Beranda Headline 8 Etika Ketika Terjadi Bencana, Siapkan Dirimu Menghadapi Situasi Sulit

8 Etika Ketika Terjadi Bencana, Siapkan Dirimu Menghadapi Situasi Sulit

Harakah.id Islam mengajarkan sejumlah etika dalam menghadapi peristiwa bencana. Kita tidak berpangku tangan saat terjadi bencana. Berikut ini adalah 8 etika Ketika terjadi bencana menurut agama Islam.

Bisa dikatakan, Indonesia merupakan negara dengan peristiwa kebencanaan yang cukup tinggi. Pada September 2022 ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat setidaknya terjadi 2545 bencana. Tidak kurang dari 2 juta orang mengungsi dan menderita akibat bencana.

Bencana sendiri berarti rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan masyarakat, baik yang disebabkan oleh faktor alam atau non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis.

Bencana sering kali datang secara tiba-tiba. Sekalipun bisa diprediksi, tetapi kita tidak tahu pasti kapan akan terjadi. Ini menunjukkan bahwa di antara ilmu Allah yang diberikan kepada manusia, Allah masih menyimpan informasi lain yang itu menjadi hak prerogratif-Nya. Ia berhak menetapkannya sebagai bagian dari takdir yang telah dibuat-Nya. Dengan demikian, bencana sejatinya merupakan sarana mengingat kebesaran Allah.

Sekalipun demikian, Islam mengajarkan sejumlah etika dalam menghadapi peristiwa bencana. Kita tidak berpangku tangan saat terjadi bencana. Berikut ini adalah 8 etika Ketika terjadi bencana menurut agama Islam.

Menyelamatkan diri

Ketika terjadi peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa, Islam mewajibkan manusia untuk menyelamatkan diri. Bukan diam berpangku tangan begitu saja. Beberapa ayat al-Quran, hadis Nabi dan pendapat ulama banyak menyinggung tentang masalah ini.

Al-Quran mengatakan, “Wa la tulqu bi aidikum ilat tahlukah.” Artinya, janganlah engkau menjatuhkan dirimu dalam kebinasaan (Qs. Al-Baqarah: 195)

Dalam sebuah hadis yang masyhur dikatakan, “la dharara wa la dhirara” yang berarti jangan melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri dan membahayakan orang lain (HR. Ibnu Majah).

Dalam aturan fiqih disebutkan, jika terjadi bencana ketika sedang menjalankan shalat fardhu, maka shalat itu boleh ditinggalkan untuk menyelamatkan nyawa. Hal ini selaras dengan tujuan pensyariatan yang salah satunya adalah hifzhun nafs (menjaga keselamatan nyawa manusia).  

Bersabar

Ketika dalam suasana bencana, ketakutan dan kesulitan tentu akan menghantui kondisi masyarakat. Tidak jarang kondisi psikologis masyarakat jatuh sehingga ada yang berputus-asa. Meratap dan melakukan perbuatan-perbuatan kontra produktif merupakan puncak krisis psikologis ini. Agar bencana yang menimpa tidak semakin parah, maka seseorang harus memiliki ketahanan mental. Di sinilah pentingnya sabar.

Al-Quran mengajarkan sabar dalam suasana serba sulit seperti dalam kondisi bencana. Dengan demikian, sikap sabar merupakan amalan yang mulia menurut al-Quran. Hal ini seperti ditegaskan dalam Qs. Al-Hajj: 35, (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.

Ayat ini menyebut bahwa orang yang selalu optimis, dekat dengan Tuhan, bersabar menghadapi segala keburukan yang menimpa, merupakan orang-orang yang terpuji. Pujian Al-Quran menunjukkan bahwa sikap semacam itu dianjurkan dalam agama.

Membaca istirja’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un)

Segala peristiwa yang ada di muka bumi tidak dapat dilepaskan dari kekuasaan Allah. Ia diciptakan oleh Allah dan akan dikembalikan kepada Allah. Dengan menyadari ini, kita akan memahami bahwa sejatinya semua yang kita miliki adalah milik Allah.

Ketika peristiwa bencana menimpa, merusak banyak properti atau menghilangkan nyawa orang terdekat, hendaknya kita senantiasa mengingat bahwa itu semua adalah milik Allah. Kita perlu Kembali bersikap pasrah jika memang sudah terjadi. Selain menanamkan sikap pasrah ini, kita perlu melafalkan istirja’, yaitu bacaan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Bacaan ini menegaskan bahwa apa yang kita rasa milik kita, sejatinya adalah milik Allah. Dan akan Kembali kepada Allah.

Al-Quran mengatakan, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi (Qs. Al-Baqarah: 156)

Merendahkan diri kepada Allah dengan berdoa

Ketika terjadi musibah dan bencana, hendaknya kita senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dengan cara memperbanyak berdoa. Dalam Qs. Yunus: 12, Allah berfirman,

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.”

Melalui ayat ini, Allah mengingatkan kita agar ketika sedang dalam suasana sulit, kita semakin merendahkan diri kepada Allah. Memperbanyak doa sebagai bentuk merendah di hadapan Allah. Adalah tercela, ketika dalam keadaan bencana kita menjadi religius. Tetapi, ketika sudah lapang dan penuh keselamatan kita kembali bermaksiat kepada Allah. Jauh dari Allah. Situasi bencana merupakan waktu yang tepat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah serta memperbanyak doa.

