Mbah Moen Memilih Hari Wafatnya dan Isyarat 5 Dzulhijjah

489
Mbah Moen Maimoen Zubair Wafat
KH. Maimoen Zubair (Mbah Moen) wafat, 5 Dzulhijjah 1440 H/6 Agustus 2019, di Makkah, Arab Saudi

Umat Islam kehilangan sosok ulama besar KH Maimoen Zubair atau Mbah Moen, yang wafat pada Selasa (6/8/2019), di Mekah, Arab Saudi. Sebelum berpulang, beliau seakan telah memberi isyarat bahwa 5 Dzulhijjah 1440 H adalah tanggal terakhirnya di dunia dan kemudian melanjutkan perjalanan di kehidupan berikutnya. Bahkan beliau seperti telah ikut memilih hari wafatnya sendiri. Bukankah tidak ada ketidaksengajaan bagi Allah?

Hal itu terungkap dari kesaksian Shodiqun, calon jamaah haji  asal Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah. Ia mendapat kabar dari kakaknya, Ahmad Dimyathi,bahwa Mbah Moen tahun ini tengah melaksanakan ibadah haji. Ahmad Dimyathi kemudian meminta Shodiqun untuk sowan kepada KH Maimoen bersama Gus Alwi bin KH. Muslih asal Duwok, Tegalrejo, Magelang.

Shodiqun dan Gus Alwi lalu membuat rencana untuk datang bersama ke hotel tempat Mbah Moen menginap, selepas shalat Jumat,  2 Agustus 2019. Tapi karena lalu lintas padat, Gus Alwi tidak bisa sampai ke maktab Kiai Maimoen. Shodiqun pun akhirnya sowan sendirian.

Merasa belum mendapatkan kesempatan, Gus Alwi hanya meminta tolong kepada Shodiqun untuk menanyakan sampai kapan Mbah Moen tinggal di Makkah. Maksud Gus Alwi, lain waktu sebelum Mbah Moen meninggalkan Makkah, ia akan sowan di penginapan ayah dari wakil gubernur Jawa Tengah tersebut.

Setelah sampai di hotel, Shodiqun mendapati beberapa tamu juga sedang sowan. Masing-masing mempunyai kesempatan berbincang kepada Kiai Maimoen. Tiba giliran Shodiqun, ia mencoba menyampaikan pesan Gus Alwi untuk menanyakan sampai kapan Kiai Maimoen akan tinggal di Makkah.

Ngapunten, Mbah, mangke wonten mriki dugi kapan njih (maaf, Mbah, tinggal di sini akan sampai kapan, ya)?”

Mbah Maimoen dengan tegas menjawab, “Tekan tanggal limo (sampai tanggal lima).”

Shodiqun cukup janggal atas jawaban Kiai Maimoen Zubair. Ia berpikir, bagaimana mungkin beliau tinggal di Makkah sampai tanggal 5 sedangkan ritual ibadah haji—apabila dihitung menurut kalender hijriah maupun masehi yang hanya selisih sehari—akan selesai pada tanggal belasan. Shodiqun hanya husnudhon bahwa yang dimaksud Mbah Moen dengan “tinggal di sini sampai tanggal lima” adalah tinggal di dalam hotel yang beliau tempati saat ini, bukan tinggal di Makkah.

Selasa, 6 Agustus 2019, menjelang subuh, hujan mengguyur kota Makkah. Shodiqun yang berangkat ke Masjidil Haram basah kuyup. Baginya cuaca kali ini aneh karena terjadi pada musim panas. “Saya sempat bertanya-tanya dalam hati: ada apa ini?” tuturnya.

Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian hati Shodiqun tersentak oleh kabar wafatnya Mbah Moen. Di kepalanya kembali terngiang dawuh Mbah Moen terakhir saat di hotel, dan Shodiqun baru sadar bahwa pemahamannya meleset.

Baca Juga: Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, Romo Yai Maimoen Zubair Wafat Di Mekah Hari Ini.

Pada tanggal 5 Dzulhijjah 1440 H (atau 6 Agustus 2019), Mbah Moen memang bukan hanya meninggalkan hotel, tapi juga Makkah, bahkan dunia dengan segenap hiruk pikuknya ini. Ulama kelahiran 28 Oktober 1928 itu mengembuskan napas terakhir dengan tenang pada pukul 04.17 di Kota Makkah, Arab Saudi. Allâhummaghfir lahu warhamhu wa ‘âfihi wa‘fu ‘anhu.

Memilih Hari Wafatnya Sendiri

Bukan hanya perkara tanggal, Mbah Moen juga seperti telah memilih hari wafatnya sendiri, yakni hari Selasa. Ini terekam dari video yang beredar di media sosial dan tulisan abdi dalem Mbah Moen yang dipos ulang oleh banyak akun lainnya. “Saya sangat ingat bahwa Syaikhona Maimoen Zubair jauh hari sudah berkeinginan untuk meninggal pada hari Selasa.”

Di video tersebut, Mbah Moen berkata di hadapan para santri, “pada hari ini, hari apa ini? Hari selasa itu, (Pondok Pesantren ) Sarang itu mulai kecil, saya mulai kecil, dan menurut riwayat pondok, yang insyaallah pada pertama kali tahun 1800an didirikan pondok ini di Karangmangu, itu kalau hari Selasa itu dibuat hari libur ngaji. Sebab hari selasa ini hari yang menurut nenek saya, mulai dari nenek yang keempat sampai ayah saya ibu saya, itu kalau meninggal itu kok hari Selasa. Ini saya cerita apa udah mengerti atau belum, sampai mbah saya Kiyai Ahmad (bercerita) itu ora mung neng Sarang tok, Cung. Jaman aku neng Mekah iku kiyai-kiyai nek mati yo seloso (itu bukan cuma di Sarang, Cu. Jaman saya di Mekah itu kiyai-kiyai kalau meinggal juga (hari) Selasa). Sebab apa?

Sebab Allah swt. membuat itu empat hari. Fi arba’ati ayyaamin sawaa an lissailin, empat hari. Jadi Ahad, Senin, Selasa, Rabu. Sehingga kalau Rabu itu, orang Jawa mengatakan, hari Rebo Wekasan. Sebab rampung diciptakan bumi oleh Allah itu hari Rabu. (Pada) hari Selasa Allah menciptakan ilmu segala apa yang ada di dunia ini. Itu sesudah tahapan pertama, dua hari, Ahad Senin, jadi yang disebut-sebut fi yaumin dua hari. Kemudian Allah melanjutkan, lanjutan itu sebelumnya Allah menerangkan apa ilmu-ilmu yang ada di dunia ini pada hari Selasa. Jadi sampai di Sarang ini diwajibkan hari Selasa itu harus libur kalau ngaji(nya), kalau sekolah (formal)nya nggak usah libur. Jadi saya juga libur Selasa itu,” tutur Mbah Moen kepada para santri sebagaimana terekam dan diunggah dan dipos ulang di media-media sosial, salah satunya oleh akun @nucare_laziznu.

KH Maimun Zubair adalah sosok ulama besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Semoga kita mampu meneladani melanjutkan perjuangan gigih beliau, menjaga nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan.  Semoga Allah swt. menempatkan beliau di surga terindah. Al-Fatihah …

*Sebagian besar isi tulisan ini telah dimuat di NU Online dengan judul “Isyarat Kiai Maimoen Zubair Menjelang Wafat”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here