4 Etika Makan yang Sering Terlupakan, Padahal Berpahala dan Menyehatkan

0
101

Harakah.id Sebagai seorang muslim terkadang kita lupa terhadap etika-etika yang telah ditetapkan oleh Islam.

Makan merupakan kebutuhan pokok yang menunjang keberlangsungan hidup semua makhluk hidup, termasuk kita sebagai manusia. Setiap hari kita tidak pernah terlepas dari aktifitas yang satu ini. Baik ketika di rumah, ketika bertamu ke rumah tetangga, ketika hangout bersama teman-teman, dan lain sebagainya. Saking seringnya, sebagai seorang muslim terkadang kita lupa terhadap etika-etika yang telah ditetapkan oleh Islam melalui sabda utusan-Nya, yakni Rasulullah SAW.

Islam merupakan agama terlengkap yang mengatur seluruh sendi kehidupan manusia. Mulai dari hal terkecil, sampai hal-hal yang sifatnya besar atau kompleks. Tak terkecuali hal-hal yang sifatnya rutinitas harian seperti aktifitas makan ini. Rasulullah SAW sebagai utusan yang membawa risalah Islam telah memberikan teladan dengan sebaik-baiknya, termasuk bagaimana etika yang harus diperhatikan oleh seorang muslim ketika makan. Etika yang beliau contohkan sejatinya tidak hanya sekedar etika. Setelah dilakukan penelitian, ternyata etika-etika tersebut sangat sesuai dengan anjuran dari ahli kesehatan dan dapat mencegah dari datangnya berbagai penyakit.

Bagaimana etika yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW? Simak penjelasannya dalam uraian berikut.

  1. Makan menggunakan tangan

Seiring perkembangan zaman, seringkali kita makan dengan menggunakan alat makan seperti sendok, sumpit, dan lain sebagainya. Cara makan dengan menggunakan alat tersebut oleh sebagian orang dianggap lebih praktis dan higienis. Padahal, Rasulullah SAW telah mencontohkan etika makan dengan menggunakan tangan, lebih tepatnya dengan menggunakan tangan kanan. hal ini sebagaimana tercantum dalam hadits berikut.

إذا أَكَلَ أحدُكُم فليأكلْ بيمينِهِ . وإذا شرِبَ فليشربْ بيمينِهِ . فإنَّ الشَّيطانَ يأكلُ بشمالِهِ ويشربُ بشمالِهِ

“Jika seseorang dari kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya dan jika minum maka minumlah dengan tangan kanannya. Karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya”. (HR. Muslim no.2020)

Dalam hadits lain, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW makan dengan menggunakan tiga jari, lalu menjilati tangan tersebut sebelum membersihkannya. Dalam Shahih muslim disebutkan “Menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, mengabarkan kepada kami Abu Muawiyah dari Hisyam bin Urwah dari Abdurrahman bin Sa’ad dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya yang berkata, ‘Rasulullah SAW itu makan menggunakan tiga jari dan menjilati jari-jari tersebut sebelum membasuhnya”.

Hal ini bukan berarti kita tidak boleh makan dengan menggunakan empat, atau lima jari, karena penggunakan tiga jari ini hanyalah—sebagaimana disebutkan oleh Abdul Syukur al-Azizi dalam bukunya Hadits-Hadits Sains—sebuah kiasan yang menunjukkan ketawadhu’an beliau dan sifat beliau yang tidak rakus terhadap makanan.

Secara medis, makan menggunakan tangan juga berdampak positif terhadap kesehatan. Di antaranya dapat mengikat pergerakan bakteri, mencegah diabetes tipe 2, membantu kinerja sistem pencernaan, dan kita bisa lebih menikmati makanan yang dikonsumsi.

  1. Larangan Makan dan minum sambil berdiri

Saat ini, makan dan minum sambil berdiri sudah menjadi pemandangan yang tidak asing lagi. Baik dilakukan oleh anak kecil, remaja, bahkan orang dewasa. Tidak hanya sambil berdiri, bahkan makan dan minum sambil berjalan pun seakan menjadi pemandangan yang tampak ‘biasa saja’. Padahal, jangankan makan dan minum sambil berjalan, makan dan minum sambil berdiri saja sudah dilarang oleh Rasulullah SAW. Sebagaimana hadits yang diceritakan Anas bin Malik berikut ini.