Melakukan shalat sunnah

Suasana bencana merupakan suasana penuh kesedihan. Rasulullah SAW mengajarkan kita ketika menghadapi susanana penuh kesedihan untuk berdoa dan melaksanakan shalat sunnah. Shalat sunnah di sini adalah shalat sunnah hajat. Meminta kepada Allah agar segera menghilangkan sumber kesedihan itu.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال: يَا عَلِيُّ: أَلاَ أُعَلِّمُكَ دُعَاءً إِذَا أَصَابَكَ غَمٌّ أَوْ هَمٌّ تَدْعُو بِهِ رَبَّكَ فَيُسْتَجَابُ لَكَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَيُفْرَجُ عَنْكَ: تَوَضَّأْ وَصَل رَكْعَتَيْنِ، وَاحْمَدِ اللَّهَ وَاثْنِ عَلَيْهِ وَصَل عَلَى نَبِيِّكَ وَاسْتَغْفِرْ لِنَفْسِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ قُل: اللَّهُمَّ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ السَّمَاوَاتِ السَّبْعِ،

Bahwa Nabi SAW berkata, “Wahai Ali, apakah engkau mau aku ajari doa Ketika menimpamu sebuah kesedihan, engkau dapat berdoa dengan doa tersebut. Tuhanmu akan mengabulkan doamu, dengan izin-Nya, dan dilapangkan kesempitanmu. Berwudulah, dan shalat lah dua rakaat. Puji Allah dan bershalawatlah kepada Nabimu. Minta ampun untuk dirimu sendiri, untuk kaum mukminin dan mukminat. Lalu katakanlah, “Ya Allah, engkau memutuskan antara hamba-hambamu dalam kondisi yang mereka ada di dalamnya dalam keadaan berselisih. Tiada tuhan kecuali Allah yang Mahaagung. TIada tuhan selain Allah yang Maha bijaksana lagi mulia. Mahasuci Tuhan pencipta langit dan bumi. (HR. Al-Mundziri sebagaimana dikutip oleh Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 27/212).

Berdasarkan keterangan ini, dianjurkan melakukan shalat sunnah hajat agar Allah segera mengangkat bencana yang sedang menimpa.

Introspeksi diri, tidak menyalahkan orang lain

Allah menurunkan bencana karena ada suatu tujuan. Tujuan itu di antaranya adalah agar umat manusia kembali kepada Allah, memperbaiki diri dan tidak menyalahkan orang lain.

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ * وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنْتَقِمُونَ}[السجدة: 21، 22].

Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (Qs. Al-Sajdah: 21-22).

Dalam ayat ini, fungsi bencana adalah untuk mengingatkan manusia akan keberadaan Tuhan. Jika manusia itu terus berpaling, Allah mengancam akan menghukumnya. Manusia harus melihat dirinya sendiri, mencari apa kesalahan yang telah dilakukannya. Bukan mencari-cari kesalahan pihak lain.

Bertaubat

Dalam suasana penuh duka karena bencana, meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat merupakan perkara yang dianjurkan dalam Islam. Al-Quran menggambarkan sikap para nabi terdahulu sebagai berikut.

{وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ}[هود: 52].

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa”.

Allah SWT menyebutkan para nabi terdahulu menyuruh kaumnya untuk meminta ampunan dan bertaubat kepada Allah. Allah yang menurunkan air hujan dengan derasnya. Menambahkan kekuatan-kekuatan kepada manusia. Kita diminta untuk perbuatan berbuat dosa.

Membantu Korban Terdampak Bencana

Selain memperbaiki hubungan dengan Allah, Islam mengajarkan agar kita juga memperhatikan nasib sesama. Yaitu dengan saling membantu dengan orang lain yang menjadi korban bencana. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa membantu orang lain yang sedang kesulitan merupakan perbuatan yang terpuji. Allah akan memberikan balasan yang besar.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمَاً سَتَرَهُ اللهُ فِيْ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ،

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang menghilangkan satu kesulitan seorang mukmin yang lain dari  kesulitannya di dunia, niscaya Allah akan menghilangkan darinya satu kesulitan pada hari kdiamat. Barangsiapa yang meringankan orang yang kesusahan (dalam hutangnya), niscaya Allah akan meringankan baginya (urusannya) di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah  akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut mau menolong saudaranya.

Hadis ini menjelaskan pentingnya membentuk tim penyelamat bagi korban bencana. Menggalang donasi dari masyarakat. Menggerakkan para relawan untuk turun ke lokasi bencana. Ini juga merupakan mandat bagi pemerintah untuk membentuk kebijakan untuk mobilisasi penanganan bencana secara massif dan terkoordinir serta penyusunan anggaran nasional untuk menangani masalah kebencanaan.

Demikian 8 etika ketika terjadi bencana. Semoga 8 etika ketika terjadi bencana ini bermanfaat bagi kita semua. Mempersiapkan apa-apa yang diperlukan dalam situasi darurat. Sebelum situasi darurat itu terjadi.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...