Sunan Giri dan Dakwah Islam Penuh Seni

87

Sunan Giri dilahirkan di Blambangan (Banyuwangi) 09 Juni 1442 Masehi. Pada waktu kecilnya, Sunan Giri memiliki nama Muhammad ‘Ain Al-Yaqin dengan nama panggilan Raden Paku. Ayahnya adalah seorang tokoh agama terkemuka dari Asia Tengah yaitu Maulana Ishak saudara kandung Maulana Malik Ibrahim. Ibunya adalah tokoh bangsawan seorang putri dari Prabu Menak Sembuyu penguasa wilayah Blambangan bernama Dewi Sekardadu.

Dilihat dari nasab ayahnya, Sunan Giri masih memiliki sambungan garis keturunan dengan Nabi Muhammad saw. Sunan Giri bin Maulana Ishaq bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad saw.

Pada masa kelahirannya, Sunan Giri mendapat sebuah cobaan dengan tuduhan dianggap sebagai penyebab munculnya wabah penyakit di wilayah Blambangan. Akhirnya Raden Paku (Sunan Giri) dihanyutkan ke laut oleh Prabu Menak Sembuyu kakek beliau sendiri. Peti besi berisikan bayi Raden Paku terombang-ambing terbawa arus laut hingga ditemukan oleh awak kapal di daerah Gresik dan akhirnya diadopsi oleh pemilik kapal, seorang saudagar perempuan yaitu Nyai Gede Pinatih yang memberikan nama bayi itu dengan Jaka Samudra.

Menginjak usia 12 tahun, Jaka Samudra dibawa oleh ibuya Nyai Gede untuk berguru dan belajar ilmu agama kepada Raden Rahmat (Sunan Ampel). Setelah beberapa lama menimba ilmu dari Sunan Ampel, melihat potensi murid kesayangannya, Sunan Ampel mengirim Jaka Samudra (Sunan Giri) bersama Sunan Bonang ke Pasai untuk memperdalam ilmu agama sebelum menunaikan keinginannya melaksanakan ibadah haji. Sampai di Pasai, mereka diterima oleh Maulana Ishaq yang tidak lain adalah ayah kandung Sunan Giri sendiri. Dari sini, Jaka Samudra mengetahui kisah masa kecilnya.

Setelah tiga tahun berguru pada ayahnya, Sunan Giri yang waktu itu juga terkenal dengan nama Raden Ainul Yaqin mendapat mandat dan amanat dari gurunya Maulana Ishaq untuk kembali ke tanah Jawa dan menyebarkan ajaran islam di sana. Maulana Ishaq memberikan bekal segumpal tanah kepada anaknya sebagai contoh tempat yang dikehendaki sang ayah. Dengan meminta pertologan Allah swt, akhirnya Raden Ainul Yaqin menemukan tempat yang sama dengan tanah yang diberikan ayahnya. Tempat itu adalah sebuah bukit di desa Sidomukti, Kebomas, Gresik yang akhirnya menjadi awal dari nama julukan beliau Sunan Giri, yang dalam bahasa jawa Giri berarti bukit atau gunung. Di tempat inilah Raden Ainul Yaqin mendirikan sebuah pesantren yang sekaligus menjadi pesantren pertama di kota Gresik.

Sejak itu, dengan bekal ilmu agama yang mumpuni, Sunan Giri mulai melaksanakan amanat dari gurunya untuk mengamalkan dan menyebarkan ajaran-ajaran islam. Seiring berjalannya waktu, metode dakwah Sunan Giri yang sesekali memadukan ajaran islam dengan karya seni yang indah mampu menarik perhatian banyak orang untuk mempelajari ajaran islam dan akhirnya menjadi santri beliau menetap di pesantren. Konon Raja Majapahit sampai memberikan wewenang pada Sunan Giri untuk mengatur pemerintahan. Raja Majapahit khawatir Sunan Giri akan mencetuskan pemberontakan pada kerajaan dengan jumlah pengikut yang banyak. Alhasil, pesantren Sunan Giri pada waktu itu tidak hanya menjadi pusat pembelajaran ajaran islam tapi juga menjadi pusat pengembangan peradaban masyarakat. Sampai akhirnya Sunan Giri juga mendapat julukan Prabu Satmata.

Mewarisi semangat perjuangan dakwah gurunya, santri-santri Sunan Giri juga menyebarkan ajaran islam dengan gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Datuk Ribandang dan dua sahabatnya yang sangat berpengaruh di Minangkabau, adalah Santri Sunan Giri.

Selain itu Sunan Giri juga pandai membuat permainan yang tidak hanya bernuansa budaya Jawa tapi juga sarat dengan nilai-nilai keislaman seperti Jelungan, Jamuran, Lir-ilir, Cublak Suweng, Pucung, dan Gending Asmaradana.

Setelah Sunan Giri wafat, beliau digantikan keturunanya, yaitu Sunan Dalem, Sunan Sedomargi, Sunan Giri Prapen, Sunan Kawis Guwa, Panembahan Ageng Giri, Panembahan Mas Witana Sideng Rana, Pangeran Singonegoro, dan Pangeran Singosari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here