fbpx
Beranda Keislaman Tafsir Ada Anggota Tubuh yang Wajib Ditutup dan Ada yang Wajib Dibuka, Begini...

Ada Anggota Tubuh yang Wajib Ditutup dan Ada yang Wajib Dibuka, Begini Penjelasan Muhammad Syahrur Tentang Aurat

Harakah.id – Penjelasan Muhammad Syahrur tentang aurat dan jilbab memang mengundang kontroversi. Menurut Syahrur, aurat itu tergantung rasa malu yang jadi indikatornya. Jadi batasnya bisa saja berbeda-beda, tergantung budaya berpakaian manusia di sebuah wilayah. Muhammad Syahrur memperjelas persoalan, menutup aurat sejatinya adalah menutup anggota badan yang ketika dibuka, seseorang akan merasa malu.

- Advertisement -

Persoalan dasar yang mendorong Sfahrur berupaya melakukan kajian kelslaman dalam hal ini dibedakan dalam dua dimensi yang saling berkaitan yaitu; pertama, realitas masyarakat Islam kontemporer, dan kedua, realitas doktrin dan turast dalam Islam. Dua hal inilah yang akan mengarahkan kepada munculnya kegelisahan pemikiran dalam diri Syahrur. Shahrur melihat bahwa masyarakat kontemporer telah terpolarisasi ke dalam dua blok;

Pertama, mereka yang berpegang secara ketat kepada arti literal dari tradisi. Mereka berkeyakinan bahwa warisan tersebut menyimpan kebenaran absolut. Apa yang cocok untuk komunitas pertama dari orang-orang beriman di zaman Nabi SAW juga cocok untuk semua orang-orang yang beriman di zaman apapun. Kepercayaan ini telah menjadi sesuatu yang absolut dan final. Kedua, mereka yang cenderung untuk menyerukan sekulerisme dan modernitas, menolak semua warisan Islam termasuk Al-Quran sebagai bagian dari tradisi yang diwarisi, yang hanya menjadi narkotik pada pendapat umum. Bagi mereka, ritual adalah sebuah gambaran ketidakjelasan.

Dampaknya, dalam dunia penafsiran al-Qur’an pun, Syahrur memposisikan diri di tengah-tengah antara mereka yang memegang kuat terhadap literasi dan mereka yang cenderung menyerukan modenitas dan sekularisme. Syahrur menyerukan untuk kembali kepada teks dengan paradigma yang baru. Syahrur juga mengakomodir pemahaman agama dengan pendekatan filsafat. Syahrur melihat bahwa realitas historis tindakan manusia pada abad ke 7 ketika al-Kitab turun, merupakan salah satu bentuk interaksi dan upaya dalam penafsiran al-Kitab yang tentunya bukan sesuatu produk yang final. Segala sesuatu mengandung nilai-nilai tradisi kecuali masalah ibadah, hudud dan as-sirat al-mustaqim yang tidak terikat ruang dan waktu.

Baca Juga: Mengenal Muhammad Syahrur, Pakar Pondasi Bangunan yang Menyusun Teori Tafsir Kontemporer Nan Kontroversial

Apa yang dilakukan Nabi adalah salah satu model penafsiran yang al Kitab sesuai dengan konteks ruang dan waktu beliau hidup. Syahrur berpendapat bahwa kaum muslimin tidak memerlukan interpretasi yang baru, atau sebuah tafsir baru. Kaum muslim tidak memerlukan sebuah Islam yang baru seperti yang diimajinasikan oleh beberapa orang. Syahrur lebih setuju untuk membuat suatu usaha rasional yang serius untuk membaca kembali at-Tanzil, terbebas dari semua tambahan sejarah yang ditambahkan secara sewenang-wenang oleh pejabat pemerintahan dan kemudian berusaha melihat pesan tersebut dengan mata zaman sekarang, seolah-olah Nabi Muhammad baru meninggal kemarin.

Penjelasan Muhammad Syahrur Tentang Aurat dan Jilbab; Menafsir Ayat-Ayat Jilbab dan Batas Hukum Menutup Aurat

Sebelum masuk dalam pembahasan penjelasan Muhammad Syahrur tentang aurat dan jilbab, ada hal yang penting dipaparkan terlebih dahulu.Yakni tentang salah satu temuan orisinal dari Syahrur dalam rangka menafsirkan ulang ayat-ayat muhkamât (ayat-ayat hukum) dalam Alquran adalah teori batas (nazhariyyah al-hudûd). Teori tersebut dibangun atas asumsi bahwa risalah Islam yang dibawa Muhammad Saw adalah risalah yang bersifat mendunia (âlamiyah) dan dinamis, sehingga ia akan tetap relevan dalam setiap zaman dan tempat (shâlih li kulli zamân wa makân).

Kelebihan risalah Islam adalah bahwa di dalamnya terkandung dua aspek gerakan. Pertama, gerakan konstan (istiqâmah) dan kedua gerakan dinamis (hanîfiyyah). Dua hal ini yang menyebabkan ajaran Islam menjadi fleksibel. Namun demikian, sifat fleksibiltas (al-murûnah) ini berada dalam bingkai hudûdullâh (batas-batas Allah). Jika para rasul sebelumnya menerima risalah-risalah yang bersifat `ainiyyah-haddiyah (real-fixed), artinya konkrit dan tinggal mengamalkan, maka tidak demikian halnya dengan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw sebagai nabi terakhir. Risalahnya bersifat hudûdiyyah, yang masih memungkinkan adanya ruang gerak ijtihad di dalamnya dan bukan haddiyah yang tidak ada lagi ruang ijtihad di dalamnya.

Menurut Syahrur, seluruh risalah langit menyinggung masalah perempuan ketika diturunkan. Risalah tersebut berupaya mengembalikan kehormatan perempuan dan memposisikannya secara sejajar dengan laki-laki, di samping mendesain peran masing-masing dalam keluarga dan masyarakat. Perempuan mukminat diwajibkan untuk menutup bagian-bagian tubuhnya yang apabila ditampakkan akan menyebabkan adanya gangguan (al-ada). Perintah ini, menurut Syahrur berasal dari surat al- Ahzab (33): 59.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Gangguan (al-adza’) terdiri dari dua macam, yaitu yang bersifat alami (al-tabi’i) dan sosial (al-ijtima’i). Gangguan alami yang terkait dengan lingkungan geografis, seperti suhu udara dan cuaca. Perempuan hendaknya berpakaian sesuai dengan kondisi suhu dan cuaca yang ada di tempat tinggalnya, sehingga tidak mengalami gangguan alami pada dirinya. Sedangkan gangguan social adalah gangguan yang berasal dari masyarakat, akibat pakaian luar yang digunakan oleh perempuan. Karenanya, perempuan hendaknya memakai pakaian luarnya dan beraktifitas sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di daerahnya, sehingga tidak menjadi sasaran celaan dan gangguan dari orang-orang. Untuk konteks masa kini, pemberlakuan ayat tersebut dapat berupa tata cara bepergiannya perempuan yang didasarkan pada kebiasaan setempat, dengan catatan dapat menghindarkannya dari gangguan sosial.

Baca Juga: Tidak Ada Kata Sinonim dalam al-Quran, Prinsip Metode dan Hermeneutika Tafsir ala Muhammad Syahrur

Menurut Syahrur, ayat al-Ahzab (33): 59 masuk dalam klasifikasi ayat ta’limat (pengajaran), bukan sebagai penetapan hukum (tasyri’). Berkaitan dengan jilbab dan batas aurat yang wajib ditutupi, Sahrur menjelaskan bahwa terma jilbab berasal dari kata ja-la-ba yang dalam bahasa Arab memiliki dua arti dasar, yaitu, pertama, mendatangkan sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain. Kedua, sesuatu yang meliputi dan menutupi sesuatu yang lain. Adapun kata al-jalabah berarti sobekan kain yang digunakan untuk menutupi luka sebelum bertambah parah dan bernanah.

Dari pengertian ini muncul kata al-jilbab untuk perlindungan, yaitu pakaian luar yang dapat berbentuk celana panjang, baju, seragam resmi, mantel dan lain-lain. Jadi menurutnya, seluruh bentuk pakaian semacam ini termasuk dalam pengertian al-jalabib. Adapun aurat menurut Shahrur berasal dari kata ‘aurah yang artinya adalah segala sesuatu yang jika diperlihatkan, maka seseorang akan merasa malu. Rasa malu mempunyai tingkatan yang bersifat relatif, tidak mutlak dan mengikuti adat kebiasaan setempat. Jadi, yang terkait dengan batasan aurat dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat, akan tetapi yang berkaitan dengan daerah inti pada tubuh (aljuyub) bersifat tetap dan mutlak.

Terma inti tubuh (al-juyub) didapatinya dari surat an-Nur (24): 31. Shahrur mempunyai penafsiran yang berbeda dengan para mufassir lainnya dalam memaknai ayat tersebut. Menurut Syahrur, ayat tersebut adalah ayat muhkam yang termasuk dalam kategori Umm al-Kitab. Dengan analisis linguistiknya, ia menemukan tiga kata kunci dalam ayat tersebut, yaitu al-darb, al-khumur dan al-juyub. Ayat tersebut menunjukkan perintah Allah kepada perempuan untuk menutup bagian tubuh mereka yang termasuk dalam kategori al-juyub.

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Al-juyub berasal dari kata ja-ya-ba seperti dalam perkataan jabtu al-qamisa, artinya aku melubangi bagian saku baju atau aku membuat saku pada baju. Al-juyub adalah bagian terbuka yang memiliki dua tingkatan, bukan satu tingkatan karena pada dasarnya kata ja-ya-ba berasal dari kata ja-wa-ba yang memiliki arti dasar ”lubang yang terletak pada sesuatu” dan juga berarti pengembalian perkataan ”soal dan jawab”. Istilah al-juyub pada tubuh perempuan memiliki dua tingkatan atau dua tingkatan sekaligus sebuah lubang yang secara rinci berupa: bagian antara dua payudara, bagian bawah payudara, bagian bawah ketiak, kemaluan dan pantat. Semua bagian inilah yang dikategorikan sebagai al-juyub dan wajib ditutupi oleh perempuan.

Adapun kata al-khimar berasal dari kata kha-ma-ra yang berarti tutup. Minuman keras disebut khamr karena ia menutupi akal. Istilah al-khimar bukan hanya berlaku bagi pengertian penutup kepala saja, tetapi semua bentuk tutup, baik bagi kepala atau selainnya. Dengan kata lain, bahwa al-khimar merupakan penutup untuk bagian tubuh perempuan yang termasuk dalam kategori al-juyub.

Baca Juga: Mengenal Muhammad Rashid Ridha dan Kitab Tafsir Al-Manar

Sedangkan kata al-darb mempunyai dua makna, pertama, berarti bepergian untuk tujuan pekerjaan, perdagangan dan perjalanan. Kedua, bermakna bentuk (al-sigah) dan pembentukan, pembuatan, menjadikan (al-siyagah). Menurut Syahrur, kata darb dipakai dalam berbagai kalimat seperti menyatakan tabiat atau karakter, menyatakan macam suatu benda, seakan-akan ia membuat pemisah lain yang dianggap dapat menyerupainya. Kalimat daraba fulanun ‘ala yadi fulanin berarti seseorang menghalangi orang lain. Dari sini muncul istilah al-idrab al-‘amal yang berarti mengekang diri untuk melakukan pekerjaan, sedangkan istilah al-idrab ‘an al-ta’am berarti mengekang nafsu untuk makan.

Dari pengertian tersebut, maka sebab-sebab larangan dalam redaksi “wa la yadribna bi arjulihinna” dimaksudkan agar kaum perempuan tidak memperlihatkan bagian tubuhnya yang termasuk dalam kategori al-juyub. Dalam hal ini Allah SWT melarang perempuan untuk melakukan usaha atau pekerjaan (al-darb) yang memperlihatkan sebagian atau seluruh daerah intimnya (al-juyub), seperti profesi striptease dan prostitusi. Dengan kata lain, diperbolehkan kaum perempuan untuk berkiprah dalam bidang-bidang profesi yang tidak termasuk dalam kategori ini.

Dalam kaitannya dengan teori limit (nazariyyah al-hudud) yang dirumuskannya, ia menyatakan bahwa batas minimal (hadd al-anda) pakaian perempuan yang berlaku secara umum adalah menutup daerah inti bagian atas (al-juyub al-‘ulwiyyah), yaitu daerah payudara dan bawah ketiak, dan juga menutup daerah inti daerah bawah (al-juyub al-sufliyyah).

Adapun dalam kaitannya dengan ketentuan aurat sebagaimana dalam hadis nabi, yaitu seluruh badan perempuan, kecuali wajah dan telapak tangan, maka bisa dikatakan bahwa hadd al-adna adalah bagian yang termasuk dalam kategori al-juyub, baik al-juyub al-‘ulwiyyah atau al-juyūb al-sufliyyah. Sedangkan hadd al-a’la-nya adalah daerah yang termasuk dalam “mā zahara minha” (wajah dan kedua telapak tangan). Konsekuensinya, perempuan yang menampakkan bagian al-juyub berarti dia telah melanggar hudud Allah SWT. Begitu juga perempuan yang menutup seluruh tubuhnya tanpa terkecuali, maka dia juga melanggar hudud Allah SWT.

Inilah penjelasan Muhammad Syahrur tentang aurat dan jilbab.. Dengan model pendekatan tafsir semacam ini, kita tentu boleh saja tidak setuju dengan Muhammad Syahrur. Tapi yang perlu dicatat, perdebatan tidak harus selamanya berbentuk caci maki dan diakhiri dengan umpatan. Tugas Muhammad Syahrur hanya melontarkan gagasannya ke ruang publik. Selebihnya, kita yang bisa menghitung kadar nilai gagasannya dalam konteks keberislaman, khususnya di Indonesia.

REKOMENDASI

Muktamar NU 17 di Madiun, Upaya NU Membendung Pergerakan PKI Dan Agenda Pendirian Negara...

Harakah.id – Upaya NU membendung pergerakan PKI sudah jauh dilakukan sebelum pecahnya tragedi pemberontakan Madiun tahun 1948. Dengan melaksanakan Muktamar NU...

Respons Para Kiai Dalam Tragedi Gestapu, Santuni Janda Dan Pesantrenkan Anak Yatim Tokoh-Tokoh PKI

Harakah.id - Respons para kiai dalam tragedi Gestapu sangat jelas. Para Kiai menyatakan bahwa PKI tetap harus dibatasi pergerakannya. Hanya saja,...

Ini Jawaban Apakah Jodoh Itu Takdir Atau Pilihan?

Harakah.id – Jodoh itu takdir atau pilihan? Setiap orang tentu bisa berikhtiar memilih dan menentukan untuk menikah dengan siapa. Tapi dia...

Maqashid Syariah Sebagai Ruh Kerja Ijtihad, Konsep Dasar Maqashid Syariah dan Sejarah Perkembangannya

Harakah.id – Maqashid Syariah sebagai ruh kerja ijtihad memang tidak bisa disangkal. Maqashid Syariah adalah maksud dan tujuan pensyariatan itu sendiri....

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...