Beranda Headline Agama Itu Mudah, Dalam Kondisi Wabah Hukum Fikih Berubah Menyesuaikan dengan Masalah

Agama Itu Mudah, Dalam Kondisi Wabah Hukum Fikih Berubah Menyesuaikan dengan Masalah

Harakah.id – Corona sekali lagi membuka kedok betapa masyarakat kita memang memiliki problem krisis literasi akut, khususnya soal agama. Ada kesalahpahaman di tengah masyarakat bahwa produk hukum bernama fikih bersifat stagnan tak dapat diubah. Padahal, sedari jaman Nabi, fikih sudah diproyeksikan untuk menyesuaikan diri dengan masalah. Dalam masyarakat gagap fikih, perubahan hukum dianggap sesat dan salah.

Konon ada dua kiai yang terkenal terus berseteru karena memiliki cara pandang fikih yang berbeda dalam menyikapi sebuah masalah. Kiai A selalu menggunakan dalil-dalil kitab sebagai rujukan. Kalau di kitab haram, ya hukumnya haram. Tak ada tawar menawar. Teks baginya adalah rujukan valid. Sedangkan Kiai B lebih fokus pada masalah dan realitasnya. Dalam proses menyelesaikan kasus hukum, kiai B selalu berupaya melihat logika teks; “kondisi dan logika apa yang membuat teksnya berbicara seperti itu?” Maka Kiai B kerap terlihat menyalahi dalil kitab dalam menyelesaikan kasus hukum. Ini yang tidak bisa diterima Kiai A.

Baik Kiai A dan Kiai B sama-sama membaca kitab. Hanya saja caranya dalam memahami logika hukum di balik teksnya berbeda. Kiai A adalah tipe Kiai Teks, sedangkan Kiai B adalah tipe Kiai Konteks. Tipe pembacaan ortodoksi dan heterodoksi seperti ini mewarnai perdebatan dalam gelanggang penyelesaian kasus hukum dan produksi fatwa. Yang pertama menjadikan teks sebagai neraca timbangnya, sedangkan yang kedua lebih mempertimbangkan realitas yang hendak diselesaikannya.

Masing-masing dari kedua model ijtihad tersebut memang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Model ortodoksi, meskipun terjamin secara tekstual, cenderung menghakimi realitas berdasarkan produk hukum lama yang berbeda secara konteks. Sedangkan model heterodoksi, meskipun tampak lebih lentur dalam menghukumi sesuatu, memiliki potensi untuk “liberal”, mengabaikan teks-teks turast dan penggunaan akal yang berlebihan.

Sampai suatu saat, akhirnya muncul satu terobosan dalam kerja ijtihad hukum bernama “madzhab manhaji”. Sebenarnya cara kerja menyimpulkan hukum seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Sejak abad II hijriyah, ketika Imam al-Syafi’I merumuskan Ushul Fikih, proses penyimpulan hukum memang dikehendaki bergerak di ruang metodologi, bukan hanya sekedar kutap-kutip kaul saja. Di Nusantara sendiri, tanpa harus diresmikan dengan nama “Madzhab Manhaji”, para ulama kita sudah menerapkan cara kerja perumusan hukum secara metodologis. Hanya saja, upaya memformulasi dan meresmikannya sebagai slogan memang perlu. Selain karena kebutuhan mendesak di tengah produk hukum yang semakin mengabaikan realitas, slogan dan peresmian juga diperlukan untuk menciptakan satu wacana fikih manhaji yang progresif dan massif.

Benar kalau Ibn Rusyd berkata, teks selalu terbatas, sedangkan realitas tak akan pernah memiliki batas. Maka teks, sudah seharusnya tidak diposisikan sebagai jimat dan mantra yang ditakdis. Dalam skema perumusan hukum, teks harus diletakkan dalam logika dan situasi yang membentuk delik hukum di dalamnya. Hanya dengan cara ini seorang mufti mampu menelusuri keterkaitan problematika dan maksud tersirat dari teks yang dirujuk.

Kok ribet? Memang. Kalau gak ribet, semua orang bisa dengan gampang mutusin hukum. Oleh karena itu diperlukan kompetensi bagi mereka yang diberi mandat untuk merumuskan fatwa. Tidak sembarangan orang, apalagi mereka yang hanya bermodal komentar dan like di selasar media sosial.

