersusuan yang Syaqiqah (kuat)
  2. Anak nasab dari ibu dan ayah susumu, yaitu: Seseorang dimana kamu menyusu dari ibunya dan Shāhib al-Labn-nya juga ayahnya. Maka kamu baginya adalah saudara sepersusuan yang
  3. Anak susuan dari ayah dan ibu susumu, yaitu: Seseorang dimana kamu dengan dirinya menyusu pada ibu susu yang sama dan Shāhib al-Labn-nya juga laki-laki yang sama yaitu suami dari ibu susu tersebut. Maka kalian berdua adalah saudara sepersusuan.
  4. Anak susuan dari ayah nasabmu, yaitu: Seseorang yang menyusu pada istri ayahmu yang bukan ibu mu, dalam hal ini ayah mu menjadi Shāhib al-Labn. Maka orang tersebut menjadi saudara sepersusuan yang se-ayah saja.
  5. Anak nasab dari ayah susumu, yaitu: Seseorang dimana kamu menyusu dari istri ayahnya yang bukan ibunya. Dalam kasus ini ayahnya menjadi Shāhib al-Labn bagimu, tetapi ibu susu-mu bukan ibunya. Maka kamu adalah saudara sepersusuan baginya yang se-ayah saja.
  6. Anak susuan dari ayah susumu, saudara semacam ini terjadi karena dua kasus, yaitu: Pertama, seseorang dimana kamu dan dirinya menyusu pada dua orang ibu susu yang berbeda sekaligus, tetapi Shāhib al-Labn-nya adalah laki-laki yang sama. Salah satu ibu susu menyusui kalian berdua dengan dua hisapan, satunya lagi menyusui kalian berdua dengan tiga hisapan. Kedua, seseorang dimana kamu dan dirinya menyusu pada masing-masing dua ibu susu yang berbeda, tetapi Shāhib al-Labn-nya adalah laki-laki yang sama.
  7. Anak susuan dari ibu nasabmu, yaitu: seseorang yang menyusu dari ibu mu tetapi Shāhib al-Labn-nya bukan ayahmu, maka I aadalah saudara sepersusuan yang seibu saja.
  8. Anak nasab dari ibu susumu, yaitu: seseorang dimana kamu menyusu dari ibunya tetapi Shāhib al-Labn-nya bukan ayahnya. Maka kamu adalah saudara sepersusan yang seibu baginya.
  9. Anak susuan dari ibu susu-mu, saudara semacam ini terjadi karena dua kasus, yaitu: pertama: seseorang dimana kamu dan dia menyusu pada satu orang perempuan dimana Shāhib al-Labn-nya adalah laki-laki yang sama, kemudian ibu- susu tersebut menyempurnakan susuan bagi kalian berdua dengan susu dari Shāhib al-Labn yang berbeda. Kedua: seseorang dimana kamu dan dia menyusu pada perempuan yang sama, tetapi Shāhib al-Labn-nya adalah dua orang laki-laki yang berbeda.

Dengan demikian saudara sepersusuan terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Saudara perempuan sepersusuan yang Syaqiqah: yaitu perempuan yang menyusu pada ibumu dan Shāhib al-Labn-nya adalah ayahmu juga. Atau kamu menyusu pada ibunya dan Shāhib al-Labn-nya juga ayahnya.
  2. Saudara perempuan sepersusuan yang seayah saja: yaitu perempuan yang menyusu pada perempuan yang bukan ibumu, tetapi Shāhib al-Labn-nya adalah ayahmu. Atau kamu menyusu bukan pada ibunya, tetapi Shāhib al-Labn-nya adalah ayahnya.
  3. Saudara perempuan sepersusuan yang seibu saja: yaitu perempuan yang menyusu dari ibumu, tetapi Shāhib al-Labn-nya bukan ayahmu.
  4. Untuk perempuan maka dapat disesuaikan pula dengan ketentuan mahram sepersusuan di atas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here