Beranda Khazanah Adab Menulis Rajah dan Azimat Menurut Ulama Mazhab Syafi’i

Adab Menulis Rajah dan Azimat Menurut Ulama Mazhab Syafi’i

Harakah.idLebih jauh lagi, sebagian ulama bermazhab Syafi’i telah membuat pedoman penulisan rajah dan azimat agar sesuai dengan syariat Islam. Berikut adalah penjelasan kitab Hasyiyah Al-Syarwani Ala Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarh Al-Minhaj.

Kaum Muslimin di Indonesia telah lama mengenal rajah. Rajah adalah sejenis tulisan yang mengombinasikan huruf, angka dan lainnya.

Budaya rajah di Indonesia umumnya menggunakan huruf dan angka-angka Arab. Hampir jarang ditemukan penggunaan rajah dengan aksara nusantara kuno.

Karena itu bisa disimpulkan bahwa budaya rajah di Indonesia merupakan bentuk pengaruh budaya Arab di bumi nusantara, kecuali rajah di daerah pedalaman yang belum mendapatkan sentuhan dakwah Islam.

Rajah dalam pandangan ahli fikih memiliki beragam ketentuan. Tergantung materi yang digunakan dan tujuannya. Selama materi yang digunakan bersumber dari teks-teks suci Islam dan digunakan untuk tujuan positif dalam pandangan syariat Islam, maka ia boleh digunakan. Rumus yang ditulis dalam rajah termasuk doa dengan simbol.

Lebih jauh lagi, sebagian ulama bermazhab Syafi’i telah membuat pedoman penyusunan rajah agar sesuai dengan syariat Islam. Berikut adalah penjelasan kitab Hasyiyah Al-Syarwani Ala Tuhfah Al-Muhtaj Fi Syarh Al-Minhaj. Imam Al-Syarwani menulis,

وَفِي الْبُجَيْرِمِيّ مَا نَصُّهُ قَالَ شَيْخُنَا الْجَوْهَرِيُّ نَقْلًا عَنْ مَشَايِخِهِ يُشْتَرَطُ فِي كَاتِبِ التَّمِيمَةِ أَنْ يَكُونَ عَلَى طَهَارَةٍ وَأَنْ يَكُونَ فِي مَكَان طَاهِرٍ وَأَنْ لَا يَكُونَ عِنْدَهُ تَرَدُّدٌ فِي صِحَّتِهَا وَأَنْ لَا يَقْصِدَ بِكِتَابَتِهَا تَجْرِبَتَهَا وَأَنْ لَا يَتَلَفَّظَ بِمَا يَكْتُبُ وَأَنْ يَحْفَظَهَا عَنْ الْأَبْصَارِ بَلْ وَعَنْ بَصَرِهِ بَعْدَ الْكِتَابَةِ وَبَصَرِ مَا لَا يَعْقِلُ وَأَنْ يَحْفَظَهَا عَنْ الشَّمْسِ وَأَنْ يَكُونَ قَاصِدًا وَجْهَ اللَّهِ فِي كِتَابَتِهَا وَأَنْ لَا يُشَكِّلَهَا وَأَنْ لَا يَطْمِسَ حُرُوفَهَا وَأَنْ لَا يَنْقُطَهَا وَأَنْ لَا يُتَرِّبَهَا وَأَنْ لَا يَمَسَّهَا بِحَدِيدٍ وَزَادَ بَعْضُهُمْ شَرْطًا لِلصِّحَّةِ، وَهُوَ أَنْ لَا يَكْتُبَهَا بَعْدَ الْعَصْرِ وَشَرْطًا لِلْجُودَةِ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ صَائِمًا اهـ.

Dalam kitab Al-Bujairami, terdapat keterangan; Guru kami Syikh Al-Jauhari menukil dari guru-gurunya berkata, disyaratkan bagi penulis rajah agar:

(1) Dalam keadaan suci. (2) Berada di tempat yang suci (3) Tidak ada keraguan dalam hati tentang keampuhan rajah. (4) Tidak bermaksud uji coba saat menulisnya. (5) Tidak melafalkan rajah yang sedang ditulisnya. (6) Menjaga dari pandangan, bahkan pandangannya sendiri dan pandangan makhluk yang tidak berakal.

(7) Menjaga dari terkena sinar matahari (8) Menulis rajah untuk mendapatkan ridha Allah. (9) Tidak memberi harakat (tanda baca) pada rajah. (10) Tidak menghapus huruf-hurufnya. (11) Tidak memberi titik. (12) Tidak mengotorinya dengan debu. (13) Tidak disentuhkan besi.

Sebagian ulama memberi syarat agar rajah ini ampuh, yaitu tidak ditulis setelah waktu asar. Syarat lain agar bergungsi baik adalah rajah ditulis dalam keadaan seseorang berpuasa. (Hasyiyah Al-Syarwani Ala Tuhfah Al-Muhtaj, 1/149)

Jika diperhatikan betul adab-adab di atas, intinya adalah bagaimana memuliakan rajah yang biasanya menggunakan nama-nama agung yang dimuliakan seperti nama Allah dan rasul-Nya. Dimana dalam aturan yang dijelaskan dalam kitab fikih, harus ditempatkan di tempat yang mulia. Bukan tempat yang kotor dan jorok.

Demikian penjelasan singkat tentang adab membuat rajah menurut ulama mazhab Syafi’i dalam kitab fiqihnya. Semoga dapat menjelaskan.

Baca Juga: Mengenal Nama-Nama Pemuda Ashabul Kahfi Berdasarkan Tafsir Al-Qur’an
Baca Juga: Mengenal Qithmir, Anjing Mulia dalam Al-Quran Karena Tabaruk Kepada Orang Saleh

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...