Basis Metodologi “Fikih Wabah”; Upaya Ulama Merespons Problem Sosial-Keagamaan di Tengah Wabah

“Pekih iku lek rupek yo diokeh-okeh.” KH. Abdul Wahab Chasbullah

Salah satu visi yang mendasari seluruh penyimpulan hukum dalam fikih adalah bahwa agama itu mudah, tidak sulit. Banyak ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah itu Maha Rahman, Maha Rahim, tidak akan menguji hambanya melampaui kemampuan dan bahwa kemudahan-kemudahan adalah sesuatu yang harus diupayakan. Dalam hadis pun begitu. Betapa masyhurnya hadis ketika Rasulullah memarahi Sahabat Mu’adz bin Jabal yang ngimami terlalu lama dan mendatangkan kesulitan bagi jamaahnya. Dari sini, dirumuskanlah konsep metodologi fikih bahwa:

الضرر يزال

“Segala kumudaratan harus dihilangkan”

الضرورة تبيح المحظورات

“Kemudharatan membolehkan sesuatu yang dilarang”

المشقة تجلب التيسير

“Kesulitan meniscayakan kemudahan”

إذا ضاق الأمر إتسع وإذ اتسع ضاق

“Jika perkara menyempit, hukum meluas. Jika perkara meluas, hukum menyempit”

Kaidah-kaidah tersebut menghendaki bahwa hukum bisa berubah sesuai dengan kadar kesulitan yang dialami dalam proses pelaksanaan sebuah aturan sekaligus kemaslahatan yang harus dipertimbangkan. Dalam kondisi normal, sebuah aturan hukum memang harus dikerjakan sebagaimana asalnya. Namun dalam kondisi-kondisi tertentu, ada keringanan yang membuat seseorang tidak harus menerapkan aturan sebagaimana biasanya.

Kalau dalam keadaan normal seseorang wajib salat dalam keadaan berdiri, maka bagi mereka yang lumpuh salat boleh dilakukan dengan duduk. Bagi mereka yang duduk masih terasa sangat menyulitkan, maka salat boleh dilaksanakan dalam keadaan tidur. Seluruh umat Muslim yang telah memenuhi syarat juga wajib berpuasa ketika Ramadan. Tapi mereka yang sakit atau berada dalam perjalanan yang cukup jauh, diperkenankan untuk tidak berpuasa dan menggantinya di lain hari. Mereka yang berada dalam perjalanan juga diperkenankan untuk meringkas rakaat salat sebagai rukhsah. Begitulah Islam dan aturan fikih diciptakan, bukan untuk mempersulit manusia, namun untuk memberikan kesempatan bagi manusia untuk tetap melaksanakan perintah agama meskipun dalam kondisi-kondisi yang tidak memungkinkan.

Virus Corona juga mengubah beberapa aturan hukum yang sebelumnya sudah ada. Salaman yang awalnya sunnah jadi makruh bahkan haram. Kewajiban Salat Jumat berubah menjadi makruh bahkan haram. Yang awal setiap Muslim wajib berwudhu sebelum melakukan salat, maka bagi tenaga medis yang menggunakan APD diperkenankan untuk tidak melakukan wudhu dan mendirikan salat sebisanya. Begitu juga dengan terjadi dalam pelaksanaan Umrah, Haji, Salat Tarawih dan Salat ‘Id yang akan datang.

Perubahan-perubahan hukum dalam beberapa laku ibadah karena wabah disandarkan pada kepentingan yang lebih besar, yaitu nyawa manusia. Protokol keamanan dan kesehatan yang telah dirumuskan berdasarkan riset dan masukan dari para pakar menjadi dalh argumentasi yang cukup kuat untuk menyakinkan bahwa melakukan ibadah-ibadah tertentu, khususnya yang meniscayakan kerumunan dan kontak langsung antar manusia, nyatanya memang membahayakan nyawa. Oleh karena itu, lahir fatwa mengenai perubahan hukum, yang mungkin bagi sebagian orang dirasa cukup aneh karena berbeda dengan apa yang selama ini telah dilaksanakan.

Dalam merumuskan hukum, para ulama tentu saja tidak hanya mengandalkan akal. Dalam kasus bolehnya tenaga medis untuk salat tanpa wudhu misalnya, kitab-kitab fikih klasik seperti Kifayatul Akhyar fi Halli Ghayatil Ikhtishar karangan Taqiyuddin Abu Bakar al-Hisni sudah mengandaikan hukum seperti itu khusus bagi mereka yang terkena kondisi “faqidut thahurayn” (mereka yang tidak memungkinkan melakukan wudhu dan tayammum). Artinya, sejak abad 8 Hijriyah, ulama sudah memperbolehkan salat tanpa wudhu. Pun sebagaimana yang dirumuskan oleh ulama-ulama mujtahid di abad-abad sebelumnya, juga sudah mengandaikan adanya kebolehan untuk itu.

Tapi herannya, beberapa orang masih protes dan ngomong kalau keputusan itu sesat, tidak sesuai dengan perintah agama dan bla bla blaa…

Dengan kata lain, untuk memahami logika di balik keputusan-keputusan hukum yang dikeluarkan selama wabah kita hanya cukup mengerti dan memahami visi agama yang meniscayakan kemudahan. Untuk tahu detail-detail proses ijtihad dan basis argumentasinya, ya kudu ngaji. Kalau cuma komentar dan nyinyir, semua juga bisa.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...