Soal Etika Beragama, Kita Harus Belajar Kepada Vicky Prasetyo

1067

Aku mah ada ilmu, cuma gak pede sama ahlak doang…”

 

Vicky Prasetyo mungkin adalah nama yang di telinga manusia Indonesia penuh dengan kesan-kesan kontroversialitas dan hal negatif lainnya. Terkenal sejak dekat dengan penyanyi dangdut Zaskia Gotik, Vicky awalnya dikenal karena sering menggunakan istilah-istilah –isme dan sarat ilmiah dalam berbagai kesempatan berbicara yang didapatkannya. Kisah cinta yang berujung kegagalan menuju jenjang pernikahan karena kasus penipuan tak menyurutkan nama Vicky Prasetyo di kancah dunia hiburan Indonesia. Dia muncul kembali layaknya ronin yang siap bertarung kembali di dunia entertainment yang memang sangat ketat.

Namanya kembali menjadi perbincangan netizen ketika hubungan asmaranya dengan Angel Lelga mencuat ke publik. Dramatisasi, sorotan media dan kemesraan yang tampil di layar kaca sampai hari pernikahan yang dikonsep tidak seperti biasanya membuat netizen terus mengikuti kisah asmara Vicky dan Angel Lelga. Puncaknya adalah ketika kasus “pendobrakan pintu” yang live disiarkan di televise, yang membuat banyak orang menyimpulkan bahwa kisah asmara keduanya hanyalah settingan belaka. Sejak itu Vicky hidup dalam kontroversialitasnya dan sebuah kesan seorang laki-laki yang hidup dari satu wanita ke wanita lainnya.

Namun siapa sangka, di balik bungkus kesan-kesan negatif yang selama ini menyelimutinya, Vicky adalah orang yang memiliki kemampuan lebih di bidang agama. Dalam beberapa hari terakhir, sebuah potongan video menjadi viral karena tampak di dalamnya Vicky sangat lihai dan menguasai rumus tashrif (perubahan kata dalam Bahasa Arab) ala pesantren. Potongan video yang diambil dari acara Oke Boss, sebuah acara talkshow di salah satu televisi swasta, memperlihatkan kekaguman Raffi Ahmad dan Sahila Hisyam kepada kemampuan Vicky. Bahkan setelah mengetahui kemampuan Vicky, Raffi Ahmad pun tidak segan-segan mencium tangan Vicky karena merasa kalah khususnya soal pemahaman agama.

Dalam video tersebut, Vicky memperlihatkan kemampuannya mentashrif kalimat “fa’ala” dan “nashara”. Dengan lancar dan fasih Vicky menyebutkan perubahan dua kalimat tersebut dari satu bentuk ke bentuknya yang lain. Melihat kekaguman Raffi Ahmad, Vicky menjelaskan kalau hal itu adalah jenis pembelajaran nahwu dan sharraf. Vicky juga menjelaskan kalau dirinya memang pernah mengenyam pendidikan pesantren di as-Syafi’iyyah selama tiga tahun. Maka tak heran jika Vicky menguasai betul tata bahasa dan gramatika dasar bahasa Arab yang menjadi modal wajib seseorang yang hendak mengkaji kitab-kitab turast para ulama.

Namun Vicky tampaknya merendah, dia merespon kekaguman Raffi Ahmad dan Sahila dengan mengatakan “aku mah ada ilmu, cuma gak pede sama ahlak doang…” yang kemudian diiringi oleh tepuk tangan dan tawa riuh penonton. Sekilas, apa yang disampaikan Vicky ada benarnya. Hidup dengan kesan kontroversial dan kesan negatif selama ini tentu membuat Vicky selalu menahan diri untuk berbicara, apalagi soal agama. Namun di sisi yang lain, ada kebijaksanaan dan kejujuran dari seorang Vicky Prasetyo, yang menggambarkan bagaimana seharusnya etika dalam beragama diwujudkan dan diperlihatkan.

Nahwu dan Shorrof, sebagaimana yang diperlihatkan Vicky secara sekilas, adalah modal dasar bagi seseorang untuk mengakses seluruh literatur keislaman yang mayoritas memang ditulis dalam Bahasa Arab. Kemampuan seseorang mengakses literatur adalah syarat penguasaan ilmu-ilmu keislaman itu sendiri. Maka tidak heran jika Nahwu dan Sharraf, atau penguasaan terhadap tata gramatika Bahasa Arab menjadi syarat wajib bagi seseorang yang hendak berfatwa. Tidak cukup hanya mengandalkan terjemahan, apalagi google!

Maka sudah sepatutnya bagi seseorang yang merasa tidak menguasai ilmu-ilmu dasar dalam Islam, tidak berbicara soal agama, apalagi hukum. Namun yang terjadi sebaliknya. Dalam beberapa tahun terakhir, muncul fenomena di mana mereka yang tidak memiliki ilmu untuk mengakses korpus-korpus keislaman dan memahami betul literatur yang ada, justru adalah orang yang paling riuh berbicara soal agama. Ilmu gak ada, ngomong lanjut terus. Vicky memperlihatkan sebaliknya…

Repons Vicky, yang awalnya mungkin terdengar hanya sebagai lelucon semata, nyatanya memiliki pesan tersirat dan contoh bagaimana seharusnya etika dalam beragama mesti dikedepankan. Tidak sembarangan orang punya wewenang untuk berbicara soal agama dan hukum, bahkan mereka yang dianggap sudah menguasai beberapa ilmu dasar keislaman sekalipun. Berbicara soal agama membutuhkan pemahaman, kebijaksanaan, kedewasaan dan ahlak. Sebagai sebuah ajaran, Islam harus ditubuhkan dalam contoh dan prilaku. Seorang pendakwah harusnya menjadi panutan dan contoh bagaimana Islam mestinya diwujudkan dalam kemanusiaan. Tidak serta-merta punya ilmunya, terus bebas berkomentar dan ngajari orang!

Vicky kembali mengingatkan kita akan sesuatu yang hilang dari keberagamaan kita hari ini; ahlak! Hal yang sama juga disampaikan oleh KH. Quraisy Shihab dan beberapa tokoh agama lainnya. Karena ahlak dan etikalah yang membuat agama menjadi sesuatu yang indah, manusiawi dan menyejukkan. Sebejat-bejatnya Vicky Prasetyo, sedikit banyak kita harus belajar dari sosoknya tentang bagaimana cara mengimplementasikan keberagamaan dalam balutan etika. Tentu Vicky menyampaikan dengan caranya yang membuat orang tertawa bahagia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here