Beranda Headline Agar Bahasa Arab Tidak Berujung Arabisasi, Ia Harus Disikapi dan Diterapkan Dengan...

Agar Bahasa Arab Tidak Berujung Arabisasi, Ia Harus Disikapi dan Diterapkan Dengan Kritis-Patitis

Harakah.id Bahasa Arab adalah salah satu bahasa yang semakin populer dipelajari. Sebagaimana layaknya bahasa asing lainnya, belajar bahasa Arab selalu mengandung kerawanan-kerawanan sublimasi. Ya, Arabisasi… Pertanyaannya, bagaimana agar terhindar dari itu?

“Rahasia Membutuhkan Kata yang Terucap di Puncak Sepi.” Begitulah gambaran peran bahasa yang menelusup ke jantung pemikiran seseorang, baik yang tersampaikan, bahkan yang dirahasiakan. Hal itu juga berarti bahwa memahami seluk beluk pemikiran hanya mungkin dengan penguasaan bahasa yang baik dan mendalam, bukan cuma sebagai teori, melainkan lebih pada penjiwaan emosi kata-katanya.

Berangkat dari premis di atas, menjadi logis jika kajian khazanah pemikiran Islam meniscayakan penguasaan bahasa Arab, sebagai bahasa pertama, di mana Islam dilahirkan. Di sini, saya tidak melihat urgensi bahasa Arab karena ia adalah “bahasa agama, bahasa ahli surga,” tetapi karena alasan yang lebih praktis, yakni sebagai bahasa ilmiah, bahasa pemikiran, bahkan bahasa peradaban Arab-Islam. Sayangnya, yang berkembang (di UIN, sebagai salah satu pusat kajian keislaman) adalah menurunnya kualitas kajian keislaman yang berbasis pada penelusuran pada teks-teks berbahasa Arab, baik karena orientasi pada rujukan barat, menjamurnya buku-buku terjemahan, dan tentu karena pengajaran bahasa Arab yang ada tidak efektif.

Maraknya penggunaan buku terjemahan juga berperan besar bagi degradasi kritisisme mahasiswa kampus. Dengan buku-buku terjemahan, mahasiswa terkondisikan menikmati materi-materi instan, sudah siap saji, tanpa bisa menilai benar atau salahnya. Kita perlu menyadari bahwa mungkin saja ada kepentingan terselubung di balik penerjemahan buku seperti itu, atau ada beberapa teks yang dihapus atau dimaknai berbeda dari makna seharusnya. Hal serupa juga bisa didapati pada orientasi kebarat-baratan dalam kajian Islam.

Kondisi itu diperparah oleh model pengajaran bahasa yang ditujukan bukan sebagai keterampilan, dan dicukupkan sebagai mata kuliah saja. Bahkan durasi pembelajarannya hanya 1-2 jam dalam seminggu. Tolok ukur keberhasilannya hanya nilai dan kuantitas mahasiswa mempresentasikan (berspekulasi dalam) teori kebahasaan. Yang terjadi hanyalah berbahasa untuk berbahasa, bukan berbahasa untuk membaca atau berpikir. Bahasa dijadikan ajang “keren-kerenan” (masih ingat kasus Vicky? Tunangan penyanyi Zaskia Gothik yang terkenal dengan bahasa ilmiahnya). Berbeda jika bahasa ditujukan untuk keterampilan.

Formalisasi sistem evaluasi, melalui TOAFL dan TOEFL, juga menjadi problem yang tak kalah mengkhawatirkan. Sebagai standard kompetensi, sistem ini memang tidak bermasalah. Tapi, sebagai Sistem evaluasi keduanya ibarat “buah simalakama.” Mahasiswa yang mampu, menguasai bahasa dengan baik, bahkan sudah menjadi keterampilannya sejak di pesantren, tidak lulus dalam ujian TOAFL/TOEFL. Sedangkan mahasiswa yang hanya tahu segelintir kosakata bahasa Arab, dengan “kesaktian” yang entah dia dapat dari mana, lulus dalam ujian TOAFL/TOEFL. Dengan begitu, sistem evaluasi bukan lagi sistem pengujian, yang mengukur sejauh mana mahasiswa terampil dalam penggunaan bahasa, akan tetapi mengukur mana mahasiswa yang bejo, mana yang tidak. “Untung-untungan” menjadi tolok ukurnya.

