Beranda Keislaman Tafsir 4 Kedalaman Tafsir Surah Al-Fatihah yang Harus Kamu Tahu

4 Kedalaman Tafsir Surah Al-Fatihah yang Harus Kamu Tahu

Harakah.ID – Memahami makna dan kandungan surah al-Fatihah adalah sesuatu yang sangat penting mengingat tingginya interaksi kita dengan surah tersebut.

Ada ratusan surah di dalam al-Quran, namun dapat dipastikan tidak ada surah yang lebih besar perhatian terhadapnya dibandingkan dengan  surah al-Fatihah. Ia merupakan surah pertama yang menjadi pembukaan al-Quran dan wajib dibaca setidaknya 17 kali dalam satu hari. Memahami makna dan kandungan surah al-Fatihah adalah sesuatu yang sangat penting mengingat tingginya interaksi kita dengan surah tersebut. Berikut ini empat kedalaman makna al-Quran yang sangat memesona namun boleh jadi banyak orang yang tidak sadar saat membacanya.

Pertama, Memberikan kesan yang seimbang terhadap Allah Swt

Dengan mengesampingkan basmalah yang statusnya sebagai bagian dari al-Fatihah merupakan ranah perbedaan pendapat para ulama, maka surah al-Fatihah akan dimulai dengan ayat الحمد لله ربّ العلمين , mari fokus pada frasa ujung dari ayat tersebut yaitu ungkapan ربّ العلمين, di mana Allah dinarasikan sebagai al-Rabb yang mengandung makna keagungan, penguasaan dan tentu saja “pemaksaan”. Allah Swt. adalah penguasa yang sepenuhnya menentukan keadaan kita secara mutlak dan leluasa meskipun secara lahir itu bukanlah keadaan yang mengenakkan bagi kita.

Kesan yang demikian tentunya menimbulkan rasa takut dalam hati manusia, namun pada ayat selanjutnya, surah al-Fatihah memberikan gambaran terbalik dari narasi pada ayat sebelumnya dengan memaparkan sifat berikutnya yang dimiliki oleh Allah Swt. yaitu الرحمن الرحيم. Melalui ayat ini, kesan Rububiyah-Nya Allah Swt. diseimbangkan dengan kasih sayang tak terbatas. Sehingga hubungan antara manusia dengan Allah Swt. secara seimbang mengandung aspek al-khauf (takut) dan al-raja’ (berharap).

Hubungan kita dengan Allah Swt. tidak seperti anak buah dan atasannya yang galak serta menyeramkan yang semata-mata dilandasi oleh rasa takut, bukan pula seperti anak manja dengan ayahnya yang leluasa meminta apa saja tanpa ada rasa takut sedikit pun. Melainkan lebih mirip seperti seorang anak dengan ayahnya yang tegas, anak itu takut (al-khauf) tetapi tetap saja ia selalu mengandalkan ayahnya dalam segala hal yang ia butuhkan (al-raja’).

Kedua, Penghayatan Tauhid yang lebih lanjut.

Tauhid adalah pilar ibadah, orang yang melakukan shalat dan membaca al-Fatihah pastinya beriman kepada tauhid meskipun dengan mengambil standar keimanan yang paling rendah dan longgar sekali pun. Pada ayat إياك نعبد وإياك نستعين terdapat unsur pengakuan dan penghayatan terhadap tauhid. Setelah beriman bahwa tidak ada tuhan selain Allah, kita pun secara sadar mengakui bahwa hanya kepada-Nya kita beribadah dan memohon pertolongan dalam segala hal.

Ketiga, Pengalihan Dhamir atau kata ganti (iltifat).

Empat ayat pertama surah al-Fatihah memposisikan Allah sebagai persona kata ganti orang ketiga, memberikan kesan Allah adalah zat yang jauh dari kita (dhamir ghaib). Ia adalah penguasa alam semesta. Dia adalah yang sangat besar kasih saying-Nya. Dia adalah penguasa Hari Pembalasan. Namun pada ayat kelima, kita seolah menarik kesan Allah menjadi persona yang lebih dekat kepada kita dengan mengalihkan kata ganti orang ketiga menjadi kata ganti orang kedua. Sehingga pada ayat ini tidak diungkapkan dengan إياه نعبد وإياه نستعين. Mengganti penggunaan kata ganti “dia” menjadi “engkau” seolah mengubah kesan dari sebelumnya Allah terasa jauh dari kita menjadi kesan bahwa Allah adalah Dzat yang sangat “dekat” dengan kita.

Abu Hayyan dalam tafsirnya menerangkan pengalihan dhamir di sini gambarannya seperti seseorang yang sedang membincangkan orang lain tentang ketingian dan keagungan sifatnya, lalu tiba-tiba orang yang dimaksud datang ke sana sehingga si pembicara mengganti kata ganti dalam pembicaraannya menjadi orang kedua dimana ia berbicara langsung dengan orang yang sebelumnya ia bincangkan.

Keempat, tahu diri dalam menyandarkan sesuatu.

Surah al-Fatihah melalui ayat terakhir secara tegas menyandarkan nikmat kepada Allah Swt. langsung, sehingga menggunakan redaksi أنعمت عليهم (engkau beri nikmat kepada mereka), hal berbeda berlaku ketika menyebutkan murka yaitu dengan redaksi المغضوب عليهم (mereka yang dimurkai), di mana peranan Allah tidak dilahirkan dalam kalimat. Ini mengajarkan kita tentang adab dan tahu diri kepada Allah Swt. di mana kita menyandarkan segala bentuk kebaikan itu datangnya dari Allah Swt. sebagai wujud rasa syukur, sedangkan hal-hal buruk tidak demikian. Meskipun prinsip dasarnya kita meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kuasa dan kehendak Allah Swt.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...