Kritik Para Sufi atas Ritual Haji

368

Tak bisa dipungkiri, haji sebagai salah satu di antara rukun Islam merupakan ritual yang paling diimpikan oleh setiap kaum muslim dunia. Meski butuh biaya besar, haji  tak pernah sepi akan peminat. Bahkan, di Indonesia sendiri butuh beberapa tahun hanya untuk antri berangkat menuju ke Mekkah. Hal tersebut menabalkan akan fakta, bahwa begitu besar orang-orang Muslim yang berkeinginan untuk berangkat menunaikan ibadah haji ke sana.

Namun, yang musti digaris bawahi. Dalam melaksanakan haji, seringkali orang-orang melupakan akan tujuan ibadah. Mereka yang melaksanakan ibadah haji seringkali, berangkat hanya berkeinginan untuk mengejar status sosial gelar “pak/bu haji’, dan tak jarang ketika sampai di sana terlena akan kebesaran Ka’bah hingga lupa pada Allah Swt., dan seringkali pula mereka lebih memilih belanja oleh-oleh untuk keluarga di rumah. Haji pada gilirannya cuma sekadar menjadi sebuah simbol materialis, hanya difungsikan untuk meningkatkan kehormatan serta menaikkan status sosial masyarakat. Bukan sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Oleh sebab fakta-fakta serupa itu agaknya, para sufi dulu pernah merasa resah, hingga kemudian mereka memiliki cara pandang yang barangkali sebenarnya merupakan sebuah kritik atas fenomena haji serupa di atas. Para sufi memiliki pandangan unik yang jauh berbeda dengan pandangan pada umum para fuqaha tentang haji.

Akibat pandangan-pandangan ini pula mereka akhirnya mendapat reaksi keras dan pertentangan dari para fuqaha. Sejarawan Mesir, Ahmad Amin dalam Zhuhr Al-Islam mencatat; konflik antara fuqaha dan para sufi dari satu masa ke masa terjadi dalam beberapa hal. Di antaranya adalah kebanyakan para sufi mengemukakan pendapatnya dengan istilah-istilah yang sulit dipahami oleh umumnya fuqaha. Pula pendapat-pendapat mereka (para sufi) pun cenderung tidak biasa (gharib).

Karenanya, para fuqaha kerap melayangkan tuduhan-tuduhan kepada para sufi yang terkadang tidak berdasar. Al-Hallaj pernah dituduh sebagai orang yang tidak mewajibkan haji dan menganggap cukup haji dengan hanya berdiam diri di kamar. Begitu pula Abu Hayyan At-Tauhidi yang disebut-sebut memiliki karya kitab berjudul Al-Haj Al-Aql Idza Daqa Al-Fadla` An Al-Haj Asy-Syar’i (Ziarah Akal Jika Tidak Memungkinkan Untuk Melaksankan Haji Secara Syari’at), meski naskah kitab itu tidak pernah ada dan tak pernah diketemukan sampai sekarang.

Haji dalam pandangan sebagian sufi memang sekilas cenderung ekstrim dan kontroversial jika dibaca dengan pendekatan umumnya. Namun, barangkali apa yang dikemukakan oleh mereka sebenarnya tidak lebih semata merupakan pandangan kritis atas fenomena ritual haji yang telah bergeser dari ibadah keagamaan ke simbol materialis.

Sebentuk kritik atas ‘pemberhalaan’ Ka’bah, misalnya. Hal ini pernah disuarakan oleh Muhammad Ibn Fadhl Al-Balkhi, ia mencoba untuk mengupayakan agar menjauh dari memberhalakan Ka’bah untuk menuju ke Pemilik Ka’bah (Allah Swt.). Dikutip dari Risalah al-Qusyairiyyah Ibn Fadhl Al-Balkhi berkata: “Ini mengejutkanku bahwa orang-orang ini menghadapi kesulitan untuk menaklukkan gurun demi mencapai Rumah Tuhan dan melihat benda-benda peninggalan Nabi, tetapi mereka tidak berupaya untuk menekan hawa nafsu mereka sendiri untuk mencapa hati itu dan merenungkan tanda-tanda Tuhan di dalamnya”.

Diceritakan pula, pada suatu ketika Syibli terlihat berlari dengan obor menyala di tangannya. Ditanya tentang tujuannya, dia menjawab: “Aku akan pergi ke Ka’bah dan membakarnya, agar orang-orang yang menyembah Rumah Tuhan itu menjadikan Pemilik Rumah (Allah Swt.) sebagai fokus ibadah mereka”.

Rabi’ah Al-‘Adawiyyah pun demikian. Diriwayatkan ketika Rabi’ah melaksanakan ibadah haji, ia menjawab: “Inilah Ka’bah yang disembah di muka bumi, sedangkan Tuhan tidak pernah masuk atau meninggalkannya”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here