fbpx
Beranda Keislaman Akhlak Awas! 7 Perkara yang Jadi Penyebab Timbulnya Sifat Takabur

Awas! 7 Perkara yang Jadi Penyebab Timbulnya Sifat Takabur

Harakah.id – Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, merinci setidaknya ada 7 perkara penyebab timbulnya sifat takabur

- Advertisement -

Takabur adalah sifat buruk. Untuk menghindarinya tidak mudah dan tidak bisa lakukan begitu saja. Bahkan kadang kita tidak sadar bahwa sifat takabur ini telah menghinggapi kita dikarenakan sudah menjadi kebiasaan yang mengakar.

Oleh karena itu penting untuk mengetahui apa saja yang menjadi penyebab dan memicu timbulnya takabur dalam diri. Perlu diingat, takabur merupakan sifat yang berupa akibat dari suatu sebab. Jika tak mengetahui sebab, maka kita akan sulit mengendalikan akibatnya.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, merinci setidaknya ada 7 perkara penyebab timbulnya sifat takabur dalam diri.

1.Takabur karena ilmu pengetahuan.

Orang bisa takabbur karena merasa mempunyai ilmu dan menganggap orang lain lebih bodoh. Ini penyakit yang sering melanda hati para ulama (orang yang berilmu). Orang berilmu yang takabbur berarti hatinya telah tertutup sehingga tak bisa menilai kebenaran dengan semestinya. Ia pandai dalam masalah teori agama, tetapi buta terhadap syariat, sehingga ia tak sadar kalau takabur itu mencelakakan dirinya sendiri.

2. Takabur karena ibadah dan amal shalih yang dikerjakannya.

Tentu sangat baik bagi seorang hamba Allah yang tekun beribadah dan mengerjakan amal-amal shalih. Seorang Muslim yang mengisi hari-harinya dengan ibadah dan amal shalih berarti ia sudah berada di jalan yang benar. Namun, setan tak pernah berhenti menggoda dan menyesatkan umat manusia hingga akhir hayatnya. Bisa saja orang yang sudah berada di jalan yang benar itu tersesat. Istilah umumnya tersesat di jalan yang benar. Sudah di jalan yang benar tapi masih tersesat.

Misalnya, seorang hamba Allah yang tekun beribadah dan beramal shalih tapi niatnya bercampur dengan Riya’ (ingin mendapatkan pujian dari makhluk). Takabur karena amal ibadah ini dapat terbagi menjadi dua bagian. Pertama, takabbur yang sifatnya duniawi dan takabbur yang sifatnya berhubungan dengan jalan agama.

Baca Juga: Hindari Sifat Angkuh Dengan Ilmu Tawadhu, Begini Tips Dari Syeikh Abdul Qadir Al-Jilani

Takabur yang sifatnya duniawi bisa terjadi bila orang yang ahli ibadah dan beramal shalih ini gemar atau senang sekali sekali bila ada orang lain yang mengatakan bahwa dirinya orang shalih, ahli ibadah, ulama yang pintar hukum, kyai kharismatik, mubaligh kondang dan segudang pujian lainnya. Bahkan ia sangat suka jika orang lain mengatakan bahwa dirinya jarang melakukan perbuatan maksiat atau dosa.

Adapun takabur yang sifatnya berhubungan dengan keagamaan yaitu mengira bahwa amal ibadahnya telah benar-benar sempurna, mengira bahwa ia lebih dekat dengan Tuhan dibandingkan dengan ahli ibadah lainnya.

3. Takabur karena keturunan atau nasabnya.

Seseorang yang mempunyai keturunan terhormat, bangsawan, ulama dan lain sebagainya lebih berpeluang untuk bertakabur dibandingkan dengan orang dari keturunan biasa-biasa saja.

Ia sangat berpeluang jatuh pada sikap memandang remeh terhadap orang lain. Di setiap pergaulan, di setiap majelis, ia senang menceritakan kakek moyangnya yang mulia, yang terhormat dan yang tekun beribadah. 

4. Takabur karena harta kekayaan yang dimilikinya.

Mungkin, takabur karena harta kekayaan ini adalah takabur yang paling banyak kelihatan dan sering kita jumpai. Apalagi di era digital, orang-orang gemar memamerkan apa yang dimilikinya. Terlepas apakah itu hanya pencitraan atau memang benar-benar kaya.

Misalnya, ada orang yang di setiap ada majelis dan berkumpul dengan banyak orang, mereka selalu membicarakan perkara yang mengarah pada harta kekayaan, bisnis, dagang yang tentunya berakhir dengan cerita kekayaannya.

