Agar Rasulullah Saw Tak Dicitrakan Seperti Tukang Ramal, Berikut Panduan Memahami Hadis Bintang Tsurayya

0
429
Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [2]

Harakah.id Hadis tentang bintang Tsurayya belakangan ini telah dipahami dengan cara yang keliru, akibatnya pemahaman tersebut juga telah memberikan kesan yang amat buruk terhadap pribadi Rasulullah Saw.

Hadis Rasulullah Saw. ibaratnya merupakan harta berharga bagi umat Islam. Sepanjang sejarah umat Islam, Hadis-hadis Rasulullah Saw. telah dijaga agar tidak disusupi oleh pemalsuan dan kedustaan berbagai pihak. Di sisi lain, para ulama juga telah menetapkan berbagai kaidah dan panduan untuk dapat memahami hadis-hadis Rasulullah Saw. sebagamana mestinya.

Pemahaman yang keliru terhadap hadis-hadis nabi Muhammad Saw. pada akhirnya juga akan menghasilkan gambaran yang keliru terhadap agama Islam.

Hadis tentang bintang Tsurayya belakangan ini telah dipahami dengan cara yang keliru, akibatnya pemahaman tersebut juga telah memberikan kesan yang amat buruk terhadap pribadi Rasulullah Saw. Melalui hadis tersebut, Rasulullah Saw. diposisikan seperti sedang mencoba mereka-reka masa depan, membuat ramalan tenggat waktu untuk peristiwa yang belum terjadi. padahal nyatanya, Rasulullah Saw. adalah sosok pribadi yang sangat berhati-hati dalam berbicara. beliau Saw. tidak akan sembarangan mengatakan sesuatu jika tidak dilandasi oleh petunjuk wahyu atau jalan epistemologi kebenaran yang lain.

Sebagian orang memahami hadis bintang Tsurayya dengan menempuh cara pemahaman yang instan namun teramat rapuh. Mereka menarik ucapan nabi tersebut keluar dari berbagai dimensi yang menyertainya, berpatokan pada terjemahan yang amat dangkal terhadap kosakata di dalam hadis tersebut, lantas kemudian menarik kesimpulan untuk mencocokkannya dengan peristiwa yang sedang hangat saat ini, yaitu menciptakan “klaim nabawiyah” bahwa pandemi ini akan berakhir pada bulan Mei, saat gugus bintang Tsurayya mulai terlihat di langit.

Setidaknya ada empat tahapan krusial memahami hadis yang coba dikesampingkan dari pemahaman tersebut yaitu:

1. Mencari titik temu dengan hadis-hadis lain yang serupa

Sebuah hadis meskipun beredar secara bercabang dalam berbagai variasi jalur, kemudian terdokumentasikan dalam berbagai kitab-kitab hadis, namun boleh jadi pada hakikatnya berisi rekaman kepingan momen hidup Rasulullah Saw yang sama. Tidak heran jika kemudian dalam sebagian catatan riwayat, sebuah hadis hanya disebut secara parsial, namun dalam catatan yang lain ia disebut dengan narasi yang lebih lengkap dan utuh.

Berangkat dari kenyataan di atas, ketika memahami sebuah hadis, kita diharuskan untuk mencari dalam banyak sumber dokumentasi hadis sekaligus. Berkaitan dengan hadis bintang Tsurayya, pihak yang mengaitkannya dengan wabah Covid-19 hanya melihat satu catatan riwayat yang ada dalam Musnad Ahmad, yang hanya merekam sepenggal variabel ucapan nabi saja. Padahal penggalan tersebut ternyata dalam riwayat berbeda tersambung dengan variabel yang lain.

Pengkaitan terbitnya bintang Tsurayya dengan hilangnya Al-‘Ahat (melalui terjemahan dangkal pihak-pihak tadi, kata ini diterjemahkan sebagi wabah) ternyata diucapkan oleh nabi dalam konteks larangan jual beli buah-buahan. Artinya, ketika menjelaskan perkara bintang Tsurayya ini, nabi tidak sedang berdiri seperti seorang ahli astrologi yang sedang menetapkan kaidah nujum pengaruh pergerakan bintang terhadap peristiwa di bumi. Kalimat ini dipahami dalam bingkai penjelasan nabi tentang sebuah kaidah jual beli.

2. Memeriksa Asbabul Wurud Hadis

Hadis tidak tercipta dalam sebuah ruang hampa, tetapi didahului oleh sebab musabab dan latar belakang tertentu. Sebab musabab ini kemudian dikenal dengan Asbabul Wurud hadis. Penjelasan Asbabul Wurud hadis larangan jual beli tanaman pada masa Al-‘Ahat dapat kita baca pada penjelasan Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (4/460):

كان الناس في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم يتبايعون الثمار فإذا جد الناس وحضر تقاضيهم قال المبتاع إنه أصاب الثمر الدمان أصابه مراض أصابه قشام عاهات يحتجون بها فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم لما كثرت عنده الخصومة في ذلك فإما لا فلا تتبايعوا حتى يبدو صلاح الثمر كالمشورة يشير بها لكثرة خصومتهم وأخبرني أن زيد بن ثابت لم يكن يبيع ثمار أرضه حتى تطلع الثريا فيتبين الأصفر من الأحمر

Orang-pada masa Rasulullah Saw menjual buah-buahan (sebelum masak), tetapi kemudian banyak cekcok yang terjadi akibat jual beli tersebut karena ternyata buahnya kemudian memiliki penyakit atau cacat. Cekcok dan sengketa serupa terus terjadi berulang kali sehingga Nabi pun kemudian melarang menjadikan buah di pohon sebagai komoditas jual beli. Diceritakan bahwa Zaid Ibn Tsabit tidak akan menjual buah-buah di kebunnya hingga terbitnya bintang Tsurayya, karena pada saat itu baru terlihat mana buah yang merah dan yang bewarna kuning.

