Beranda Keislaman Hadis Adat Peucicap (Memcicipi) Di Aceh Berdasarkan Hadis Nabi SAW

Adat Peucicap (Memcicipi) Di Aceh Berdasarkan Hadis Nabi SAW

Harakah.idUpacara peucicap adalah memberi rasa kepada bayi yang terdiri dari manisan lebah atau madu dan air buah-buahan.

Aceh dikenal sebagai tempat dimana agama dan adat menjadi dua pilar penting dalam penataan sosial, sebagaimana disebutkan dalam sebuah pepatah “Adat bak Poe Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Lakseumana” yang artinya “hukum adat di tangan pemerintah dan hukum syariat ada di tangan ulama”.

Masyarakat Aceh mengenal beberapa tradisi adat pada masa seorang ibu sedang hamil, terutama untuk kehamilan anak pertama. Tradisi tersebut antara lain; ba boh kayee (membawa buah-buahan), jak me bu (membawa nasi) dan peuramin (pergi piknik). Selain tradisi adat pada masa seorang ibu hamil, ada juga tradisi adat sesudah melahirkan salah satunya yaitu tradisi adat peucicap (memcicipi).

Upacara peucicap adalah memberi rasa kepada bayi yang terdiri dari manisan lebah atau madu dan air buah-buahan. Bahan-bahan yang harus dipersiapkan dalam upacara ini terdiri dari manisan lebah, buah sauh, mangga, rambutan, nangka, dan tebu. Di samping itu, diperlukan juga hati ayam, ikan, surat Yasin dan rencong. Ketiga bahan yang terakhir ini sudah jarang dilakukan. Semua bahan-bahan tersebut dipersiapkan oleh ibu perempuan yang melahirkan.

Acara peucicap dilakukan oleh orang-orang alim (orang mempunyai pengetahuan agama yang tinggi), terpandang dan baik budi pekertinya. Ini bertujuan agar anak tersebut akan menjadi alim dan berakhlak mulia. Karena menurut anggapan mereka bahwa anak akan meniru orang yang memberi peucicap.

Bila anak yang akan di-peucicap laki-laki maka akan dilakukan oleh teungku agam (laki-laki), bila perempuan maka akan dilakukan oleh teungku inong (perempuan). Namun ada juga sebagian masyarakat yang tidak terlalu menekankan pada hal seorang alim laki-laki atau perempuan, bahkan kebiasaan yang terjadi, ulama atau teungku laki-laki lah yang melakukan pecicap pada bayi.  

Pada saat memberi peucicap dimulai, orang yang peucicap itu memulai dengan membaca, bismillāh… dan diteruskan dengan beu mameh lidah, panyang umu, mudah raseuki, di thei lam kawom dan taat keu agama (bismillāh… semoga lidahnya manis, panjang umur, mudah rezeki, terpandang dalam masyarakat, dan taat dalam beragama), ada juga sebagian orang alim yang membacakan doa-doa dan ayat Al-Quran lain diluar bacaan diatas.

Setelah itu lidah bayi diolesi madu dan air (pati) buah-buahan yang telah diperas. Kemudian diambil ikan lalu diolesi pada bibirnya. Bahan olesan yang terakhir ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat.

Baca juga: Teungku Fakinah: Ulama Perempuan dan Panglima Perang dari Aceh

Tujuan pengolesan madu dan sari buah-buahan adalah untuk memberikan rasa kepada bayi sebagaimana disebutkan di atas. Sedangkan tujuan memberikan rasa ikan, agar anak nanti, tidak canggung hidup dalam masyarakat, rajin bekerja sebagaimana rajinnya seseorang memancing ikan. Setelah itu ulama atau teungku peucicap itu melantunkan shalawat dan diikuti oleh seluruh undangan yang berhadir pada saat itu.

Tradisi peucicap adalah tradisi yang memiliki pengaruh nilai-nilai Islam didalamnya, karena jika dirujuk dalam ajaran Islam, akan ditemukan hadis tentang Rasulullah mentahnik bayi, kemudian memberinya nama Ibrahim. Tahnik disini berarti melembutkan buah kurma kemudian memasukkan kemulut bayi.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ وُلِدَ لِي غُلَام فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمَّاهُ إِبْرَاهِيمَ فَحَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ وَدَعَا لَهُ بِالْبَرَكَةِ وَدَفَعَهُ إِلَيَّ وَكَانَ أَكْبَرَ وَلَدِ أَبِي مُوسَى

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Ala`, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid bin Abdullah bin Abu Burdah dari Abu Burdah dari Abu Musa dia berkata, “Aku pernah memliki seorang anak yang baru lahir, lalu aku serahkan kepada Nabi , kemudian beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya (mengunyahkan kurma kemudian menyuapkan ke mulut bayi) dengan kurma, setelah itu beliau mendoakannya dengan keberkahan, lalu beliau mengembalikannya kepadaku.” Dan dia (anak tersebut) adalah anak yang paling besar dari anaknya Abu Musa.”(HR. Bukhari, No. 5730)

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa Rasulullah mentahnik seorang bayi dengan mengunyahkan kurma kemudian menyuapkannya ke dalam mulut bayi tersebut, hal ini lah yang dijadikan sebagai sumber sunnahnya mentahnik seorang bayi yang baru lahir, yang dalam adat aceh dikenal dengan istilah peucicap.

Walaupun pelaksanaan yang dilakukan berbeda, namun hal ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini, buah yang diberikanpun tidak hannya kurma saja, namun kurma dijadikan bahan utama yang harus ada dalam serangkaian buah yang akan di peucicapkan pada bayi, dan cara melumatkannya pun dengan tangan, tidak dengan cara dikunya, hal ini karna dipandang jauh sekali perbedaan antara manusia biasa dengan Rasulullah yang merupakan kekasih Allah SWT, Allahumma Shalli’ala Sayyidina Muhammad .

Di antara hikmah yang terkandung dalam tradisi peucicap ini adalah untuk menguatkan syaraf-syaraf mulut dan tenggorokan dengan gerakan lidah dan dua tulang rahang bawah dengan jilatan, sehingga anak siap untuk menyusui dan menghisap susu secara kuat dan alami. Lebih utama dilakukan oleh seorang yang memiliki sifat takwa dan shaleh sebagai suatu penghormatan, dengan harapan semoga anak juga menjadi orang yang demikian.

Artikel kiriman dari Ramadhani, Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir, IAIN Langsa, Aceh

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...