fbpx
Beranda Keislaman Akhlak 6 Cara Islami Menahan Emosi Saat Marah

6 Cara Islami Menahan Emosi Saat Marah

Harakah.id Kitab Al-Wafi fi Syahril Arba’in An-Nawawiyah menyebutkan cara islami menahan emosi saat marah. Salah satunya dengan wudhu.

Marah merupakan tabiat dan bawaan manusia. Akan tetapi, seseorang Muslim yang senantiasa berhubungan dengan Allah Swt., akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak meluapkan kemarahannya.

Cara Islami menahan emosi saat marah ini bisa dilakukan dengan menjauhi semua perkara yang dapat menimbulkan kemarahan dan berusaha meredamnya jika kemarahan itu muncul.

Dalam sebuah riwayat yang terdapat dalam Al-Arba’in Al-Nawawiyyah, Abu Hurairah meriwayatkan sebuah hadis tentang seorang laki-laki yang meminta nasihat kepada Rasulullah Saw.

Kepada laki-laki tersebut, beliau hanya memberi satu pesan, jangan marah. Tak puas dengan satu nasihat, laki-laki itu meminta lagi kepada Rasulullah Saw. Jawabanya sama. Jangan marah.

أَنَّ رَجُلًاً قَالَ لِلنَّبِيِّ أَوْصِنِيْ قَالَ : لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً قَالَ : لَا تَغْضَبْ

nucare-qurban

Sesungguhnya seorang laki-laki meminta nasehat kepada Rasulullah Saw, kemudian Rasulullah Saw. mengatakan, “janganlah marah!” Lalu laki-laki tersebut mengulang permintaannya dan Rasulullah Saw. tetap mengatakan, “janganlah marah!”

Oleh karena itu, mengendalikan diri dan emosi sangat penting bagi seorang manusia dewasa. Terlebih sebagai Muslim, penting untuk dapat mawas diri, tidak gampang tersulut emosi yang berujung pada tindakan yang dapat merusak diri atau menyakiti orang lain.

Seorang Muslim dituntut agar Muslim lainnya terhindar dari sakit akibat perbuatan tangan dan lisan. Menjadi agen perpanjangan dari penyebaran rahmat bagi seluruh alam semesta.

Baca Juga: Inilah Nama Anak Laki-Laki Nabi Muhammad SAW

Dalam kitab Al-Wafi fi Syahril Arba’in An-Nawawiyah disebutkan bahwa menahan emosi dengan cara yang Islami saat marah bisa dilakukan dengan banyak cara. Di antaranya sebagai berikut.

Pertama, melatih jiwa dengan berbagai akhlak terpuji, seperti sabar, lemah lembut, tidak tergesa-gesa dalam segala hal, dan lain sebagainya.

Pernah suatu ketika Rasulullah Saw. didatangi Zaid bin Sa’nah yang saat itu belum memeluk Islam. Ia mendatangi Rasulullah Saw. untuk menagih hutang yang belum jatuh tempo. Zaid melakukannya dengan sikap yang sangat kasar.

Namun Nabi Muhammad Saw. menghadapinya dengan senyum dan sabar. Bahkan beliau melarang Umar Ra. untuk menghardik laki-laki tersebut, seraya berkata, “Hai Umar, aku dan dia tidak membutuhkan sikap sepert itu. Lebih baik kamu menyuruhku melunasi hutangku, dan menyuruhnya menagih hutang dengan baik.”

Baca Juga: Kisah Kelinci Mengalahkan Singa, Tak Nyata Tetapi Penuh Makna

Setelah itu beliau melunasi hutangnya, bahkan jumlahnya melebihi hutangnya semula, sebagai imbalan dari hardikan yang diterimanya dari Umar Ra. Akhirnya, sikap Rasulullah Saw. ini menjadi penyebab masuknya Zaid bin Sa’nah kedalam islam.

Kedua, Mengingat-ingat dampak yang ditimbulkan dari marah, keutamaan meredam amarah dan keutamaan memaafkan orang yang berbuat salah.

Allah Swt. Berfirman, “dan orang yang bisa meredam amarah dan memaafkan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berlaku ihsan.” [Ali’Imran: 134].

Imam Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “barangsiapa yang menahan amarah dan ia sebenarnya mampu untuk melupakannya. Maka pada hari kiamat kelak, ia akan dipanggil Allah di hadapan semua makhluk-Nya, lalu ia disuruh memilih bidadari yang ia inginkan.”

Baca Juga: Kisah Umat Nabi Muhammad yang Tak Mempan Dibakar Api

Ketiga, ber-ta’awudz (mengucapkan Audzu billahi minasyaithonirrojiim/aku berlindung dari godaan setan yang terkutuk).

Allah Swt.  berfirman, “dan jika engkau ditimpa godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-A’raf: 200].

Keempat, mengubah Posisi.

Imam Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw.  bersabda, “jika salah seorang di antara kalian marah dan dia berdiri, maka duduklah, karena kemarahan akan hilang. Jika belum juga hilang maka berbaringlah.” Hal ini dikarenakan posisi berdiri lebih mudah untuk meluapkan dendam, lain halnya dengan duduk ataupun berbaring.

Kelima, berhenti bicara.

Karena dengan berbicara, sangat mungkin kemarahannya bertambah, atau ia mengucapkan perkataan yang akan ia sesali setelah kemarahannya reda.

Keenam, berwudhu

Karena pada dasarnya, kemarahan adalah api yang membara dalam diri manusia, maka air akan memadamkan api tersebut. Wudhu juga merupakan ibadah dalam rangka dzikrullah (mengingat Allah swt.), yang membuat setan yang sedang menyalakan api amarah pada diri seseorang, lari dan bersembunyi.

Demikianlah beberapa hal yang dapat diupayakan seorang muslim agar ia tidak dikuasai oleh amarah dan menimbulkan dampak yang tidak baik.

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...