Beranda Tokoh Abu Abdurrahman al-Sulami (w. 412 H.), Ahli Hadis Sufi Guru Imam al-Baihaqi

Abu Abdurrahman al-Sulami (w. 412 H.), Ahli Hadis Sufi Guru Imam al-Baihaqi

Harakah.idImam Abu Abdurrahman al-Sulami dikenal sebagai guru para ahli hadis. Tetapi, beliau memiliki keahlian di bidang tasawuf.

Pada abad kelima, tidak sedikit ahli hadis yang juga dikenal sebagai seorang sufi. Hal ini seperti tercermin dalam profil Imam Abu Abdurrahman al-Sulami (w. 412 H.). Beliau adalah salah satu guru Imam al-Baihaqi (384-458 H.). Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak ada dikotomi dan permusuhan antara ilmu hadis dan ilmu tasawuf seperti diklaim sebagian umat Islam hari ini.

Imam Abu Abdurrahman al-Sulami dikenal sebagai guru para ahli hadis. Tetapi, beliau memiliki keahlian di bidang tasawuf. Kitab-kitabnya banyak berbicara tentang tema ini. Al-Zirkli dalam kitab al-A’lam mencatat bahwa al-Sulami memiliki banyak karya.

Di antaranya: Haqa’iq al-Tafsir, Thabaqat al-Shufiyyah, Muqaddimah fi al-Tashawwuf, Manahij al-‘Arifin, Risalah fi Ghalathat al-Shufiyyah, Risalah al-Malamatiyyah, Adab al-Faqr wa Syara’ithuhu, Bayan Zalal al-Fuqara’ Wa Manaqib Adabihim, al-Futuwwah, Adab al-Shuhbah, al-Su’alat, Suluk al-‘Afirin, ‘Uyub al-Nafs wa Mudawatuha, al-Farqu Baina al-Syari’ah wa al-Haqiqah, Adab al-Shufiyyah, Kitab al-Arba’in fi al-Hadits, dan Darajat al-Mu’amalat.

Al-Dzahabi pernah mencatat kata-kata beliau terkait dengan hadis dan tasawuf ini:

أَصْلُ التَّصَوُّفِ مُلاَزَمَةُ الكِتَابِ وَالسُّنَّة، وَتَرْكُ الأَهْوَاءِ وَالبِدَع، وَتَعْظِيْمُ حُرُمَاتَ المَشَايِخ، وَرؤيَةُ أَعذَار الخَلْق، وَالدَّوَامُ عَلَى الأَورَاد.

Dasar tasawuf adalah keterikatan pada Al-Quran dan Sunnnah, meninggalkan hawa nafsu dan bid’ah, menghormati para guru, mempertimbangkan udzur manusia, dan istikamah membaca wirid. (Siyar A’lam al-Nubala, 17/249).

Imam Abu Abdurrahman al-Sulami bernama lengkap Syaikh Al-Qudwah Abu Abdurrahman Muhammad bin al-Husain bin Musa al-Sulami al-Azdi Al-Shufi al-Syafi’i. Wafat pada bulan Sya’ban tahun 412 H. pada usia 82 tahun. (Sullam al-Wushul Ila Thabaqat al-Fuhul, 3/133)

Imam al-Khalili dalam kitab al-Irsyad fi Ma’rifat ‘Ulama’ al-Hadits menulis sebagai berikut:

Abu Abdurrahman Muhammad bin al-Husain bin Musa al-Sulami al-Azdi, cucu Syaikh Isma’il bin Nujaid al-Sulami. Dia orang yang tsiqah dan disepakati ke-tsiqah-annya. Dia merupakan golongan Zuhhad (orang-orang yang zuhud). Dia punya pengetahuan tentang detail-detail ilmu ulama sufi. Dia punya karangan-karangan dalam detail-detail itu yang belum dikarang oleh orang-orang sebelumnya.

Dia belajar secara sima’ (mendengar langsung) kepada Muhammad bin Ya’qub al-Ashamm, Abu Hamid Ahmad bin Ali al-Muqri, Yahya bin Manshur, Abu al-Walid Hassan bin Muhammad, dan ulama-ulama seangkatan mereka di Naisaburi.