Dengan melihat penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa kemunculan bintang Tsurayya bukanlah diposisikan sebagi “penyebab” tetapi momen penanda waktu hilangnya Al-‘Ahat, logikanya sama seperti seseorang mengatakan “saat ayam berkokok, maka fajar telah terbit”, di sini kokok ayam merupakan penanda waktu dan bukan penyebab terbitnya fajar.

3. Penafsiran Lafaz yang Serius

Jika hendak memahami sebuah hadis, kita diharuskan untuk menyelami setiap lafaz-lafaz didalamnya secara mendalam, ia tidak boleh diartikan sebatas pada terjemahan dan alih bahasa Arab ke Indonesia. Dalam hadis bintang Tsurayya, kata Al-‘Ahat merupakan kata kunci yang sangat penting. Sayangnya sebagian pihak kemudian mencukupkan pada terjemahan dangkal kata tersebut yang berarti wabah penyakit. Padahal kata tersebut ternyata dipakai secara spesifik berkaitan dengan buah-buahan, ia dimaksudkan untuk menggambarkan berbagai cacat pada buah yang merusak kualitasnya seperti warna, rasa atau tekstur buah yang tidak layak konsumsi dan sebagainya. Akibatnya nilai harga buah menjadi turun.

Pada cerita Ibn Hajar di atas, ilustrasinya adalah seorang petani kurma membeli seember susu pada peternak kambing dengan bayaran buah yang masih di pohon dan masa panen masih jauh, kualitas buah belum dapat ditakar atau dijamin akan sesuai dengan ekspektasi petani. Tetapi petani dan peternak tadi telah menetapkan ukuran kurma yang sepadan dengan seember susu. Beberapa waktu kemudian, musim panen kurma tiba, ternyata kurma mengalami cacat yang menurunkan kualitasnya, besaran kurma yang telah dijanjikan tidak sepadan dengan harga seember susu, akibatnya timbul sengketa antara petani dan peternak tersebut.

4. Memperhatikan Konteks Hadis

Ada banyak pertimbangan dimensional yang perlu dilihat pada hadis ini. Diantaranya dimensi lokasi hadis berkaitan dengan visibilitas bintang Tsurayya. Bintang ini muncul di akhir musim dingin dan jelang musim semi bagi masyarakat belahan Bumi utara. Di Hijaz sendiri, ia ditandai sebagai masa telah dekatnya musim panen, sehingga buah-buahan di kebun telah dapar ditakar kualitasnya secara akurat. Adapun bagi masyarakat di Tanah Air kemunculannya ada di saat akhir musim penghujan.

Bintang Tsurayya akan mudah diamati di November-Desember di malam hari, dan jelang musim semi mulai terbit di pagi hari, ini sebabnya Nabi menggambarkan bintang Tsurayya sebagai bintang pagi, karena visibilatas bintang menjelang musim panen terjadi pada pagi hari, Meski benar saat ini adalah saat kemunculannya jika dilihat dari Bumi, harus dipastikan terlebih dahulu di langit sisi mana bintang itu terlihat dan kapan. Bisa jadi, bintang yang disebut Tsuraya itu adalah bintang lain yang berbeda.

Pemahaman hadis ini harus selaras dengan berbagai aspek-aspek dimensional, mulai dari lokasi Arab dan Indonesia, waktu visibilitas bintang, musim yang berlaku di Arab dan Indonesia serta kebiasaan siklus masa panen buah-buahan terjadi berbeda-beda di seluruh dunia. Ucapan nabi ini semua disesuaikan dengan ragam aspek dimensional ini, artinya nabi tidak sedang membuat ramalan atau menebak-nebak masa depan. Ucapan nabi ini adalah wujud rangkaian fenomenologis dan jalinan pengalaman empiris. Jika hadis bintang Tsurayya ini dipahami dengan tahapan di atas, sungguh makna hadis ini akan terkesan sangat logis dan memuaskan, bukan sebagai ramalan tak berdasar.

Kejadian ini setidaknya menjadi contoh nyata pentingnya mengikuti kaidah-kaidah yang benar dalam memahami hadis. Jika tahapan-tahapan ini diabaikan dan orang mengarahkan hadis pada pemaknaan yang sesuai kehendaknya, maka akan ada banyak penggambaran keliru terhadap Nabi dan agama Islam. Sesuatu yang sangat tidak kita inginkan.

Baca Juga: Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [1]
Baca Juga: Benarkah Wabah Covid-19 Berakhir Ketika Muncul Bintang Tsurayya Seperti dalam Hadis [2]