Tiga Kitab Sahih Selain Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim

76

Sebenarnya banyak sekali kitab hadis yang bisa kita gunakan untuk mencari hadis sahih. Hanya saja, setelah melalui beberapa uji kelayakan, para ulama sepakat bahwa kitab hadis yang paling otoritatif berisikan hadis-hadis sahih adalah Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, atau yang biasa dikenal dengan nama al-Sahihayn. Setidaknya ada tiga kitab hadis lainnya yang oleh ulama diyakini mengakomodir hadis-hadis sahih selain dua kitab tersebut, yaitu: Sahih Ibn Khuzaymah, Sahih Ibn Hibban dan al-Mustadrak alas Sahihayn. Dalam nomenklatur ilmu hadis, ketiga kitab ini dikelompokkan dalam kitab “al-sahih al-mujarrad”.

Berikut profil singkat tiga kitab hadis tersebut;

1. Sahih Ibn Khuzaymah
Kitab Sahih ini dikarang oleh Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin Khuzaymah (w. 311 H./ 924 M.), atau yang lebih dikenal dengan nama Ibn Khuzaymah. Kitab ini ditulis hampir bersamaan dengan penulisan Sahih al-Bukhari. Namun, berbeda dengan Sahih al-Bukhari, Sahih Ibn Khuzaymah bukanlah kitab jami’. Artinya, ia tidak membahas seluruh isu dan permasalahan dalam Islam. Dalam Sahih Ibn Khuzaymah hanya termuat hadis-hadis ibadah saja. Selain dikenal sebagai seorang muhaddis, pengarangnya, Imam Ibn Khuzaimah, juga dikenal sebagai seorang yang memiliki kapasitas di bidang fiqih.

2. Sahih Ibn Hibban
Kitab ini ditulis oleh Muhammad bin Hibban, atau Imam Ibn Hibban (w. 354 H.). Hal yang paling unik dari kitab ini dan yang membedakannya dari kitab-kitab hadis lainnya adalah caranya menyajikan serta menyuguhkan hadis. Kitab Sahih Ibn Hibban tidak disusun sebagaimana bab dalam kitab hadis pada umumnya, yang berpijak pada tema fiqih. Kitab ini justru disusun berdasarkan, apa yang dinamakan, at-Taqasim wal Anwa’. Kitab ini mempermudah bagi pembaca yang hendak mencari hadis-hadis yang berkaitan erat dengan masalah fiqih atau ushul fiqih.

3. Al-Mustadrak ala-s-Sahihayn
Atau yang dikenal juga dengan nama al-Mustadrak lil Hakim. Kitab ini disusun oleh Imam al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H./ 1014 M.). Dinamakan al-mustadrak karena oleh pengarangnya kitab ini disediakan untuk mengakomodir hadis-hadis yang tersebar dan sesuai ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat keabsahan sebagaimana yang diterapkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, namun tidak dimasukkan ke dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim. Ya, Imam Hakim bertanya “masa sih hadis sahih hanya terbatas pada jumlah yag diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim?” Dengan menggunakan metode al-Bukhari dan Muslim, Imam Hakim kemudian menyaring banyak hadis yang tidak tercantum dalam kedua kitab sahih dan menyimpulkan bahwa hadis-hadis tersebut ternyata sahih.

Inilah tiga kitab hadis yang bisa kita manfaatkan dan kita baca, selain tentunya kitab Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim dan kitab hadis lainnya dalam daftar al-Kutub al-Sittah. Ketiga kitab hadis bisa kita jadikan rujukan untuk mencari hadis-hadis dengan derajat kesahihan yang bisa diterima.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here