“Lailatul Qadar” Tak Turun di Indonesia Ramadan Tahun Ini

558

Banyak orang mungkin membayangkan kalau Lailatul Qadar itu semacam kue yang diturunkan Allah SWT dari langit dan hanya bisa diterima oleh orang duduk berdzikir atau beribadah ketika kue itu dijatuhkan. Mulai jaman alif ba ta hingga hari ini, bayangan saya tentang Lailatul Qadar tak jauh-jauh dari iluastrasi semacam itu. Entah sudah berapa kali ayat Lailatul Qadar diperdengarkan dan hadis-hadis tentang Lailatul Qadar juga dibacakan, imajinasi saya sebagai awam selalu menggambarkan proses turunnya Lailatul Qadar seperti itu.

Lambat laun, setelah mengaji lebih rajin, saya baru tahu kemudian kalau Lailatul Qadar itu ada tanda-tandanya. Beberapa yang biasa saya dengar, tanda datangnya Lailatul Qadar itu malam menjadi sangat sunyi dan tenang, hewan-hewan berdzikir lirih meliburkan suara-suara bisingnya, hembusan angin sampai pada titiknya yang paling stabil; tidak pelan dan juga tidak kencang, malam menjadi begitu indah dan menawan. Tanda-tanda ini selalu saya lacak tiap Ramadan tiba. Namun tetap, sudah teridentifikasi karena malam-malam terasa sama saja… ya begitu-begitu saja.

Semakin rajin ngaji akhirnya saya tahu kalau Lailatul Qadar ternyata sudah dibikin rumusnya. Jikalau Ramadan diawali oleh Hari Ahad, maka Lailatul Qadar biasanya jatuh di malam kesekian. Kalau dimulai di Hari Kamis, maka biasanya terjadi di malam kesekian. Begitu seterusnya. Saya juga akhirnya tahu, setelah agak lama ngaji, kalau Lailatul Qadar biasanya juga turun di malam-malam ganjil 10 terakhir Bulan Ramadan. Spesifikasi rumus semacam ini tetap tak kunjung membantu saya menangkap kedatangan Lailatul Qadar. Malam-malam terlihat sama saja dan begitu-begitu saja. Apalagi saya tinggal di sebuah kota “mati” yang diapit beberapa gunung, ya malam-malam Ramadan sejak tanggal 1 sampai tanggal 29 memang sejuk, damai, hening dan lain sebagainya. Gak mungkin dong Lailatul Qadar datang setiap malam? Atau mungkin saja?

Setelah cukup lama ngaji dan pada akhirnya males ngaji, akhirnya saya sadar bahwa ketidakmampuan saya menemukan Lailatul Qadar selama ini mungkin karena saya terjebak pada ukuran-ukuran dan angka-angka yang ada. Sibuk menghitung rumus, merencakan waktu dan menjejali batasan-batasan fisikal itulah awal dari kegagalan besar dalam menemukan, apalagi mendapatkan Lailatul Qadar. Dengan adanya rumus dan angka-angka manusia justru menghilangkan nilai yang paling esensial dari semangat dan berkah Lailatul Qadar. Seseorang yang berencana rajin ibadah dan I’tikaf di masjid pada 10 hari terakhir Ramadan untuk mendapatkan Lailatul Qadar, biasanya justru menggampangkan ibadah di 20 hari yang lain. Strategi prioritas semacam ini tidak jitu, justru merupakan kesalahan fatal. Ujungnya hanyalah kegagalan-kegagalan dalam menangkap Lailatul Qadar. Persis seperti yang saya alami selama ini.

Lailatul Qadar pada akhirnya saya pahami sebagai kontinuitas dan totalitas. Ia hanya akan datang kepada orang yang secara kontinui, total, mobil dan konsisten dalam mengamalkan ibadah, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu dan jenis ritual peribadatan tertentu, namun konsisten mengamalkan nilai substansi agama di manapun dan kapanpun ia berada. Konsistensi, totalitas, mobilitas dan kontinuitas inilah yang akan membawanya melampaui batasan-batasan angka dan rumus. Karena mau kapanpun Lailatul Qadar tiba, bisa dipastikan ia tengah berada dalam keadaan beribadah kepada Allah SWT.

Lailatul Qadar pada akhirnya saya pahami sebagai kontinuitas dan totalitas. Ia hanya akan datang kepada orang yang secara kontinui, total, mobil dan konsisten dalam mengamalkan ibadah, bukan hanya pada waktu-waktu tertentu dan jenis ritual peribadatan tertentu, namun konsisten mengamalkan nilai substansi agama di manapun dan kapanpun ia berada. Konsistensi, totalitas, mobilitas dan kontinuitas inilah yang akan membawanya melampaui batasan-batasan angka dan rumus. Karena mau kapanpun Lailatul Qadar tiba, bisa dipastikan ia tengah berada dalam keadaan beribadah kepada Allah SWT.

Jangan dipahami ibadah hanyalah terbatas pada shalat, zakat, haji dan puasa. Hal penting dari ibadah justru terletak pada perwujudannya sebagai ucapan, tingkah laku dan tabiat. Ibadah yang ritualistik, jika benar, akan melahirkan kepekaan sosial. Orang yang shalatnya benar, bisa dipastikan adalah orang yang betul-betul bisa menjaga lisannya dari fitnah, kebencian dan kata-kata yang menyakiti. Orang yang shalatnya benar, bisa dipastikan adalah orang yang betul-betul peduli pada orang lain, memiliki hubungan baik dengan tetangga dan masyarakatnya.

Jika dibaca dari teropong semacam ini, tampaknya Lailatul Qadar tak akan turun di Indonesia. Ia hanya numpang lewat dan kabur entah ke mana. Kondisi keberislaman dan keberagamaan yang kita perlihatkan di Bulan Ramadan kali ini sama sekali tidak memenuhi syarat untuk masuk dalam kategori manusia-manusia yang layak mendapatkan Lailatul Qadar. Sejak awal bulan hingga ia tiba di penghujung usianya, Ramadan kita tahun ini adalah Ramadan yang marah dan hitam. Ramadan yang penuh prasangka dan kehilangan tatapan kasih sayangnya.

Tapi saya masih berharap Lailatul Qadar turun dalam bentuknya yang lain. Ia mungkin saja tidak turun kepada person dan seorang muslim per individu. Namun mungkin saja hal itu bisa kita lobi dan Allah SWT berkenan menurunkannya dalam wujud yang lebih universal kepada kita sebagai bangsa Indonesia. Kita tentu bisa beragumen. Indonesia adalah bangsa yang selama ini konsisten merawat nilai-nilai kebhinekaan, kerukunan dan keberagaman. Islam yang dibentuk di Indonesia juga Islam yang menghapus garis-garis keperbedaan dan menekankan simpul-simpul persamaan.

Kita adalah bangsa yang konsisten tidak menyibukkan diri dengan perbedaan-perbedaan. Kita adalah bangsa yang konsisten dan kontinui menyibukkan diri untuk mencari pertemuan-pertemuan. Konsistensi dan mobilitas kita sebagai sebuah bangsa yang merawat betul intisari dari agama dan berketuhanan inilah yang mungkin saat ini bisa jadikan argumen agar Lailatul Qadar diturunkan dalam wujud air segar yang mampu menghapus segala noktah hitam yang kita tinggalkan selama Bulan Ramadan. Dan tentu saja, karakter ini harus terus menerus dijaga agar Lailatul Qadar berkenan mampir dan menjatuhkan berkahnya bagi umat Muslim di Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here