Beranda Headline 2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.idMuslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak mulia.

Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja. Muslimah bekerja bukan hanya ada di zaman modern. Dalam sejarah Islam awal, dikenal beberapa orang perempuan Muslim yang aktif bekerja. Bahkan, istri-istri Nabi Muhammad SAW sendiri adalah para perempuan yang aktif bekerja. Mereka yang disebut “Ummahatul Mukminin”, ibunda kaum beriman, tidak jarang merupakan perempuan-perempuan dengan keahlian profesional tertentu.

Dalam Islam, ummahatul mukminin merupakan perempuan yang sangat mulia. Ada keistimewaan tersendiri bagi mereka melebih keistimewaan para sahabat Nabi pada umumnya. Mereka juga teladan bagi perempuan-perempuan beriman.

Berikut ini adalah Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja yang dapat menjadi teladan bagi kaum Muslimah saat ini yang memilih bekerja.

Khadijah binti Khuwailid, Pebisnis dan Investor Ulung

Berbicara tentang Muslimah bekerja di zaman Nabi Muhammad SAW, tidak dapat dilepaskan dari Muslimah pertama dalam sejarah. Khadijah binti Khuwailid. Beliau adalah istri pertama Nabi Muhammad SAW.

Muslimah pertama dalam sejarah yang percaya dengan kerasulan Nabi Muhammad. Khadijah hidup bersama Nabi Muhammad SAW dengan mempraktikkan monogami selama puluhan tahun. Sejak Nabi berusia 25 tahun sampai 53 tahun.

Menggambarkan Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja, Ibnu Hisyam (w. 213 H.) dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam mengatakan;

قَالَ ابْنُ إسْحَاقَ: وَكَانَتْ خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ امْرَأَةً تَاجِرَةً ذَاتَ شَرَفٍ وَمَالٍ.

Ibnu Ishaq (w. 150 H.) berkata; Khadijah binti Khuwailid adalah seorang perempuan pedagang yang terhormat dan sukses. (Sirah Ibnu Hisyam, 1/8).

Baca juga: Sejarah Lengkap Peran Dan Kontribusi Khadijah Binti Khuwaylid Dalam Menyukseskan Dakwah Nabi Muhammad

Ibnu Hisyam menggambarkan praktik bisnis Khadijah yang di kemudian hari menjadi landasan system investasi dalam Islam. Ibnu Hisyam menulis,

تَسْتَأْجِرُ الرِّجَالَ فِي مَالِهَا وَتُضَارِبُهُمْ إيَّاهُ، بِشَيْءٍ تَجْعَلُهُ لَهُمْ، وَكَانَتْ قُرَيْشٌ قَوْمًا تُجَّارًا، فَلَمَّا بَلَغَهَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا بَلَغَهَا، مِنْ صَدْقِ حَدِيثِهِ، وَعِظَمِ أَمَانَتِهِ، وَكَرَمِ أَخْلَاقِهِ، بَعَثَتْ إلَيْهِ فَعَرَضَتْ عَلَيْهِ أَنْ يَخْرُجَ فِي مَالٍ لَهَا إلَى الشَّامِ تَاجِرًا، وَتُعْطِيهِ أَفَضْلَ مَا كَانَتْ تُعْطِي غَيْرَهُ مِنْ التُّجَّارِ، مَعَ غُلَامٍ لَهَا يُقَالُ لَهُ مَيْسَرَةَ، فَقَبِلَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهَا، وَخَرَجَ فِي مَالِهَا ذَلِكَ، وَخَرَجَ مَعَهُ غُلَامُهَا مَيْسَرَةُ حَتَّى قَدِمَ الشَّامَ.

Khadijah mempekerjakan para pria untuk mengelola uangnya. Dia berinvestasi kepada mereka dengan uangnya, dengan memberikan keuntungan untuk mereka. Suku Quraisy adalah kaum pedagang. Ketika sampai kepada Khadiah informasi tentang kepribadian Muhammad yang jujur, amanah dan berakhlak mulia, Khadijah mengirim orang kepada Muhammad. Ia menawarkan kepada Muhammad untuk membawa komoditasnya menunju Suriah untuk diperdagangkan. Khadijah berjanji akan memberi komisi yang lebih besar dibanding yang biasa diberikan kepada para pedagang Quraisy lainnya. Muhammad nanti akan dikawal seorang pemuda bernama Maisarah. Nabi Muhammad SAW menerima tawaran Khadijah. Beliau berangkat membawa barang dagangan Khadijah. Bersama dengan pemuda Maisarah, Muhammad SAW sampai di Suriah. (Sirah Ibnu Hisyam, 1/188).

Dari teks di atas dapat diambil beberapa pelajaran. Pertama, Khadijah merupakan seorang pebisnis sukses dan terpandang. Kedua, bisnisnya dikelola dengan mempekerjakan para pria melalui sistem jual jasa (ijarah) dan membagi hasil keuntungan (mudharabah). Ketiga, Khadijah bahkan pernah mempekerjakan Rasulullah sebelum beliau diangkat menjadi rasul. Keempat, Khadijah adalah sosok yang tahu ilmu bisnis dan profesionalitas. Karena itu, dia selalu mencari partner bisnis yang dapat dipercaya (amanah), jujur (shidqu), dan punya etika yang baik (akhlakul karimah).    