Al-Sulami punya pengetahuan dalam bidang hadis. Dia mengumpulkan hadis-hadis dalam satu tema, sedikit meriwayatkannya dan lainnya. Dia banyak melakukan sima’ al-hadith. Al-Sulami meninggal setelah tahun 400. Saya (al-Khalili [w. 446 H/]) pernah mendengar dia berkata, saya (al-Sulami) pernah mendengar kakek saya yaitu Isma’il bin Nujaid al-Sulami, berkata, saya pernah mendengar Utsman bin Sa’id bin Isma’il al-Razi al-Zahid berkata; orang yang jumlah wiridnya menyelisihi jumlah wiridmu, hatinya akan menyelisihi hatimu (al-Irsyad Fi Ma’rifat ‘Ulama’ al-Hadits, 3/860)

Abu Abdurrahman Muhammad bin al-Husain bin Musa al-Sulami al-Naisaburi al-Shufi al-Syaikh al-Kabir al-Waliy al-Syahir. Ia melakukan shuhbah dengan kakeknya, Abu Amr bin Nujaid. Al-Sulami mendengar dari Al-Ashamm dan angkatannya. Dia adalah ahli tajwid dan periwayat hadis. Wafat tahun 412 H. (Qiladah al-Nahar Fi Wafayat A’yan al-Dahr, 3/327)

Muhammad bin al-Hhusain bin Muhammad bin Musa bin Khalid bin Salim bi Zawiyah ibn Sa’id bin Qabishah bin Suraq al-Azdi dari sisi ayahnya, al-Sulami dari sisi kakeknya. Beliau adalah seorang imam yang mencapai derajat al-hafizh, al-muhaddits, syaikh para ulama Khurasan, pembesar kaum sufi; Abu Abdurrahman al-Naisaburi al-Shufi, pemilik banyak karya ilmiah (Ittihaf al-Murtaqi Bi Tarajim Syuyukh al-Baihaqi, hlm. 429).

Dalam karya-karya Imam al-Baihaqi namanya disebut dengan Abu Abdurrahman Muhammad bin al-Husain bin Muhammad bin Musa al-Sulami. Terkadang disebut Abu Abdurahman al-Sulami Muhammad bin al-Husain. Selain itu, terkadang disebut Muhammad bin al-Husain bin Muhammad bin Musa al-Sulami. Terkadang disebut Abu Abdurrahman al-Sulami saja (Ittihaf al-Murtaqi Bi Tarajim Syuyukh al-Baihaqi, hlm. 429).

Al-Sulami berguru kepada: Ibrahim bin Ahmad bin Muhammad bin Raja’ Abu Ishaq al-Abzari al-Naisaburi al-Warraq yang terkenal dengan nama al-Buzari, Ibrahim bin Tsabit Abu Ishaq al-Du’a, Ibrahim bin Muhammad bin Ibrahim bin Hatim Abu Isqah al-Naisaburi al-Hairi al-‘Abid, Ahmad bin Ishaq bin Ayub bin Yazid bin Abdurrahman bin Nuh al-Faqih Abu Bakr al-Naisaburi al-Syafi’I yang terkenal dengan sebutan al-Shabaghi –saudara Imam Abul Abbas al-Shabaghi, Ahmad bin bin Ja’far bin Hamdan bin Malik bin Syabib bin Abdullah Abu Kar al-Baghdadi al-Qathi’i al-Hanbali –Periwayat Musnad Ahmad, Ahmad bin Sa’id bin Ahmad bin Muhammad bin Ma’dan al-Faqih Abul Abbas al-Ma’dani al-Azdi, Ahmad bin Ali bin al-Hasan bin Syadzan, Abu Hamid al-Muqri’ dan banyak lainnya (Ittihaf al-Murtaqi Bi Tarajim Syuyukh al-Baihaqi, hlm. 429). Di antara gurunya adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Ziyad Abu Muhammad al-Simdzi al-‘Adl (Ittihaf al-Murtaqi Bi Tarajim Syuyukh al-Baihaqi, hlm. 430).

