Beranda Keislaman Doa Agar Lebih Mantap, Praktek Berdoa Dengan Simbol Sah-Sah Saja Dilakukan

Agar Lebih Mantap, Praktek Berdoa Dengan Simbol Sah-Sah Saja Dilakukan

Harakah.id Berdoa dengan simbol memang tidak masalah. Para sahabat juga melakukannya kok…

Pernahkah Anda melihat seorang santri berjalan seraya mengagungkat kitab yang ia kaji? Ia peluk kitab itu. Ia ciumi saat hendak dan usai mempelajarinya. Ia perlakukan kitab itu dengan sangat terhormat. Ia tak rela jika kitabnya setara dengan pusar, apalagi di bawahnya. Ketika kitab tersebut terjatuh, ia segera ambil. Sebelum ia letakkan di tempatnya yang terhormat, tak lupa selalu ia cium terlebih dahulu, bak seorang ibu yang mengasihi dan menguatkan putera kecilnya yang sedang terjatuh saat berjalan.

Itulah kebiasaan santri dalam rangka menghormati ilmu. Mereka meyakini bahwa begitulah cara mendapatkan keberkahan ilmu. Begitu pulalah cara agar menjadi orang mendapatkan ilmu yang bermanfat. Praktisnya, begitulah cara menjadi pintar. Tanpa menghormati media ilmu, seorang pasti akan kesulitan belajar.

Cara seperti itu juga dapat dikategorikan sebagai berdoa dengan simbol. Memperlakukan buku atau kitab seperti itu adalah simbol pernghormatannya dan pemuliaannya terhadap ilmu. Simbol bahwa ia sedang memohon diberikan ilmu yang mulia, luhur, dan berkah.

Ternyata, perilaku seperti ini sudah dipraktikkan oleh Abu Hurairah di hadapan Nabi. Sebagai santri Nabi, ia sangat tekun menghadiri pengajian Nabi. Tak ada waktu yang terlewatkan, kecuali ia mengikuti pengajian Nabi.

…وقد قال رسول الله صلى الله عليه و سلم في حديث يحدثه ( إِنَّهُ لَنْ يَبْسُطَ أَحَدٌ ثَوْبَهُ حَتَّى أَقْضِيْ مَقَالَتِيْ هَذِهِ ثُمَّ يَجْمَعُ إِلَيْهِ ثَوْبَهُ إِلاَّ وَعَى مَا أَقُوْلُ ) . فبسطت نمرة علي حتى إذا قضى رسول الله صلى الله عليه و سلم مقالته جمعتها إلى صدري فما نسيت من مقالة رسول الله صلى الله عليه و سلم تلك من شيء (أخرجه البخاري في صحيحه)

 “Rasulullah pernah menegaskan dalam suatu hadis yang beliau sabdakan, ‘Orang yang menggelar pakaiannya sampai aku selesai menyampaikan pengajianku ini kemudian ia ikat pakaiannya itu, pasti tidak akan lupa terhadap apa yang aku katakan.” Mendengar hal itu, Aku langsung menggelar selimutku sampai akhir pengajian Nabi. Ketika berakhir, aku pun segera melekatkannya di dadaku. Sejak itu, aku tak pernah lupa hadis Nabi sedikitpun.” (HR. al-Bukhari)

Awalnya, Abu Hurairah sering lupa terhadap apa yang telah disampaikan oleh Nabi. Lalu ia mencurahkan kegelisahannya kepada Nabi. Nabi pun kemudian menganjurkan agar melakukan ritual sederhana tersebut, yaitu menggelar pakaian sebagai simbol untuk membuka seluas-luasnya wadah ilmu. Perlu diketahui, saat itu belum ada buku seperti halnya saat ini. Media tulis saat itu masih berupa kulit, pelepah kurma, batu, dan kayu.

 Setelah menggelar selendang, selimut, atau sorban yang ia kenakan saat belajar di majelis Nabi, ia pun dengan seksama mendengarkan hadis-hadis Nabi. Ketika usai, sebagaimana petunjuk dari Nabi, ritual selanjutnya adalah melipat atau mengikat pakaian yang digelar selama pengajian tersebut. Itu merupakan simbol mengikat ilmu. Simbol mengumpulkan lmu agar tidak tercecer, tidak lepas, tidak hilang. Abu Hurairah pun segera melakukannya dan memeluknya erat-erat. Ia perlakukan kainnya itu dengan sangat terhormat.

Itulah pembuktian secara langsung terhadap hadis-hadis Nabi yang dilakukan oleh Abu Hurairah. Dan, betul hasilnya adalah Abu Hurairah tak lagi pernah lupa atas apapun yang disampaikan oleh Nabi. Bahkan beliau pernah diuji coba hafalannya oleh para sahabat. Ia diminta menyampaikan “ceramah” hadis Nabi. Lalu pada tahun berikutnya, diminta lagi menyampaikan “ceramah” hadis yang sama. Lalu ia pun mampu melakukannya dengan sangat baik. Tak ada satu hurufpun yang tertukar, hilang, atau keliru.

Jadi, apa yang dilakukan para santri di pesantren itu pada dasarnya adalah sama dengan apa yang dilakukan oleh Abu Hurairah. Mereka berdoa dengan simbol. Berdoa tidak hanya dengan ucapan. Usaha sekecil apapun harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan mulia. Belajar adalah pekerjaan utamanya. Tidak boleh ditinggalkan. Berdoa adalah cara utamanya agar mendapatkan ilmu yang berkah. Tidak boleh di tinggalkan. Dan simbol-simbol, wasilah, media-media kecil juga tidak boleh diabaikan, karena hal itu juga mendorong keberhasilan belajar.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...