Baca Juga: Merasa Tawadhu Adalah Sikap Sombong yang Sesungguhnya

Orang yang bergelimangan harta sangat berpeluang terseret pada semacam rasa haus ingin dipuji. Ia merindukan suatu kehormatan dari orang lain karena kekayaannya. Dengan kekayaan yang dimilikinya, sering kali ia merasa bisa melakukan apapun, merasa telah bekerja keras sehingga mencapai sukses. Ia kemudian meremehkan orang lain yang hartanya tak sebanding dengannya, atau menganggap orang lain hanyalah pemalas sehingga tetap miskin.

Selain itu, ada hal yang lebih berbahaya lagi, yakni ketika orang yang diuji dengan banyak harta ini tak segan-segan memperlakukan orang lain (orang miskin) dengan sikap sewenang-wenang. Anggapannya ialah segalanya dapat dibeli dengan uang. Orang lain dengan mudahnya dapat dipermainkan dengan harta.

5. Takabur karena keelokan wajah/fisik yang dimilikinya.

Bagi mereka yang tawadhu’ dan diberi keelokan wajah, sudah tentu ia akan sering dan memperbanyak rasa syukur kepada Allah. Tetapi bagi mereka yang berakhlak buruk, akan menjadi takabbur bila merasa memiliki wajah yang elok dan bagus.

Ia merasa bahwa dirinya yang paling cantik atau tampan, sehingga lagak dan gayanya berlebih-lebihan. Bahkan ada yang lebih buruk, yakni keelokan wajah/fisik itu tidak untuk digunakan untuk jalan yang baik, namun digunakan di jalan maksiat, karena merasa memudahkan ia berbuat zina.

Akibat yang ditimbulkannya dari takabur karena keelokan wajah, biasanya suka mengumpat kekurangan orang lain, lalu tidak menghargai orang lain, menyebut-nyebut aib dan kekurangan yang dimiliki orang lain.

6. Takabur karena kekuasaannya.

Takabur karena kekuasaan akan berakibat sangat berbahaya dan membahayakan orang lain. Sebab ketakaburan ini berakibat adanya tindak kedzaliman (sewenang-wenang). Karena kekuasaan yang dimilikinya lalu ia berbuat sekehendak hatinya.

7. Takabur karena kaum atau golongannya lebih banyak.

Golongan dan pengikut yang banyak hanya kita rasakan di dunia. Di akhirat, yang menjadi pengikut setiamu ialah amal kebaikanmu yang diterima Allah. Alim ulama yang sesat dan pimpinan yang tertipu oleh perasaannya sendiri sering kali takabur karena pengikut dan pendukungnya banyak.

Baca Juga: Inilah Sebab Rasulullah Memuji Ahli Ilmu Bahasa Arab

Jamaah dan golongannya yang besar membuat anggapan seolah-olah ia mempunyai kharisma yang agung. Semua itu sungguh akan merusak jiwa dan menutup kalbu, sehingga lupa jika hanya Allah yang Agung.

Itulah 7 perkara penyebab timbulnya sifat takabur sebagaimana diterangkan Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin. Semoga kita semua dijauhkan Allah dari sifat yang berbahaya dalam amal ibadah tersebut dan senantiasa tetap tawadhu’ berjalan di muka bumi dan menghadap Allah. Semoga saudara kita yang berhati takabur segera mendapat petunjuk atau hidayah dari Allah, sehingga mereka bisa menebusnya dengan memperbaiki diri.

Baca Juga: Inilah Cara Mendidik Anak Ala Gus Baha, Biar Anak Tak Menjauhi Kita

REKOMENDASI

Mbah Maimoen Zubair, Ulama Pakubumi yang Lahir Bersamaan Dengan Pekikan Sumpah Pemuda 1928

Harakah.id - Mbah Maimoen Zubair al-maghfurlah adalah salah seorang ulama pakubumi yang lahir bertepatan dengan Sumpah Pemuda. Selama hidupnya, Mbah Maimoen...

Bukan Untuk Diperdebatkan Haram-Halalnya, Maulid Nabi Adalah Momentum Meniru Keteladanan Muhammad

Harakah.id - Maulid Nabi sebenarnya adalah momentum berharga untuk meniru dan belajar dari keteladanan Nabi Muhammad. Maulid Nabi bukan justru waktu...

Kiai Abbas Di Pertempuran Surabaya 1945, Dari Membentuk Telik Sandi Sampai Menghancurkan Pesawat Dengan...

Harakah.id - Kiai Abbas di pertempuran Surabaya 1945 tidak hanya berperan sebagai pasukan, tapi juga komandan dan perumus strategi perlawanan. Selain...

Felix Siauw, Buku Muhammad Al-Fatih 1453 dan Kedaulatan Negara dalam Bayang-Bayang Bahaya Eks HTI

Harakah.id - Felix Siauw kembali membuat negeri ini heboh. Heboh sebab pembatalan surat edaran Dinas Pendidikan Bangka Belitung (Disdik Babel) yang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...