Imam al-Dzahabi menyebutkan dalam kitab Tarikh al-Islam, bahwa nama lengkap Abdullah bin Muhammad adalah Abdullah bin Muhammad bin Abdullah bin Ali bin Ziyad Abu al-Qasim al-Naisaburi al-Simdzi. Beliau wafat pada tahun 391 H. Beliau adalah murid Ibnu al-Syarqi dan Muhammad bin Hamdun. Di antara muridnya, selain al-Sulami adalah al-Hakim al-Naisaburi pengarang kitab al-Mustadrak ‘Ala al-Shahihain (Tarikh al-Islam, 8/704).

Al-Sulami memiliki murid yang menjadi ulama-ulama besar pada zamannya. Di antaranya adalah Imam al-Baihaqi, Abu al-Qasim Abdul Karim al-Qusyairi al-Naisaburi al-Syafi’i al-Shufi pengarang kitab Risalah al-Qusyairiyyah dan lainnya (Ittihaf al-Murtaqi Bi Tarajim Syuyukh al-Baihaqi, hlm. 430). Imam Al-Hakkari (w. 486 H.) menyebut bahwa ia pernah berguru kepada al-Sulami dan mendapat riwayat hadis secara kitabah (kitab Hadiyyatul Ahya’ ilal Amwat wa Maa Yashilu Ilaihim).

Sampai di sini, kita dapat memahami bahwa Imam Abu Abdurrahman al-Sulami adalah ulama besar dalam bidang hadis dan tasawuf. Sekalipun memiliki posisi yang terhormat di hadapan berbagai kalangan ulama, masih ada yang menilai beliau punya kekurangan. Bahkan memberikan jarh (kritik) terhadap beliau.

Imam al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan kata-kata Muhammad bin Yusuf al-Qatthan al-Naisaburi yang menyatakan: kana abu abdurrahman al-sulami ghairu tsiqah wa kana yadha’u li al-shufiyati al-ahadits (Abu Abdurrahman bukan orang yang tsiqah dan dia membuat hadis palsu untuk kalangan sufi). (Siyar A’lam al-Nubala’, 17/252)

Al-Dzahabi berkata, Imam al-Sulami punya kitab kumpulan pertanyaan yang beliau ajukan kepada Imam al-Daruquthni tentang status para ulama. Pertanyaan-pertanyaannya menunjukkan beliau adalah orang yang bijak (arif). Dalam karya-karyanya terdapat hadis-hadis dan hikayat-hikayat palsu. Dalam kitab Haqa’iq al-Tafsirnya, ditemukan banyak penjelasan yang tidak punya dasar. Sebagian imam menganggapnya sebagai ajaran zindik kaum Batiniyah. Sebagian imam lainnya menilainya sebagai irfan dan hakikat. (Siyar A’lam al-Nubala’, 17/252)

Saya berpendapat bahwa pernyataan yang menyebut Abu Abdurrahman al-Sulami pernah membuat hadis palsu untuk kaum sufi perlu dibuktikan. Tidak semata ketika seseorang melemparkan pernyataan semacam itu bisa langsung diterima. Kemudian, terkait dengan pemuatan hadis palsu atau hikayat palsu, adalah persoalan yang umum terjadi dalam berbagai bidang kajian ilmu keislaman.

Ahli fiqh, ahli nahwu, ahli kalam, dan lainnya, tidak sedikit yang terjebak dalam penggunaan hadis palsu atau maudhu’. Dalam kenyataannya, mereka tetap dihormati sebagai pakar di bidangnya. Hal ini karena, agaknya, mereka bekerja dalam kerangka keilmuan Islam maenstream yang sedikit banyak punya dasar sahih dalam Al-Quran dan hadis. Jika ahli kritik hadis mengkritiknya, memang kapasitasnya yang perlu dihormati. Tetapi, dalam kenyataanya, sekali lagi, karya-karya al-Sulami diterima secara luas.

Demikian ulasan singkat tentang profil Imam Abu Abdurrahman al-Sulami. Semoga dapat menambah wawasan.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...