Mukena Syahrini, Fetisisme Agama dan Lebaran Kita yang Semakin Kapitalistik

746

Hidup Sejatinya Murah, Gaya Hidup yang Membuatnya Mahal.

Hidup Sejatinya Mudah, Gaya Hidup yang Membuatnya Sulit.

Hidup Sejatinya Indah, Gaya Hidup yang Membuatnya Lusuh.

 

Beberapa hari yang lalu, netizen dibuat kaget dengan berita suksesnya penjualan mukena Syahrini yang per-potongnya dibandrol hingga 3.5 juta rupiah. Dalam waktu beberapa hari saja, 5000 potong mukena si “princess manjaah” ini ludes tak tersisa. Pendapatan yang diperoleh Syahrini dari proyek mukenanya itu ditaksir mencapai angka 17.5 miliyar rupiah. Sebuah angka yang tak akan pernah bisa dibayangkan oleh mental proletariat saya yang sejak awal memang dibangun secara maksimum hanya dari istilah “ribu” atau “juta”. “Miliyar” adalah batasan angka yang sudah terlalu jauh dari kemampuan idea saya dalam membayangkan sesuatu.

Apa yang menarik dari kejutan fenomena ini bukanlah Syahrini atau mukena produksinya, tapi sambutan luar biasa 5000 perempuan Indonesia konsumen mukena si pelantun lagu “Syesyuatuh” itu. 3.5 juta rupiah tentu bukan harga yang murah kalau kita takar dengan kemampuan kerja dan penghasilan yang rata-rata bisa diperoleh oleh masyarakat Indonesia sehari-harinya. Angka 3.5 juta rupiah termasuk tinggi, apalagi hanya untuk harga sebuah mukena yang paling lama mungkin dipakai 25 menit saja dalam sehari. Maka kita pun bisa menyimpulkan bahwa mukena seharga 3.5 juta tak lagi bisa dianggap sebagai sejenis sandang atau pakaian. Lebih dari itu, ia adalah simbolisasi dari sikap sebuah aliran fetisisme komoditi dan hedonisme kapitalistik yang mengambil wujud semangat keberagamaan dan keberislaman.

Ada beberapa faktor keberhasilan penjualan mukena Syahrini yang patut kita amati. Amatan kita terhadap beberapa faktor ini sekaligus akan memberikan gambaran bagaimana sesungguhnya kapitalisme sedang menari mesra bersama ghirah keislaman di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir. “Tarian mesra” inilah yang pada akhirnya akan membentuk iklim keberislaman dan keberagamaan kita, yang dalam beberapa bulan terakhir menyusup sebagai alat untuk melegitimasi kepentingan politik tertentu.

Faktor pertama tentu Syahrini. Penjualan mukena seharga 3.5 juta tidak mungkin akan sukses kalau yang jual Mbok Sukinem, Mpok Hapidoh, Mbak Maemunah dan personifikasi lokal lainnya. Terlalu sederhana kalau kita menganggap “Syahrini” hanyalah sebuah nama. Hari ini, ditambah dengan fenomena mukenanya tadi, “Syahrini” telah menjadi gaya hidup dan cerminan budaya. Dikenal sebagai artis dan penyanyi papan atas yang hidup glamor dan mewah, “Syahrini” adalah perwajahan sempurna bagi modernisme untuk memperkenalkan dirinya dalam bentuk yang paripurna kepada masyarakat bangsa Dunia Ketiga. Syahrini adalah sebuah dunia dan surga yang coba digapai oleh banyak orang, khususnya di Indonesia. Cukup dengan beberapa slide foto dan postingan “mukena syahtiiiq Syahrini” saja, pola pasar seketika akan membentuk arus dan gelombang yang meludeskan 5000 potong mukena dalam sekejap.

Faktor kedua adalah posisi strategis Syahrini dalam membentuk kesadaran fetisisme. Selain artis dan perwajahan anggun modernisme–lalu kapitalisme–, Syahrini juga seorang Muslimah. Dia artis dan dia Islam. Posisi ini sangatlah menguntungkan karena Syahrini berada di pintu penghubung antara dua dimensi kehidupan. Di satu sisi ia hidup sebagai bagian dari modernisme dan jaringan kerja kapitalisme, di sisi yang lain ia juga hidup sebagai orang Indonesia yang beragama Islam. Iklim komodifikasi agama yang berkembang dan telah menjadi cuaca keberislaman di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi jaminan jitu komoditi berbau agama seperti mukena mendapatkan momentum penjualannya. Mukena Syahrini adalah umpan lezat bagi model keberagamaan yang sudah terlalu hedonistik dan menuhankan tampilan.