Bayani: ilmiah, bukan tekstual

Mengapa bahasa Arab? Atau bagaimana menjelaskan bahasa Arab sebagai bahasa ilmiah, khususnya dalam konteks kajian Islam? Sekurang-kurangnya, penulis bisa melihat masalah bahasa ini dari dua sudut pandang. Pertama, (teks ber-)bahasa Arab sebagai acuan penelitian. Terutama sebagai acuan teoretis, teks-teks berbahasa Arab mestinya mendapat perhatian lebih dalam kajian keislaman. Pasalnya di situlah titik subjektivitas-objektif tema-tema keislaman diperbincangkan. Logika gampangnya, bagaimana mungkin seorang pemikir Barat, misalnya, mampu menangkap segenap makna yang tertuang dalam Al-quran, atau teks-teks turats keislaman, sementara ia tumbuh dan besar dalam kultur bahasa yang sama sekali berbeda.

Lebih dari itu, pengembangan teori-teori yang dilakukan oleh para pengamat Islam, meski tidak semuanya, lebih menjanjikan kontinuitas kajian keislaman. Di samping ia berbekal kesatuan problematik dalam subjektivitas-objektif dengan objek kajiannya, ia bisa menampilkan pendekatan yang lebih canggih, namun tetap dalam larik problematik yang sama dengan tradisinya. Nama-nama semisal Muhammad Abduh, Fazlurrahman, Hassan Hanafi, Muhammad Syahrur, Nasr Hamid Abu Zaid dan lain-lain. Sekalipun menerima banyak kritikan atas pemikirannya, setidaknya mereka memberikan bukti bahwa bahasa Arab bukan bahasa kolot atau bahasanya orang terbelakang (anggapan untuk orang pesantren), tapi ia memiliki kekuatan yang memungkinkan seorang untuk lebih kritis dalam membaca.

Teks berbahasa Arab menjadi lebih kaya dengan munculnya karya-karya yang tidak sekadar menyuguhkan pengembangan teoretik, tetapi juga dilengkapi dengan pengayaan metodologi, bahkan lebih berupa analisis paradigmatik, seperti kritik-kritik nalar ala Mohammed Arkoun (critique de la raison islamique) dan Muhammad Abed al-Jabiri (naqd al-‘aql al-‘Arabi), yang kental dengan filsafat kritis Prancis. Dengan begitu, Kritisisme pada poin sebelumnya menjadi kian matang. Bahkan, kritisisme itu juga diarahkan pada tradisi Prancis, seperti dilakukan oleh Abdurrazaq Daway (mawtu al-insan).

Bagaimana pengembangan bahasa mengarah pada capaian seperti di atas? Atau bagaimana mengambangkan bahasa Arab menjadi bahasa ilmiah? Hal ini terkait dengan sudut pandang kedua, yakni bahasa Arab sebagai sistem berpikir, atau meminjam istilah al-Jabiri, bahasa Arab sebagai epistemologi bayani, dan disebut oleh Kiai Ahmad, sebagai bahasa patitis.

Secara bahasa patitis bermakna jelas dan nyata, sejalan dengan makna kata bayan yang dikembangkan oleh Imam al-Syafi’i. Ketika dirumuskan “ma al-bayan?” sebenarnya bahasa Arab sudah meningkat menjadi bahasa ilmiah, memiliki logika internal yang sistematis, kalau bukan hierarkis, yang mencerminkan sistem berpikir. Kita tidak bisa menghakimi “qiyas” al-Syafi’i sebagai pendekatan tekstual, bahwa semua problem yang tidak ditemukan dalam nash, diselesaikan dengan memberlakukan hukum yang mansus. Qiyas merupakan sinergi logika rasional-tekstual dalam kerangka satu “metode ilmiah” yang bertumpu pada cara menafsirkan. 

