Tradisi Jamas Pusaka dan Ganti Luwur

75

Popularitas Hari Asyuro sebagai hari yang istimewa tidak hanya bisa kita lihat dari anjuran-anjuran ibadah yang terdapat di dalamnya. Seperti berpuasa, melakukan shalat sunnah, membaca Surah al Ikhlas 1000x, dan amalan lainnya. Di kalangan masyarakat, khususnya di Indonesia, Hari Asyuro juga memiliki tempat yang spesial. Banyak sekali adat, kebiasaan dan tradisi yang diselenggerakan untuk menyambut dan merayakan kehadiran hari penting tersebut.

Bahkan, dari saking populernya, nama Asyuro dalam banyak kasus merupakan nama yang mewakili Bulan Muharram. Masyarakat lebih mengenal Bulan Suro, Suroan atau Sorah (red: Madura), dibandingkan nama Muharram. Bagi sebagian besar masyarakat Nusantara, Suro artinya ya bulan pertama dalam penanggalan tahun hijriyah. Ia mewakili keseluruhan hari dalam bulan Muharram.

Pada kesempatan kali ini, akan disuguhkan beberapa tradisi, adat dan kebiasaan masyarakat Nusantara dalam menyambut Asyuro atau Suro. Di balik tradisi-tradisi tersebut, kalau kita sadari betul, tersimpan pelajaran-pelajaran penuh hikmah terkait kehidupan, khususnya dalam proses mematangkan diri untuk bersiap menyambut tahun yang baru.

Mari kita berangkat ke Kudus:

Kota yang dikenal dengan sebutan Kota Kretek, Kota Huffadz dan Kota Para Wali ini memiliki tradisinya sendiri ketika Suro datang. Tradisi yang paling unik dan menarik untuk disaksikan adalah tradisi yang secara turun temurun di lakukan di areal makam Sunan Kudus. Tak jarang, di momentum tahunan ini, banyak sekali wisatawan yang datang sengaja hanya untuk melihat prosesi tradisi Suro tersebut.

Jamas Pusaka yang pertama. Yaitu memandikan dan membersihkan beberapa pusaka yang terdapat di Masjid Menara, yang merupakan warisan langsung dari Sunan Kudus. Bersamaan dengan Jamas Pusaka, ada juga tradisi lepas-pasang Luwur. Luwur sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti kain klambu. Yaitu kain klambu (biasanya berwarna putih), yang menutupi area makam Sunan Kudus. Nah kain klambu atau luwur ini diganti setahun sekali pas Bulan Suro.

Selain itu, pihak Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus juga biasanya membagi-bagikan nasi kucing kepada masyarakat yang hadir dalam proses acara Jamas Pusaka dan Lepas-Pasang Luwur tersebut.

 

Baca Juga: Tradisi Grebeg Tumpeng Suro dan Sapi-Sapian di Banyuwangi

 

Tradisi Jamas Pusaka sendiri sejatinya tidak hanya ada di Kudus. Di seluruh wilayah yang terdapat benda pusaka, tradisi ini lumrah dilakukan di malam 1 suro. Tradisi Jamas Pusaka meliputi acara memandikan dan membersihkan benda pusaka, menguapinya dengan asap dan wewangian lalu mendoakannya.

Begitu juga dengan tradisi Lepas-Pasang atau Ganti Luwur. Hampir di seluruh makam Walisongo tradisi tersebut dilakukan. Selain untuk mengganti kain yang sudah terpakai selama setahun penuh, Tradisi Ganti Luwur juga merupakan bentuk penghormatan kepada tokoh yang berkontribusi besar kepada masyarakat, yaitu sang Sunan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here