Faktor ketiga adalah waktu. Hari-hari terakhir Bulan Ramadan sekaligus menjelang Idul Fitri adalah momentum pasar yang menggerakkan komoditas dalam putaran uang yang begitu dahsyat. Berpakaian baru dan berpenampilan keren di Hari Raya seakan-akan sudah mendarah daging dalam kesadaran mayoritas muslim di Indonesia. Upaya seseorang bekerja dalam setahun penuh seakan-akan hanya menjadi media untuk mengumpulkan upah yang kelak akan mereka habiskan di Hari Raya. Sehabis Hari Raya, tabungan habis, kerja lagi untuk Hari Raya tahun depan. Begitu seterusnya. Mukena Syahrini hadir dalam momentum semacam ini; satu momentum ketika manusia benar-benar meluapkan hasrat duniawinya dan Kapitalisme pun menyambutnya dengan senyuman yang paling manis serta tangan terbuka.

 

Agama di Persimpangan Jalan Substansial dan Simbolik

Beragama, sebagai sebuah keniscayaan yang berporos pada trensendentalitas, satu sisi membutuhkan simbol-simbol sebagai penubuhan nilai yang diturunkan oleh Tuhan. Tanpa simbol, manusia sebagai mahluk yang mengandalkan indera tentu sulit menangkap anasir-anasir spiritualisme dari niai-nilai keagamaan yang dianutnya. Di sisi yang lain, ketika kehadiran simbol terlalu dominan dalam kosmologi seseorang, maka keberagamaan yang muncul akan mengarus pada model keberagamaan tekstual yang menuhankan huruf, kalimat dan penampakan luar doktrin semata.

Mukena, sarung, surban dan peci adalah atribut. Atribut penting karena ia menjadi tanda pembeda dan identitas. Namun ketika atribut dan simbol tersebut merebut inti makna dari agama, maka yang lahir adalah fetisisme dan kecintaan yang berlebihan pada tanda, citra dan kesan lahiriah. Mukena Syahrini adalah fenomena serius kala dikaitkan dengan cara kita beragama akhir-akhir ini. Kecenderungan untuk memperindah tampilan pada akhirnya melahirkan satu konsekuensi sikap keberagamaan yang menuhankan tanda.

Doktrin bertuhan pada tanda, simbol dan sarana, yang mewujud satu model beragama teks, mendapatkan momentumnya dengan logika pasar yang memperjualkan citra. Sarung, jubah, peci dan sorban, yang awalnya menjadi bungkus bagi religiuitas dan spritualitas seseorang, kini justu menjadi kail komoditas yang menjadikan ayat-ayat al-Qur’an sebagai umpannya. Tampil mewah dihadapan para jamaah; sorban yang melilit kepala dan bahunya, baju dengan brand terkenal dan gaya penyampaian yang basah dengan ayat al-Qur’an serta hadis Nabi, menjadi perwajahan utuh Islam-Kapital.

Pada titik ini, kita bisa menyaksikan bagaimana kapitalisme disokong dari belakang oleh satu model keberagamaan yang tekstual dan simbolik. Dulu, di masa penjajahan, melalui tangan Snouck, model tersebut diadopsi dan dipakai untuk mendukung agenda kolonialisme. Ia ternyata efektif untuk menggerus pemberontakan yang muncul dari kelompok-kelompok tarekat. Kini ia kembali digunakan untuk mengoperasikan cara kerja kapital dengan memanfaatkan tagline “Islam Asli 100%” yang diusungnya.

Maka tidak heran ketika tumbuhnya kesadaran umat terhadap tata nilai keislaman,  secara kebetulan bersepakat dan beriringan dengan suburnya nafsu kapital, komodifikasi agama dan lahirnya aliran fetisisme agama. Dalam kasus ibadah haji dan umroh, terjadi perang travel di permukaan. Promo pariwisata plus dampingan seorang penampil dakwah terkenal menjadi strategi untuk meraup pasar umat Muslim. Haji, yang awalnya dikenal sebagai ibadah yang sulit, penuh ujian dan pengorbanan menyakitkan, kini berubah menjadi ibadah travelling dan belanja.

Pada titik kumpul inilah mukena Syahrini akan terlihat sebagai akumulasi permasalahan-permasalahan krusial yang menghilangkan unsur paling esensial dalam beragama dan berislam; kesederhanaan!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here