3 Fakta Unik Mengenai Kehidupan Imam asy-Syafi’i, Yatim, Miskin dan Bukan Keluarga Ulama

0
146

Harakah.idMereka yang pernah membaca sirah atau sejarah al-Imam asy-Syafi’i dengan teliti akan mengetahui tiga hal. Apa saja itu?

Mereka yang pernah membaca sirah atau sejarah al-Imam asy-Syafi’i dengan teliti akan mengetahui tiga hal;

1. Ayah al-Imam asy-Syafi’i meninggal dunia tidak lama setelah al-Imam asy-Syafi’i dilahirkan. Jadi, beliau menjadi anak yatim sejak bayi. Masa kecil beliau tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang ayah.

2. Al-Imam asy-Syafi’i tidak dilahirkan dari keluarga ahli ilmu (tetapi ibu beliau sangat mencintai ilmu). Ayah beliau bukan seorang ahli hadits. Paman-pamannya bukan juga ahli tafsir atau ahli fikih. Tidak banyak yang menceritakan kehidupan ayah beliau. Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolani pernah berbicara tentang ayah al-Imam asy-Syafi’i bahwa sang ayah asalnya dari kota Madinah, akan tetapi karena melihat sesuatu yang membuat beliau tidak nyaman di kota Madinah, akhirnya beliau pindah ke kota Asqolan, Palestina. Beliau tinggal di sana sampai meninggal dunia di sana. “Tidak ada cerita yang tertulis di kitab-kitab biografi al-Imam asy-Syafi’i yang membahas kehidupan ayah al-Imam asy-Syafi’i melebihi ini”. Kata asy-Syaikh Akram al-Qawasimi. Bahkan cerita tentang kakek Imam Syafi’i yang bernama al-Abbas pun tidak beliau temukan.

Intinya, al-Imam asy-Syafi’i tidak terlahir dari keluarga yang terkenal sebagai para ulama.

3. Sejak kecil al-Imam asy-Syafi’i menjalani kehidupannya sebagai anak yatim yang sangat miskin. Betapa beratnya kondisi yang dialami beliau. Sudah yatim, tidak mendapatkan kasih sayang sang ayah, beliau masih menanggung ujian berupa kemiskinan. Rahimakallah ya Imam…

Dari tiga poin tersebut, bisa kita pahami bahwa satu-satunya yang menjadi sebab al-Imam asy-Syafi’i mencintai ilmu dan semangat dalam belajar adalah motivasi dari seorang ibu yang sampai sekarang belum diketahui siapa namanya. Ada riwayat yang mengatakan bahwa nama ibu beliau adalah Fatimah, keturunan keempat dari Sayyid Ali radiyallah al-jami’. Tetapi Imam al-Baihaqi dan Imam ar-Razi menilai riwayat tersebut tidak bisa diterima.

Sang Ibu yang berasal dari Azd tersebut tidak mengarahkan al-Imam asy-Syafi’i untuk berdagang atau fokus kepada pekerjaan lainnya padahal mereka berdua hidup dalam kesusahan.

Terkait dengan masalah kemiskinan tersebut, al-Imam asy-Syafi’i pernah mengisahkannya; “Aku adalah anak yatim yang tinggal bersama seorang ibu. Ibu membawaku ke Kuttab (semacam tempat belajar membaca dan menulis) tetapi ibu tidak memiliki apapun yang bisa digunakan untuk membayar guruku. Saat aku sudah selesai menghafalkan al-Quran, aku ikut duduk di kajian-kajian para ulama di Masjidil Haram tetapi lagi-lagi ibuku tidak mampu membelikanku buku. Oleh karena itu, aku mulai mencari tulang-tulang untuk dijadikan sebagai ganti buku. Setelah tulang itu penuh dengan tulisan, aku letakkan di gentong besar hingga akhirnya gentong itu penuh dengan tulang-tulang.”

Asy-Syaikh al-Qawasimi mengatakan bahwa ketiga poin di atas bukanlah hal yang dapat menjamin seseorang mendapatkan ilmu.

Bisa dilihat di al-Madkhal karya asy-Syaikh al-Qawasimi.

Artikel “3 Fakta Unik Mengenai Kehidupan Imam asy-Syafi’i, Yatim, Miskin dan Bukan Keluarga Ulama” bersumber dari catatan FB Saeful Rahman.