عَنِ النَّبيِّ صَلَّى اللَّهُ عليه وَسَلَّمَ: أنَّهُ نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا. قالَ قَتَادَةُ: فَقُلْنَا: فَالأكْلُ، فَقالَ: ذَاكَ أَشَرُّ، أَوْ أَخْبَثُ

Diceritakan dari Anas bin Malik, dari Nabi SAW bahwasannya Nabi SAW melarang seseorang minum sambil berdiri. Qatadah bertanya: “bagaimana dengan makan (sambi berdiri)?” Anas menjawab: “Itu lebih parah dan lebih jelek”. (HR. Muslim no. 2024)

Jika ditinjau dari segi kesehatan, Dr. Abdurrazzaq al-Kailani mengatakan “Minum dan makan sambil duduk itu lebih sehat, lebih selamat, dan lebih sopan. Ini karena yang diminum atau dimakan oleh seseorang akan berjalan pada dinding usus secara perlahan dan lembut.

Sedangkan minum sambil berdiri bisa menyebabkan jatuhnya cairan dengan keras ke dasar usus dan menabraknya dengan keras. Jika hal ini terjadi berulang kali dalam waktu lama, maka dapat menyebabkan melar dan jatuhnya usus sehingga mengakibatkan disfungsi pencernaan”. Naudzubillahi min Dzalik.

  1. Tidak meniup makanan dan minuman yang panas

Ketika makanan atau minuman dalam kondisi panas, seringkali kita meniupnya karena ingin cepat-cepat memakan/meminumnya. Padahal, di samping tidak sehat jika ditinjau dari segi kesehatan, hal ini juga telah dilarang oleh Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Abdullah bin Abbas berikut ini.

أنَّ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ نهَى أن يُتنفَّسَ في الإناءِ أو يُنفَخَ فيه

Sesungguhnya Nabi SAW melarang bernafas di dalam gelas atau meniup isi gelas. (HR. Tirmidzi no.1888)

Secara ilmiah, larangan ini sangat masuk akal karena beberapa penelitian di era modern telah membuktikan bahwa meniup makanan atau minuman yang panas ternyata dapat membahayakan kesaehatan. Hal ini karena udara yang kita tiupkan adalah udara yang telah rusak dan penuh dengan karbon dioksida (CO2).

  1. Tidak berlebihan dalam makan dan minum

Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam hal apapun. Termasuk dalam makan dan minum. Biasanya, kita tidak akan berhenti makan sebelum kita benar-benar merasa kenyang. Bahkan, seringkali setelah merasa kenyang pun kita masih dengan lahapnya menyantap makanan yang ada dihadapan kita. Padahal, hal tersebut tidaklah dibenarkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda:

إيَّاكم والبِطْنَةَ من الطعامِ فإنَّها مكسَلةٌ عن الصلاةِ مُفسدةٌ للجسدِ مُورثةٌ للسَّقَمِ

“Jauhilah olehmu mengisi perut dengan penuh terhadap makanan. Karena sesungguhnya mengisi perut dengan penuh dapat menyebabkan malas sholat, membahayakan terhadap tubuh, dan menyebabkan penyakit”. (HR. Ibnu Hiban no. 1/529)

Demikianlah beberapa etika makan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Seringkali kita secara sadar ataupun tidak sadar menyalahi etika-etika tersebut. Sebagai muslim yang baik dan mengharap syafaat Rasulullah SAW, sudah seyogyanya kita menjalankan etika makan tersebut dengan niat mutabaah (mengikuti) panutan kita, Rasulullah SAW.

Selain karena tuntunan baginda Nabi, apa yang telah dicontohkan ini sejatinya adalah untuk merawat kesehatan tubuh dan meminimalisasi dari kemungkinan timbulnya berbagai penyakit dalam tubuh kita. Karena apa yang telah dicontohkan nyatanya telah sesuai dengan penelitian medis di era modern ini.

Artikel kiriman dari Euis Aisyah, Mahasiswi Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta