Beranda Keislaman Tafsir Ada Kejanggalan dalam Surat Al-Kafirun, Kok Bisa? Begini Penjelasan Ahli Bahasa

Ada Kejanggalan dalam Surat Al-Kafirun, Kok Bisa? Begini Penjelasan Ahli Bahasa

Harakah.id – Para pemerhati Al-Quran sempat dibuat penasaran dengan redaksi yang digunakan Al-Quran. Dimana pada ayat ketiga dikatakan, wa la antum ‘abiduna ma a’bud (dan tidaklah kalian menyembah apa yang aku sembah).

Misteri surat Al-Kafirun. Al-Quran merupakan wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW. Redaksi dan maknanya bersumber dari Allah SWT. Al-Quran merupakan sumber utama ajaran agama dalam agama Islam. Selain itu, Al-Quran juga menjadi bukti kebenaran ajaran Nabi Muhammad SAW. Diyakini, Al-Quran adalah bukti kebenaran yang tak bisa dibantah. Karena itu, Al-Quran disebut mukjizat.

Al-Quran merupakan ‘ide utama’ dan ‘subjek mandiri’ yang dapat berhadapan dengan orang-orang yang tidak percaya. Al-Quran senantiasa mengajak berdialog dan beradu logika. Ia tidak segan menantang pihak-pihak yang menolaknya untuk berdebat sekuat tenaganya. Menggunakan berbagai kemampuan akal, fikiran, perasaan dan pengalaman. Al-Quran menantang manusia untuk menggunakan al-‘aql, al-lubb, al-shadr, al-fu’ad, al-fikr, al-bashar, al-sam’u, al-sawamati wal-ardh, dan al-insi wal-jinn untuk menjawab tantangannya.

Al-Quran ibarat pendekar pilih tanding, tak segan berhadapan dengan siapa pun yang bersedia berdialog dengannya; membicarakan tentang problem ketuhanan. Dari zaman mana dan dari daerah mana. Tidak jarang, manusia yang membawanya, tidak mampu menggunakan akal fikiran dan kemampuan tertingginya untuk menghadapi para penolak Al-Quran. Tetapi, Al-Quran sendiri yang kemudian menjadi subyek yang bergerak sendiri; membentuk wacana, diskursus, pengetahuan, perdebatan di kalangan lawan-lawannya dan menunjukkan kedigdayaan dirinya dalam memajukan umat manusia. Al-Quran mungkin secara eksplisit tidak tersebutkan dalam budaya tertentu, tetapi tidak dapat dipungkiri ide-ide yang berkembang dalam budaya tersebut punya akar yang kuat dalam Al-Quran.

Kesediaan Al-Quran dalam berdialog ini telah menjadi fenomena umum dalam sejarah awal Islam. Dalam periode Mekah, Al-Quran tidak segan menantang para orang pintar suku Quraisy; yang diyakini memiliki basis pengetahuan dan imajinasi tak tertandingi di kalangan suku Quraisy. Para elit pemimpin suku Quraisy tidak luput dari tantangan “penggunaan perang pemikiran” ini. Salah satunya, terekam dalam surat Al-Kafirun.

Surat Al-Kafirun terdiri dari 6 ayat. Bersama dengan surat Al-Ikhlas, surat Al-Kafirun digelari dengan sebutan Al-Muqasyqisyat yang berarti sang pembebas (al-mubri’un). Dapat berarti pembebas dari keyakinan syirik atau munafik. Al-Ikhlas mengajarkan ketulusan dan kemurnian keyakinan. Sedangkan Al-Kafirun mengajarkan kemurnian dalam bersikap. Diriwayatkan,

عَنِ الْحَارِثِ بْنِ جَبَلَةَ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، عَلِمْنِي شَيْئًا أَقُولُهُ عِنْدَ مَنَامِي. قَالَ: “إِذَا أَخَذْتَ مضجعَك مِنَ اللَّيْلِ فَاقْرَأْ: ” قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ” فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ”.

Dari Al-Harits bin Jabalah yang berkata, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, ajari saya bacaan yang bisa saya baca sebelum tidur.’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketika engkau akan tidur pada waktu malam, bacalah Qul Ya Ayyuhal Kafirun. Sungguh, ia adalah kebebasan dari syirik.” (HR. Ahmad).

Surat Al-Kafirun turun setelah kaum Quraisy kewalahan menghadapi dakwah Islam. Kegigihan Nabi Muhammad SAW dan kekuatan logika Al-Quran sangat sulit ditakhlukkan oleh mereka. Karena itu, kaum Quraisy mengajak Nabi Muhammad SAW untuk berbagi keyakinan. Sesekali kaum Quraisy menjadi pengikut tauhid, dan sesekali Nabi Muhammad SAW menjadi penyembah berhala kaum Quraisy. Pakar bahasa dan balaghah Al-Quran, Al-Zamakhsyari (w. 538 H.) menulis,

روى أنّ رهطا من قريش قالوا: يا محمد، هلم فاتبع ديننا ونتبع دينك: تعبد آلهتنا سنة ونعبد إلهك سنة، فقال معاذ الله أن أشرك بالله غيره: فقالوا: فاستلم بعض آلهتنا نصدقك ونعبد إلهك، فنزلت، فغدا إلى المسجد الحرام وفيه الملأ من قريش فقام على رؤوسهم فقرأها عليهم، فأيسوا.

Diriwayatkan bahwa sekelompok orang Quraisy berkata, “Wahai Muhammad, kemarilah. Ikutilah agama kami, kami akan mengikuti agamamu. Engkau beribadah kepada tuhan-tuhan kami selama satu tahun, kami akan menyembah Tuhan-mu selama satu tahun.” Nabi SAW berkata, “Aku berlindung kepada Allah, jangan sampai aku menyekutukan Allah dengan selain-Nya.” Kaum Quraisy berkata, “Usaplah sebagian berhala kami, kami akan beriman kepadamu dan menyembah Tuhanmu.” Lalu turunlah surat Al-Kafirun. Nabi SAW berangkat ke Masjidil Haram. Di sana sudah ada perkumpulan orang Quraisy. Nabi SAW berdiri di hadapan mereka. Lalu membacakan surat Al-Kafirun kepada mereka. Mereka akhirnya putus asa. (Tafsir Al-Kasyyaf, jilid 4, hlm. 808)  

Para pemerhati Al-Quran sempat dibuat penasaran dengan redaksi yang digunakan Al-Quran. Dimana pada ayat ketiga dikatakan, wa la antum ‘abiduna ma a’bud (dan tidaklah kalian menyembah apa yang aku sembah).

Apa yang disembah oleh Nabi Muhammad SAW adalah Allah SWT. Menjadi persoalan adalah karena dalam ayat tersebut digunakan kata “Ma”. Kata “Ma” biasanya digunakan untuk menyebut sesuatu yang tidak berakal fikiran seperti benda mati, pepohonan, alam semesta, selain malaikat, manusia dan jin. Jika maknanya “Ma” dalam ayat ini adalah Allah, mengapa digunakan redaksi yang seakan merendahkan Allah?

Al-Zamakhsyari juga pernah mendapat pertanyaan ini. Menurutnya, ada dua cara menjelaskan penggunaan kata “Ma” ( yang berarti “apa”) dalam ayat ini. Pertama, “Apa” dalam ayat ini merujuk kepada sifat Al-Haqq, Kemahabenaran Allah sebagai Tuhan yang berhak disembah. Sifat Maha Benar yang merupakan salah satu sifat Allah. Jadi, ketika dikatakan “Wa la antum ‘abiduna ma a’bud”, maka artinya “Kalian tidaklah menyembah Tuhan Yang Maha Benar yang aku sembah.” Untuk ayat sebelumnya, yang mengatakan la a’budu ma ta’budun (aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah), juga merujuk kepada sifat sesembahan kaum Quraisy, yaitu tuhan-tuhan palsu yang tidak benar (al-bathil). Dengan demikian, artinya adalah “Aku tidak akan menyembah kebatilan yang kalian sembah”. Tuhan-tuhan batil yang kalian sembah. “Ma” dalam ayat kedua berarti al-bathil, sedangkan “Ma” dalam ayat ketiga berarti al-haqq.

Kedua, “Ma” dalam ayat ini berfungsi mengubah kata kerja menjadi kata benda. “Ma a’bud” berarti “Seperti ibadahku”. Dengan demikian, arti dari wa la antum ‘abiduna ma a’bud adalah “Kalian tidak akan beribadah seperti ibadahku.” Al-Zamakhsyari berkata,

فإن قلت: فلم جاء على «ما» دون «من» ؟ قلت، لأن المراد الصفة، كأنه قال: لا أعبد الباطل، ولا تعبدون الحق. وقيل: إن «ما» مصدرية، أى: لا أعبد عبادتكم، ولا تعبدون عبادتي

Jika ditanyakan, kenapa digunakan kata “Ma”, bukan “Man”? Saya jawab, “Karena yang dikehendaki adalah sifat Tuhan. Seakan Allah menyuruh Nabi mengatakan, “Saya tidak akan menyembah yang batil, dan kalian tidak akan menyembah yang hak.” Menurut pendapat lain, “Ma” berfungsi masdariyah (mengubah kata kerja jadi kata benda). Jadi maksudnya adalah aku tidak akan beribadah/menyembah seperti kalian beribadah/menyembah. Dan kalian tidak akan beribadah seperti ibadahku. (Al-Kasyyaf, jilid 4, hlm. 809)

Melalui diskusi ini, sekali lagi, Al-Quran mengajak kepada dialog yang lebih mengasah akal-fikiran; dengan mengajak kaum Quraisy merenungi karakteristik Tuhan yanng hak dan yang batil. Dibandingkan terpaku pada sosok, sebagaimana yang lebih diindikasikan oleh kata “Man” dalam bahasa Arab.  

Bisa disimpulkan bahwa Al-Quran sudah menggunakan bahasa yang tepat sesuai dengan karakterisitik Al-Quran yang ingin senantiasa mengajak manusia berdialog dan mendayagunakan akal-fikirannya. Al-Quran menggunakan “Ma” (apa) adalah karena ingin mengarahkan imajinasi pendengar/pembacanya pada sifat dan karakteristik Tuhan yang benar dan yang batil. Kebenaran dan kebatilan hanya dapat dipahami oleh akal-fikiran. Al-Quran menghindarkan pembacanya berfokus pada sosok, dimana ketika orang sudah berhasil menggambar suatu sosok, pikirannya akan terhenti di sana.

Semoga ulasan singkat ini bermanfaat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...