Sejak al-Ghazali mengintroduksi logika/mantiq ke dalam “bangunan bayani” itu, pembicaraan bahasa Arab menjadi identik dengan pembahasan logika. Maka tidak heran, jika dalam perkembangan terkini, pembahasan bahasa Arab mengarah pada pengayaan metodologis, menjadi kritik nalar, yang mencoba mengulas bahasa secara struktural, berkenaan dengan: materi bahasa sebagai batas kosmologi budaya, sistem tata bahasa sebagai sistem logikanya, dan aspek semantik yang berkait dengan strategi pengembangan budaya. Demikianlah makna titis, patitis dan matitis, penguasaan bahasa secara struktural sebagai sebuah sistem berpikir yang mencakup ketiga aspek tersebut. Jadi, bahkan dalam kata dan bahasa pun tersimpan sistem pemikiran yang kritis.

Bahasa Untuk Membaca

Pertanyaannya kemudian, bisakah sistem pengajaran bahasa yang berkembang mengarah pada capaian seperti di atas? Menjadikan bahasa sebagai media kognitif merupakan perkara yang tidak mudah, lebih-lebih dilakukan dengan metode praktis, atau siap saji. Bahasa arab-ilmiah yang diidealkan di atas hanya bisa diperoleh dengan metode pesantren (salaf). Penekanannya memang hanya ditekankan pada kemampuan membaca teks-teks berbahasa arab, bahkan dengan sistem pengajaran tradisional, dengan bahasa daerah sebagai bahasa pengantarnya pula. Walau demikian, penekanan pada pemahaman nahwu dan sharaf secara mendalam, menjadi jaminan bahwa para pengkaji bahasa bisa menangkap segenap logika, emosi bahkan imajinasi bahasa Arab.

Pada uraian di atas telah dikemukakan bagaimana bahasa berkorelasi secara langsung dengan sistem berpikir, hal itu bisa ditelusuri pada bentuk yang paling sederhana, misalnya: Zaid memukul anjing”, berarti orang bernama Zaid melakukan pemukulan terhadap seekor anjing. Artinya, dengan melakukan analisis nahwiyah, mana mubtada’-khabar-maf’ul dan sebagainya, si pembaca dapat dengan mudah mengidentifikasi subjek, predikat dan objek dalam kalimat tersebut. Dengan kata lain, identifikasi-identifikasi teoretik yang dilakukan akan menjejak dalam benak pengkaji bahasa sebagai logika bahasa, hingga membentuk sebuah paradigma berpikir. Ringkasnya analisis nahwiyah menjadikan bahasa sebagai bagian dari kognisi. Melalui sistem yang “anti-metode praktis” ini, seorang pengkaji bahasa akan terbiasa pada kajian kritis, teoretis-metodologis, seperti diidealkan di atas, atau minimal mampu mengarungi khazanah wacana keislaman yang kaya.

Guna memaksimalkan capaian itu, metode kognitif ala pesantren ini perlu dikembangkan dengan pendekatan tatabahasa Indonesia, seperti mendefinisikan mubtada’ atau fa’il sebagai subjek, dan menyebut khabar-fiil sebagai predikat, dan maf’ul bih sebagai objek. Sebab dengan begitu, metode ini bisa membantu para pemula yang belum memiliki dasar pengetahuan arab bisa mengikuti sistem yang lebih menekankan pada sistem bahasa yang rumit. Bahkan, bisa disebut bahwa pendekatan inilah yang menjamin, kajian nahwu-sharaf tidak menjadi sekadar hafalan materi atau teori kebahasaan.

Cukup jelas, paradigma kognitif atau “bahasa untuk membaca” ini tidak bisa ditempuh dengan metode-metode praktis, apa pun namanya. Sebab, bagaimana mungkin identifikasi teoretik di atas akan membekas, jika dilakukan dalam waktu singkat, dan dengan metode yang hanya menekankan pada ciri-ciri aksidental, dan sebagainya? Satu-satunya tolok ukur keberhasilan pembelajaran bahasa, dengan begitu, hanyalah kemampuan membaca teks berbahasa arab. Artinya, capaian skor melalui sistem evaluasi formal tidak bisa dijadikan standar. Maka tidak heran, jika dalam pendidikan pesantren, tidak ditemukan batasan waktu penguasaan bahasa arab, selagi kemampuan membaca teks berbahasa arab, belum dikuasai lebih-lebih menjadi bagian dari sistem kognisi para santri.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...