Beranda Keislaman Akhlak 5 Manfaat Menjaga Makan Menurut Imam Al-Ghazali

5 Manfaat Menjaga Makan Menurut Imam Al-Ghazali

Harakah.id Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum Al-Din, beliau menjelaskan manfaat menjaga pola makan bagi kesehatan fisik, psikis dan spiritual seseorang.

Dalam kehidupan, satu dimensi kehidupan kita sangat terkait dengan dimensi lain yang berbeda. Kesehatan kita dipengaruhi gaya hidup kita sendiri. Gaya hidup yang salah bisa punya dampak buruk terhadap sisi kehidupan kita yang lain.

Misalnya, soal pola makan dan konsumsi sehari-hari. Jika dilakukan secara berlebihan, tanpa kontrol, makanan tersebut bisa berbalik menjadi bahaya bagi tubuh kita sendiri. Bukan menjadi sumber energi yang dibutuhkan tubuh.

Tentang hal ini, Imam Al-Ghazali (w. 505 H.) telah menjelaskan persoalan ini seribu tahun lalu. Dalam kitab Ihya’ ‘Ulum Al-Din, beliau menjelaskan manfaat menjaga pola makan bagi kesehatan fisik, psikis dan spiritual seseorang. Seseorang harus memperhatikan pola dan gaya makannya agar ia dapat sehat, secara jasmani dan rohani.

Dalam pembahasan tentang pentingnya mengendalikan keinginan (kasr  al-syahwatain), Al-Ghazali menulis sebagai berikut;

يستفيد من قلة الأكل صحة البدن ودفع الأمراض فإن سببها كثرة الأكل وحصول فضلة الأخلاط في المعدة والعروق ثم المرض يمنع من العبادات ويشوش القلب ويمنع من الذكر والفكر وينغص العيش ويحوج إلى القصد والحجامة والدواء والطبيب وكل ذلك يحتاج إلى مؤن ونفقات لا يخلو الإنسان منها بعد التعب عن أنواع من المعاصي واقتحام الشهوات وفي الجوع ما يمنع ذلك كله

Menjaga pola makan bermanfaat bagi kesehatan tubuh dan dapat mencegah penyakit. Karena, penyakit disebabkan oleh banyaknya mengkonsumsi makanan dan timbulnya ‘zat’ berlebih di lambung dan urat. Penyakit dapat menghalangi seseorang beribadah serta mengganggu ketenangan hati. Penyakit mengganggu aktifitas zikir dan pikir. Penyakit menyusahkan hidup dan akan membutuhkan bekam, obat dan dokter. Semua itu membutuhkan biaya dan pengeluaran. Seseorang tidak akan tertimpa penyakit-penyakit itu kecuali setelah tubuhnya ‘lelah’ menjalani berbagai macam kemaksiatan dan menuruti semua keinginan. Laparnya perut dapat mencegah semua keburukan tersebut (3/87).

Sebagaimana diuraikan Al-Ghazali, sejatinya bagian-bagian kehidupan kita saling beresonansi dan terkoneksi. Pola konsumsi yang salah akan berdampak pada dimensi kesehatan fisik yang terganggu. Fisik yang sakit akan mempengaruhi ketenangan pikiran dan hati. Selanjutnya, fisik sakit akan berdampak pada terganggunya aktifitas kerohanian seseorang, seperti ibadah dan zikir kepada Allah. Dampak selanjutnya, penyakitnya harus disembuhkan dengan menyewa jasa dokter dan konsumsi obat-obatan. Hal ini, tentunya, membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Pengobatan modern hari ini semakin mahal dan semakin tak terjangkau. Terkadang orang harus menghabiskan kekayaannya untuk mendapatkan kembali kesehatannya. Habisnya kekayaan seseorang akan membuat kehidupannya semakin sulit. Berikut skema normal relasi antara kesehatan dan kehidupan seseorang;

Sampai di sini, menjaga kesehatan adalah sangat penting. Bukan hanya untuk kehidupan duniawi seseorang, tetapi juga untuk kehidupan kerohanian dan keagamaannya. Ibadahnya terganggu, zikirnya terganggu, pikirannya terganggu, ketenangannya terampas, rasa syukurnya hilang, dan lain sebagainya. Secara sederhana, dengan demikian, Al-Ghazali menyebutkan setidaknya 5 manfaat menjaga makan, yaitu (1) menyehatkan badan, (2) meringankan ibadah, (3) menenangkan hati, (4) melapangkan hidup (5) membuat kaya.

Demikian ulasan singkat tentang 5 manfaat menjaga makan menurut Imam Al-Ghazali. Imam Al-Ghazali melihat bahwa kesehatan seseorang sangat menentukan tingkat kesalehannya. Seharusnya, semakin sehat, seseorang dapat menjadi semakin saleh. Semakin banyak penyakit, semakin terganggu kesalehannya. Karena itu, kesehatan sejatinya sangat penting untuk mendukung terwujudnya pribadi yang saleh. Ia harus senantiasa dijaga. Karena itu, jaga makan-jaga kesalehan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...