UAS Berhak Bicara Apapun, Anda Berhak Tersinggung, dan UAS Berhak untuk Tidak Peduli.

UAS juga sama seperti orang pada umumnya, yang punya hak dan kebebasan berbicara, berpendapat dan keyakinan. Sebagaimana prinsip Raditya Dika, UAS berhak bicara apapun, orang berhak tersinggung, dan UAS berhak untuk tidak peduli.

95
Hak UAS Minta Maaf atau Tak peduli

harakah.id – Riuh viralnya video UAS (Ustaz Abdul Somad) di dunia maya bukan lagi soal benar atau salah, bukan pula tentang ruang privat dan publik tempat UAS bicara, tapi soal perlu atau tidaknya UAS minta maaf. Ia sendiri sudah menyatakan tidak akan minta maaf dengan alasan di video itu ia menjelaskan akidah Islam dalam forum tertutup di komunitas Muslim di dalam masjid.

“Saya menjelaskan tentang akidah agama saya di tengah komunitas Umat Islam, di dalam rumah Ibadah saya. Bahwa kemudian ada yang tersinggung dengan penjelasan saya, apakah saya mesti meminta maaf?” kata UAS di Kantor MUI, Jakarta, Rabu (21/8/2019).

Atas pendiriannya untuk tidak minta maaf, ia mengutip surah Al-Maidah ayat 73. Ia mengatakan, jika dirinya minta maaf, maka ayat itu mesti dibuang. “Dalam Islam dikatakan; Laqad kafarallazina qalu innallaha salisu salasah, wa ma min ilahin illa ilahuw waid, wa il lam yantah ‘amma yaqlna layamassannallazina kafar min-hum ‘azabun alim, sesungguhnya ‘maaf’ kafirlah orang yang mengatakan Allah itu 3. Saya jelaskan itu di tengah umat Islam, lalu orang yang mendengar itu tersinggung atau tidak? Tersinggung. Apakah perlu saya minta maaf? Kalau saya minta maaf, berarti ayat itu musti dibuang. Nauzubillah,” ujarnya.

Pada artikel sebelumnya berjudul, “Ustaz Abdul Somad (UAS), Cancel Culture, dan Stand Up Comedian telah disinggung persamaan antara stand up comedian dengan para pendakwah, dai, atau ustaz seperti UAS. Kita paham dalam dunia komedi, tak terkecuali stand up, sangat mungkin terjadi ada orang tersinggung atas joke yang dibawakan komedian atau komika. Di sisi lain, para komika/komedian, termasuk juga dai, ustaz, atau penceramah sebagaimana UAS, tidak mungkin mau dikekang untuk membicarakan pendapat dan keyakinannya kepada audien. Oleh karena itu, Raditya Dika selaku komika berprinsip, “Gue berhak berbicara apapun, orang berhak tersinggung, dan gue berhak untuk tidak peduli.”

Ketika ada orang yang tersinggung dan meminta pertanggungjawaban, Raditya Dika dan juga Pandji Pragiwaksono menyatakan, siap minta maaf. Bukan minta maaf atas joke-nya, tapi minta maaf karena telah membuat orang bersangkutan tersinggung. Sembari, mereka meyakinkan bahwa tidak ada niat untuk membuat orang tersinggung.

Meski demikian, para komika dalam setiap show-nya  sangat hati-hati terhadap rekaman yang akan tersebar ke publik. Mereka sadar bahwa ketika sebuah video diunggah dan tersebar di YouTube serta media sosial, maka  tidak lagi berada di ranah privat tapi sudah di wilayah umum.

Baca Juga: UAS, Ruang Privat dan Ruang Publik.

Demikian halnya dengan UAS. Ia boleh berdalih bahwa apa yang ia sampaikan di video itu adalah untuk kepentingan kelompok atau komunitas Muslim. Lokasinya pun di masjid dengan audien yang homogen. Benar. Tapi, yang tidak ia katakan atau sadari, tausiyahnya saat menjawab pertanyaan jamaah itu direkam dan divideokan. Ia pasti paham bahwa video itu akan disebarluaskan. Terlebih, menurut penuturannya, ceramah itu baru ia sampaikan tiga tahun silam. Artinya, ia sudah sadar adanya media sosial dan youtube. Ia tahu rekaman video tersebut sangat mungkin tersebar ke platform-platform digital.

Saat sampai di YouTube dan media sosial, maka hilanglah status privat dari penyampaian UAS di video itu. Orang umum bisa saja menggunakannya untuk saling ejek dan saling serang. Misalnya, ada oknum Muslim yang mengirimkan link video tersebut kepada saudara non-Muslim. Atau dibagikan ke grup-grup, yang isinya plural dan heterogen secara keyakinan dan agama. Tujuan penyebaran video oleh masing-masing orang bisa beragam. Begitu pula efeknya bisa sangat beraneka macam, cenderung kisruh dan kacau. Dari situ bisa timbul saling ejek dan segala macam.

Kemudian soal keyakinan UAS bahwa kalau dia minta maaf berarti sama dengan harus menghapus ayat 73 QS. Al-Maidah, menurut penulis, itu kurang tepat. Permintaan maaf yang dituntut warganet bukanlah permintaan menghapus QS Al-Maidah ayat 73. Tapi karena videonya bocor ke publik, yang harusnya untuk kalangan sendiri, dan membuat gaduh dan menyinggung umat agama lain.

Sebagai seorang alim, yang telah berpuluh-puluh tahun belajar dan berdakwah, tentu UAS paham akan hal itu. Allah sendiri menyatakan, seandainya Dia ingin menjadikan manusia satu golongan satu pemahaman satu keyakinan, itu bukan perkara sulit alias sangat mudah banget bagi Allah. Tapi memang Allah menghendaki manusia berbeda-beda.

“Kalau Allah Menghendaki, niscaya kamu Dijadikan- Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak Menguji kamu terhadap karunia yang telah Diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.”
(Al-Ma’idah 48)

Baca Juga: UAS, Salib dan Algoritma.

Dalam perbedaan itu, ada hal-hal mendasar yang bisa saling bertentangan bila bersinggungan langsung di ranah publik. Salah satunya soal akidah. Ini soal kebenaran yang kita yakini masing-masing, yang harusnya benar-benar privat, ibaratnya menjadi urusan dapur bukan untuk disuguhkan di etalase ruang tamu.

Kebenaran itu input ke dalam diri, sedangkan output-nya adalah kebaikan, keindahan, dan keramahan kepada sesama manusia, sebangsa, setanah air, kepada alam semesta. Juga kepada tetangga, tak hanya tetangga rumah dan kompleks, tapi juga tetangga pemikiran, tetangga keyakinan. Makanya, ada beberapa orang yang sering menyebut kaum yang beda pemikiran dengan istilah kelompok sebelah, tetangga sebelah, grup sebelah dan sebagainya.

Lepas dari itu semua, UAS juga sama seperti orang pada umumnya, yang punya hak dan kebebasan berbicara, berpendapat dan keyakinan. Jika menurut keyakinannya ia wajib untuk tidak maaf, maka ikhlaskanlah UAS untuk tidak minta maaf. Itu hak kebebasan dan keyakinan beliau. Sebagaimana prinsip Raditya Dika, UAS berhak bicara apapun, orang berhak tersinggung, dan UAS berhak untuk tidak peduli.[]

Baca Juga: Begini Menyikapi Viral Video UAS tentang Salib.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here