Berdasar keterangan di atas, bisa dikatakan bahwa Muslimah bekerja pertama adalah Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah SAW. Keberadaan Muslimah bekerja tidak dilarang sampai Rasulullah SAW wafat di Madinah puluhan tahun kemudian.

Zainab binti Jahsyi, Perempuan Produsen Tekstil yang Dermawan

Selain Khadijah, ada Muslimah lain di zaman Nabi Muhammad yang dikenal aktif bekerja. Selain itu, ia juga memiliki jiwa sosial yang sangat tinggi. Ia adalah Zainab binti Jahsyi. Ia juga istri Nabi Muhammad SAW. yang menjadi Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja.

Imam Muslim bin Hajjaj (w. 261 H.) meriwayatkan,

عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ – رضي الله عنها – قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَسْرَعُكُنَّ لَحَاقًا بِي أَطْوَلُكُنَّ يَدًا قَالَتْ فَكُنَّ يَتَطَاوَلْنَ أَيَّتُهُنَّ أَطْوَلُ يَدًا قَالَتْ فَكَانَتْ أَطْوَلَنَا يَدًا زَيْنَبُ لِأَنَّهَا كَانَتْ تَعْمَلُ بِيَدِهَا وَتَصَدَّقُ.

Dari Aisyah, Ummul Mukminin, semoga Allah menerima perjuangannya. Beliau berkata, “Rasulullah SAW pernah berkata, ‘Yang paling cepat menyusulku dari kalian adalah yang paling panjang tangannya.’” Aisyah berkata, “Kami saling membandingkan tangan-tangan kami, mana yang paling panjang.” Aisyah melanjutkan, “Ternyata yang paling panjang tangannya adalah Zainab, karena dia bekerja dengan tangannya sendiri dan menyedekahkannya.” (HR. Muslim).

Imam al-Hakim (w. 405 H.) meriwayatkan,

عن عائشَةَ قالَتْ قال رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم لأزواجِه: أسرَعُكُنَّ لُحوقًا بي أطوَلُكُنَّ يدًا. قالَتْ عائشَةُ: فكُنَّا إذا اجتمَعْنا في بيتِ إحدانا بعدَ وَفاةِ رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم نَمُدُّ أيدِيَنا في الجِدارِ نتَطاوَلُ ، فلم نزَلْ نَفعَلُ ذلك حتى تُوُفِّيَتْ زَينَبُ بنتُ جَحشٍ – وكانتِ امرأَةً قصيرَةً ولَم تكُنْ أطوَلَنا – فعرَفْنا حينئِذٍ أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إنَّما أراد بطولِ اليَدِ الصدَقَةَ ، وكانتْ زَينَبُ امرأَةً صنَّاعَةً باليَدِ ، وكانتْ تَدبُغُ وتَخرِزُ وتتصَدَّقُ في سبيلِ اللهِ

Dari Aisyah yang berkata, “Rasulullah SAW pernah berkata kepada istri-istrinya; yang paling cepat menyusulku adalah yang paling panjang tangannya.” Aisyah berkata, “Ketika kami berkumpul di rumah salah satu dari kami, setelah wafatnya Rasulullah SAW, kami memanjangkan tangan-tangan kami di tembok, kami beradu panjang. Kami terus melakukan hal semacam itu sampai Zainab bintu Jahsyi wafat. Ia adalah perempuan yang pendek tangannya. Bukan yang paling panjang di antara kami. Kami menyadari saat itu bahwa maksud Nabi SAW dengan istilah ‘panjang tangan’ adalah banyak bersedekah. Zaibab adalah perempuan yang banyak bekerja dengan tangannya sendiri. Dia menyamak kulit dan memintal kain. Dia menyedekahkannya untuk mendukung agama Allah. (HR. Al-Hakim).

Baca juga: Zainab Bintu Jahsy, Profil Ketakwaan dan Kedermawanan

Zainab binti Jahsyi, istri Nabi Muhammad SAW, adalah seorang Muslimah bekerja yang hidup di Madinah. Beliau wafat pada tahun 20 H. Sekitar sepuluh tahun setelah wafatnya Rasulullah. Dia setelah Rasulullah wafat, dia tidak mengandalkan bantuan orang lain. Ia memiliki keahlian. Dan dia bekerja. Dalam Riwayat di atas, ia digambarkan sebagai Shanna’ah. Kata ini diambil dari kata shana’a yang berarti membuat sesuatu. Shina’ah berarti teknik membuat sesuatu atau manufaktur. Shanna’ah adalah ahli manufaktur. Dalam hal ini, keahlian Zainab adalah di bidang tekstil dengan bahan kulit dan sutera.

Selain memiliki kemandirian ekonomi, Zainab memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia bekerja tidak untuk dirinya sendiri, tetapi untuk dibagikan pula kepada orang-orang yang membutuhkan. Aisyah menceritakan kemuliaan Zainab dengan mengatakan, Ta’mal Bi Yadiha Wa Tatashaddaq (Dia bekerja dengan tangannya, dan dia menyedekahkannya).

Demikian informasi seputar Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja. Keduanya selain melakoni hidup sebagai Muslimah bekerja, juga memiliki jiwa spiritual dan sosial yang tinggi. Semoga Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak mulia.

*Artikel ini merupakan hasil kerja sama Harakah.ID dengan Rumah KitaB dalam program Investing in Women untuk mendukung perempuan bekerja.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...