6 Manfaat Zakat, Nomor 3 Menjaga Harga Diri Pemberi dan Penerimanya

0
88
6 Manfaat Zakat Nomor 3 Menjaga Harga Diri Pemberi dan Penerima

Harakah.id – Inilah 6 manfaaat dan hikmah zakat yang harus kamu tahu. Dari menyucikan jiwa hingga menumbuhkan empati dan cinta sesama.

Zakat adalah mengeluarkan harta kepada para mustahiq (penerima zakat). Di bulan Ramadhan, selain puasa, ada kewajiban yang ditunaikan seorang Muslim, yakni membayar zakat fitrah. Di sini, kita akan membahas sedikitnya ada lima manfaat dari zakat yang harus kita ketahui.

Jiwa manusia memiliki karakter menyukai dan ingin menguasai harta. Akan tetapi, mendermakan sebagian harta, seperti mengeluarkan zakat dan sedekah, memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan seorang Muslim.

1. Menyucikan jiwa dari penyakit kronis yang disebut kikir.

Penyakit kikir merupakan hal yang dibenci Allah Swt dan makhluk-Nya. Menunaikan zakat dan sedekah dapat menyembuhkan penyakit kikir karena zakat membiasakan manusia untuk berderma, sekalipun dengan terpaksa karena takut akan siksa Allah Swt. Meski bermula dari keterpaksaan, kesungguhan membayar zakat serta melakukannya terus menerus membuat dirinya terbiasa dan gampang untuk mendermakan hartanya dengan suka rela.

Allah Swt berfirman : “dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung,” (QS. At-Thagabun : 16).

2. Menghilangkan penyakit dendam dan dengki yang tertanam dalam diri orang fakir yang menerima zakat.

Bisa jadi, terbersit pikiran dalam hati orang-orang fakir yang timbul karena penderitaan dan kekurangannya, kemudian khilaf mengira Allah Swt telah memberi rejeki kepada orang lain dan menjauhkan dari dirinya. Dengan berderma kepada kaum papa, seorang Muslim dapat membangun kehidupan masyarakat yang penuh kecintaan, berbesar hati, dan kebeningan jiwa. Allah Swt akan memanjangkan kebaikannya serta menghilangkan perasaan negatif terhadap orang lain.

3. Menjaga kesucian diri (‘iffah) dan menjaga harga diri (‘izzah an nafs).

 Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Sungguh seorang dari kalian yang mengambil tali lalu dia mencari kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia mendatangi seseorang lalu meminta kepadanya, baik orang (yang dimintanya) itu memberi atau menolak”.,” (HR. Malik dan Al-Bukhari)

Hadis tersebut menerangkan, bahwa orang yang pergi mencari kayu bakar hanya bermodalkan tali dan punggungnya itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang lain, baik orang yang diminta memberi sesuatu yang diminta atau tidak.

Seorang Muslim memiliki kemampuan dalam menjaga kesucian dan harga diri, salah satunya dengan tidak meminta kepada orang lain. Dengan  membayar zakat, seorang Muslim membersihkan hartanya sehingga tidak ada kejelekan terhadap apa yang dimilikinya. Bahkan, akhlak itu mengetuk pintu-pintu amal mengasihi orang yang suka meminta-minta. Ia akan berusaha mencurahkan segenap kemampuannya supaya dirinya bermanfaat bagi orang lain dengan menginfakkan hartanya sehingga tangannya berada di atas sebagai pemberi. Selanjutnya, orang yang diberinya pun bisa terhindar dari tindakan meminta-minta karena kekurangan.

4. Menjadikan dirinya dermawan dan suka berkorban

Pada dasarnya, segala sesuatu yang ada dan rejeki yang kita punya adalah milik Allah Swt. Ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain atau menafkahkan harta untuk zakat dan sedekah, hal ini sama sekali tidak mengurangi harta yang Allah titipkan kepada kita. Allah Swt. berfirman, “dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba : 39).

Dengan memahami ayat tesebut, seorang Muslim akan terus semangat berderma, seraya berharap dan meyakini janji Allah Swt. Percaya bahwa Allah akan memberi keberkahan terhadap rezeki-Nya serta akan melipat gandakan pemberian-Nya.

Abdurrahman Bin Auf berkata, “ Allah telah secara rutin memberikan nikmat kepadaku, maka akupun membiasakan memberi (shadaqah) untuk meraih ridha-Nya. Ketika aku menghentikan kebiasaan itu, Allah pun menghentikan nikmat-Nya.” Oleh karena itu, dalam sejarah, Abdurrahman Bin Auf terkenal tidak pernah menghentikan berderma.

5. Menjadikannya lebih mencintai dan berempati kepada orang lain.

Al-Qur’an menegaskan kepada kita supaya memahami dan mengetahui kebutuhan orang lain tanpa mengharapkan penghargaan dari orang tersebut. Perbuatan ini bukan berarti memata-matai kefakiran orang lain, melainkan untuk merasakan kebutuhan mereka lalu memberinya sebelum mereka meminta.

Allah Swt. berfirman, “berinfaklah kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha di bumi); orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik kamu nafkahkan (di jalan Allah) maka sesungguhnya Allah maha mengetahui,” (QS. Al-Baqarah: 273).

Imam Syafi’i pernah berkata “terkadang ada seorang laki-laki dengan dirham yang telah diperolehnya merasa kaya, tetapi merasa fakir dengan kelemahan dan banyak keluarganya.”

6. Zakat memperluas kebahagiaan dan memerangi kemiskinan kaum Muslimin

Rasulullah Saw pernah bersabda, “amal yang paling mulia adalah idkholus surur (menebar kebahagiaan) kepada mu’min dengan menutupi aurat mereka (memberi sandang pakaian), atau menghilangkan rasa lapar mereka, atau menunaikan kebutuhan mereka.”

Dengan zakat, seorang Muslim secara tidak langsung memperluas kebahagiaan dan nikmat yang diterimanya kepada sesama manusia, yakni fakir miskin dan orang yang berhak menerima zakat. Berkat zakat yang ia salurkan, seorang fakir miskin bisa mencukupi sandang untuk menutup auratnya dan memenuhi kebutuhan pangan sehari-harinya.