Beranda Keislaman Akidah 10 Praktik Al-Wala’ Wal Bara’ Terhadap Non-Muslim Menurut Syekh Shalih Fauzan

10 Praktik Al-Wala’ Wal Bara’ Terhadap Non-Muslim Menurut Syekh Shalih Fauzan

Harakah.idSyekh Shalih Fauzan, tokoh yang cukup dihormati kalangan Wahabi, menegaskan pentingnya konsep Al-Wala’ Wal-Bara’. Ia menyebutnya sebagai bagian dari prinsip-prinsip akidah Islam (Ushul Al-Aqidah Al-Islamiyah). Inilah 10 praktik Al-Wala’ Wal-Bara’ terhadap Non-Muslim menurut Syekh Shalih Fauzan.

Salah satu ajaran yang dianggap penting dalam kelompok Wahabi adalah Al-Wala’ Wal-Bara’. Sekalipun memiliki penafsiran yang berbeda-beda, tetapi ia telah menjadi ajaran bersama kelompok ini. Salah satu penulis kitab Al-Wala’ Wal-Bara’ adalah Syekh Shalih Fauzan Al-Fauzan.

Syekh Shalih Fauzan menerbitkan buku berjudul Al-Wala’ Wal-Bara’ Fil Islam pada tahun 1411 H./ 1990 M. Buku beliau hanya berjumlah 36 halaman. Lebih tipis dibanding karya dengan judul yang sama rilisan Syekh Muhammad Said Al-Qahthan yang mencapai 480-an halaman yang terbit pada 1402 H./1981 M. Sampai tahun 1413 H, artinya selama 10 tahun, karya yang terakhir ini telah dicetak sebanyak enam kali.

Apa isi kitab Al-Wala’ Wal-Bara’ karya Syekh Shalih Fauzan?

Syekh Shalih Fauzan, tokoh yang cukup dihormati kalangan Wahabi, menegaskan pentingnya konsep Al-Wala’ Wal-Bara’. Ia menyebutnya sebagai bagian dari prinsip-prinsip akidah Islam (Ushul Al-Aqidah Al-Islamiyah). Setiap Muslim, menurutnya, wajib berpegang kepada akidah ini. Syekh Shalih Fauzan menjelaskan pengertian Al-Wala’ Wal-Bara’ dengan ungkapannya,

أن يوالي أهلها ويعادي أعداءها فيحب أهل التوحيد والإخلاص ويواليهم ويبغض أهل الإشراك ويعاديهم وذلك من ملة إبراهيم والذين معه الذين أمرنا بالاقتداء بهم

Menolong pengikut akidah ini dan memusuhi musuh-musuhnya. Mencintai ahli tauhid dan kemurniannya, menolong mereka. Membenci pelaku syirik dan memusuhinya. Itulah agama Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya. Yaitu orang-orang yang kita diperintahkan mengikuti mereka. (hlm. 3)

Kitab ini terdiri dari tiga bagian utama; Mazhahir Muwalatil Kuffar (Praktik Muwalah terhadap Non Muslim), Mazhahir Muwalatil Mukminin (Praktik Muwalah terhadap kaum Mukmin), dan Aqsamun Nas Yajib Fi Haqqihim Minal Wala’ Wal-Bara’ (Ragam Manusia yang menjadi objek Wala’ Wal-Bara’).

Mazhahir Muwalatil Kuffar berarti fenomena bermuwalah dengan orang-orang kafir menjadi bagian pertama buku. Muwalatul Kuffar merupakan perkara yang dilarang dalam pandangan Syekh Shalih Fauzan. Ada 10 praktik Wala’ yang dilarang dalam hal ini;

  1. Menyerupai Non Muslim dalam pakaian, makanan, ucapan dan lainnya
  2. Tinggal di Negara Non Muslim, dan tidak pindah ke Negara umat Islam guna menyelamatkan agama
  3. Berwisata ke Negara mereka untuk bersenang-senang dan rekreasi
  4. Membantu dan menolong mereka menyerang umat Islam, memuji mereka, dan membela mereka
  5. Minta pertolongan kepada mereka, memberi kepercayaan pada mereka, mengangkat mereka untuk jabatan yang dapat membuka rahasia umat Islam, serta menjadikan mereka sebagai penasihat
  6. Menggunakan sistem kalender mereka, khususnya kalender yang terdapat syiar agama mereka seperti kalender Masehi
  7. Membersamai mereka dalam hari raya mereka, membantu mereka merayakannya, mengucapkan selamat pada saat hari raya, atau menghadiri perayaan mereka
  8. Memuji kemajuan masyarakat dan peradaban mereka, kagum terhadap etika dan profesionalitas mereka, tanpa memandang agama dan keyakinan mereka yang rusak
  9. Menggunakan nama ala Non Muslim
  10. Memintakan ampunan untuk mereka (istigfar) dan memintakan rahmat Allah untuk mereka (tarahhum).

Melihat 10 poin praktik muwalah dengan Non Muslim yang diharamkan di atas, bias dipahami, sejatinya Al-Wala’ Wal-Bara’ dalam pandangan Syekh Shalih Fauzan bukan masalah akidah atau prinsip-prinsip akidah. Tetapi, lebih berkaitan dengan hukum-hukum agama Islam atau fikih Islam. Menempatkan Al-Wala’ Wal-Bara’ sebagai “ushulul aqidah islamiyah”, seperti disebut di atas, agaknya terlalu berlebihan. Hal ini karena, 10 poin yang disebutkan berkaitan muwalah dengan Non Muslim lebih berkaitan dengan perilaku daripada keyakinan. Istilah yang digunakan juga lebih sering menggunakan “haram” dan “mubah” yang merupakan nomenklatur hukum Islam (fikih), daripada “Kafir” dan “Mukmin” yang menjadi istilah yang khas dalam kajian akidah.

Kitab ini dikarang pada tahun 90-an. Dimana untuk hari ini, agaknya sebagian di antaranya dianggap sudah tidak relevan. Terlebih dalam lingkungan masyarakat yang majemuk dan terdiri dari banyak agama seperti Indonesia.

Umat Islam Indonesia perlu menghargai jerih payah Syekh Shalih Fauzan untuk menjaga akidah umat Islam. Tetapi, bukan berarti umat Islam Indonesia harus taqlid buta terhadap hasil ijtihad beliau. Ini karena, bagaimana pun, penjelasan dalam kitabnya tersebut pada umumnya merupakan bentuk pemikiran yang mencoba mengambil pesan-pesan kitab suci. Tetapi, setiap pemikiran memiliki batas-batas zaman dan budaya.

Klaim Al-Wala’ Wal-Bara’ sebagaimana dijelaskan Syekh Shalih Fauzan sebagai prinsip-prinsip akidah perlu direvisi. Karena, nyatanya ia adalah pembahasan masalah cabang agama. Bukan prinsip. Masalah perilaku, bukan keyakinan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...