fbpx
Beranda Tokoh A. Hassan Menolak Menggunakan Hadis Ahad Sebagai Sumber Hukum Islam?

A. Hassan Menolak Menggunakan Hadis Ahad Sebagai Sumber Hukum Islam?

Harakah.id Hadis Ahad, kata A. Hassan, tidak bisa ditetapkan sebagai dasar hukum seperti halal, haram, sunnah dan makruh. Hadis Ahad hanya dipakai sebagai keterangan bukan sebagai pedoman.

A. Hassan adalah seorang tokoh terkenal pada masanya. Ia memiliki pemikiran yang tegas dan luas dalam berbagai ilmu pengetahuan agama dari ilmu fiqh, ilmu hukum Islam, ilmu tafsir dan hadis. Kealiman A. Hassan dalam ilmu pengetahuan agama Islam membuat banyak orang datang berguru kepadanya ketika Ia masih berada di Persis. 

Bidang syariah juga tidak luput dari perhatian A. Hassan yaitu Ijtihad. Bagaimana corak usaha yang ditempuhnya dalam memahami syariah untuk mendapatkan kepastian hukum. Dua hal yaitu: pandangannya tentang ijtihad, mazhab dan corak ijtihad yang dilakukannya. 

Pandangan A. Hassan  tentang Ijtihad

nucare-qurban

Ijtihad kata A. Hassan  merupakan pekerjaan yang sungguh-sungguh memeriksa suatu keterangan tentang suatu perkara yang sulit dengan memahami secara halus atau meng-qiyas-kan. Ijtihad  tidak saja memberikan semangat dalam beragama, tetapi juga menjawab tuntunan zaman dan situasi modern. Ijtihad itu berlaku tidak terbatas, bahkan berlaku sejak zaman salaf yaitu zaman sahabat dan  ulama besar. 

Disisi lain ijtihad dikatakan terbatas bagi orang yang tidak memenuhi syarat. Seorang muslim kata A. Hassan, semestinya memiliki kecakapan dan pengetahuan yang cukup mengenai sumber- sumber hukum Islam. Pengetahuan tentang hal ini kata A. Hassan diperoleh usaha sendiri dan melalui usaha ini pula mereka berhak memperoleh sebutan sebagai mujtahid. Seorang Mujtahid kata A. Hassan harus memiliki pengetahuan, ketrampilan tentang bahasa Arab, ilmu tafsir maupun ushul fiqh. Ia juga memahami arti dan maksud Al-Quran dan Sunnah. 

Pandangan A. Hassan tentang Mazhab

Mazhab menurut  A. Hassan adalah: Sejumlah atau pendapat dari ulama-ulama besar yang berkenaan dengan ibadah atau muamalah. Bermazhab, kata A. Hassan, sama dengan bertaklid dalam arti mengikut dan tunduk pada hasil ijtihad imam mujtahid tertentu atau dengan kata lain mengikuti cara atau metode yang ditempuh dalam meng-istinbath-kan hukum. Hal lain yang menjadi tolak ukur terikat atau tidaknya A. Hassan pada pendapat ulama yang ada adalah kedudukan hadis sebagai sumber hukum di samping Al-Quran.  

Metode Istinbath yang Diterapkan

Ketika berbicara masalah apakah A. Hassan terikat atau tidaknya terhadap pendapat-pendapat yang ada dilihat dari metode istinbath yang diterapkan yaitu ijma dan qiyas.  Ijma dan qiyas tidak berdiri sendiri. Ijma adalah kesepakatan para imam mujtahid di antara umat Islam pada suatu masa setelah Rasullah SAW terhadap hukum syara’ tentang suatu masalah atau kejadian

Ijma kata A. Hassan adalah ijma sahabat Nabi yang berdasar sebagai dasar hukum. Dengan kata lain A. Hassan dan pengikut-pengikutnya hanya menerima ijma sahabat sebagai dalil terutama dalam soal agama dengan keyakinan sandaran para sahabat itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW. 

Ijma bisa diterima sebagai dasar hukum, karena umat Islam percaya bahwa para sahabat Nabi tersebut mustahil bersepakat dalam menentukan hukum, kalau tidak atas petunjuk Nabi. Atau dengan kata lain A. Hassan dan pengikut-pengikutnya hanya bisa menerima Ijma sahabat. Ijma  sahabat tersebut sebagai dalil terutama dalam soal agama dengan keyakinan bahwa sandaran para sahabat itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW. 

Adapun metode Istinbath yang kedua yaitu: Qiyas. Qiyas adalah menyamakan suatu kejadian yang tidak ada nashnya kepada kejadian yang ada nasnya. Hukum ditetapkan lantaran adanya kesamaan di antara dua kejadian tersebut. 

Masalah duniawi Ia membenarkan Qiyas sebagai cara menentukan hukum, tetapi bersumber kepada Al-Quran dan Sunnah. Dengan demikian Qiyas dalam konteks ini tidak perlu dipandang sebagai sumber syariat yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, Ia bukan sebagai sumber pokok. Masalah ibadah berkaitan dengan Qiyas, A. Hassan tegas menolak sama sekali penggunaan Qiyas. Jika Qiyas digunakan  masalah ibadah berarti ada penambahan dalam ibadah seperti meng-qiyas-kan Qadha shalat dan puasa setiap ibadah. Selain yang telah ditetapkan Allah dan Rasullah SAW termasuk bid’ah. 

Kedudukan Hadis Sebagai Sumber Hukum di Samping Al-Quran

A. Hassan tidak pernah membagi secara tegas sumber hukum Islam, tetapi baginya sumber hukum Islam itu terdiri dari Al-Quran, Sunnah, Ijma dan Qiyas. Al-Quran kata A. Hassan adalah kitab suci umat Islam yang kalimat, isi dan maknanya dari Allah.  Semua ayat Al-Quran sebagai sumber hukum Islam tanpa kecuali satu ayat pun.  

Kedudukan Hadis sebagai sumber hukum Islam disamping Al-Quran terbagi 2, yaitu hadis Mutawatir: Hadis yang diperdengarkan, diperlihatkan pada banyak orang kemudian disampaikan kepada banyak orang sampai pembukuan. Hadis Ahad adalah hadis yang diriwayatkan tidak sebanyak Hadis mutawatir sekitar 2-3 orang saja. Hadis Ahad kata A. Hassan tidak bisa ditetapkan sebagai dasar hukum seperti halal, haram, sunnah dan makruh. 

Hadis Ahad kata A. Hassan hanya dipakai sebagai keterangan bukan sebagai pedoman. Hal ini membuat A. Hassan menjadi berbeda dalam menetapkan hukum dari penetapan yang diberikan oleh mujtahid lainnya. A. Hassan dalam berijtihad adalah ijtihad mandiri atau sering disebut Mujtahid Fardi, dimana A. Hassan dalam berijtihad langsung bersumber pada Al-Quran, Sunnah. Tepatlah kalau kemudian A. Hassan disebut sebagai Al-Qadi Al-Mujtahid. 

Artikel ini pernah terbit di madrasahdigital.co

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...