Beranda Gerakan Agar Tak Terulang Dalam Bentuknya Yang Lebih Ganas, Ada Beberapa Rancangan Agenda...

Agar Tak Terulang Dalam Bentuknya Yang Lebih Ganas, Ada Beberapa Rancangan Agenda yang Harus Dipersiapkan Umat Muslim Pasca Pandemi Covid-19

Harakah.idPasca pandemi Covid-19, umat Islam sejatinya harus belajar dan mempersiapkan agenda-agenda untuk masa depan agar peristiwa yang sama tak terulang dan memakan nyawa yang lebih banyak.

Wabah Covid-19 telah memberi pelajaran berharga sekaligus membuka tabir kecerobohan-kecerobohan peradaban umat manusia modern. Selain berharap wabah lekas berakhir, ada beberapa agenda besar yang jadi pekerjaan rumah bagi seluruh manusia, termasuk umat Islam, untuk menciptakan satu peradaban baru yang lebih baik. Berikut rangkuman agenda-agenda yang harus mulai dipersiapkan dan dirancang kaum Muslimin pasca pandemi Covid-19.

Rangkuman ini akan saya bagi ke dalam beberapa aspek. Agenda-agenda satu aspek tentu saja berkaitan erat dengan agenda-agenda di rumpun yang lain. Sudah saatnya kita membagi tugas, sesuai dengan kapasitas dan kompetensi masing-masing, untuk merancang dan menciptakan satu format peradaban yang lebih baik di kemudian hari.

Agenda-Agenda di Bidang Agama dan Filsafat

Agenda-agenda pasca pandemi Covid-19 ini diperuntukkan bagi mereka yang diproyeksikan menjadi tokoh agama, mujtahid, pemikir dan cendekiawan. Sebagaimana fungsinya, mereka bertugas menciptakan gagasan dan basis filosofis bagi epistemologi kebudayaan yang akan direncanakan. Mereka bertugas membabat lahan-lahan pengetahuan agar mengakomodir seluruh temuan dan inovasi di bidang-bidang keilmuan. Mereka juga bertugas untuk meracik dan mempertimbangkan aspek-aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis dari temuan yang muncul.

Kaum agamawan, para tokoh agama dan pendakwah sudah saatnya memperluas cakupan dakwah kepada hal-hal yang bersifat “materil”. Materialisme dakwah di sini bukan berarti dakwah yang berorientasi dunia. Tidak. Tentu saja praktik kapitalisme dakwah [dan agama] harus mulai disingkirkan. Materialisme yang dimaksud adalah menjejakkan ajakan-ajakan agama kepada basis praksisnya dan problematika kontemporer yang dihadapi umat. Gerakan dakwah harus mulai meminimalisir perbincangan yang terlalu luas soal teologi, yang nyata-nyata jadi “bensin” bagi sektarianisme agama dan penyebab utama – bersama kapitalisasi dan politisasi agama – lahirnya “agama soliter” dan “agama fetish”; agama yang berjarak dan diperlawankan dengan realitas.

Para cendekiawan, filosof dan pemikir Islam harus mulai menggagas “Teologi Biru”, “Islam Kosmik” atau gagasan-gagasan progresif lain yang mendukung agenda-agenda kemajuan. Sebagai turunannya, produk-produk fikih, tafsir dan hadis, juga harus diproyeksikan sebagai basis bagi agenda-agenda kemajuan yang dikehendaki. Formulasi bermazhab secara manhaji, seperti yang sudah dilakukan oleh ulama-ulama kita hari ini, adalah bekal berharga untuk menggagas formulasi eco-fikih, tekno-fikih, bio-fikih dan fikih-fikih progresif lainnya dalam konteks isu-isu lingkungan dan sosial.

Sebagai sub-kultur, pesantren dan lembaga keagamaan lainnya juga harus mengupayakan dan mengawali gerakan kembali ke “lokalitas kebudayaan”. Dalam konteks Nusantara, berjibunnya bahan makanan dan rempah yang disediakan oleh alam, adalah prinsip ekosistem yang harus diejawantahkan. Para santri dan pelajar agama juga harus mulai mencangkul dan menanam bibit.  Memanfaatkan pasokan makanan yang disediakan oleh alam adalah satu jalan menuju kemandirian hidup… kemandirian ekonomi. Hanya dengan itu, sebuah komunitas mampu bergerak secara independen, bebas dan inovatif.

Agenda-Agenda di Bidang Mekanika dan Bioteknologi

Di masa wabah, kita tahu bahwa sistem kesehatan di Indonesia masih buruk. Ketiadaan ventilator, APD, PCR dan peralatan medis adalah kendala yang membuat proses penanggulangan Covid-19 tidak maksimal. Namun wabah kadang jadi media renungan dan waktu bagi manusia untuk berpikir. Beberapa orang yang punya kompetensi, di tengah-tengah merebaknya wabah, mulai menggagas dan menciptakan alat yang opsional, efektif dan terjangkau. Beberapa rumah sakit dan industri tekstil mulai bergerak membuat APD dengan bahan baku standar yang biasa digunakan. Para teknisi di salah satu kampus teknologi besar di Indonesia juga mulai menciptakan ventilator sederhana namun fungsional. Dengan kata lain, kemajuan peradaban mau tidak mau harus disokong oleh temuan-temuan di bidang teknologi.

Selain di bidang medis, produk teknologi yang inovatif juga dibutuhkan di sektor-sektor lainnya. Sektor pertanian membutuhkan alat untuk menyemai bibit, menanam benih, menggarap lahan, panen hingga proses pengemasan dan teknologi pemasaran. Sektor sumber daya alam membutuhkan temuan-temuan teknologi yang minim karbon, ramah lingkungan dan berbasis sumber daya alam terbarukan. Demikian juga sektor-sektor lainnya yang memegang peranan kunci dalam mengembalikan siklus manusia, ekonomi dan alam semesta.

Selain itu, para tekhnolog dan mekanik harus memiliki paradigma sosio-ekopol dan prinsip keberpihakan. Hanya dengan kesadaran itu mereka mampu menciptakan alat yang mudah direplikasi oleh masyarakat, murah dan berbahan materi yang mudah ditemukan. Akan sangat percuma ketika produk teknologi dijual mahal dan akses masyarakat terhadap pengetahuan mengenai cara produksi alat ditutup.

Wabah Corona juga memberikan gambaran kepada kita semua kalau Indonesia butuh satu pusat riset terpadu yang fokus pada pengembangan rekayasa genetika dan bioteknologi. Selain berfungsi dan memiliki peran besar kala wabah datang, pusat riset di bidang ini mampu memberikan kontribusi berupa produk obat-obatan dan vaksin yang diekstrak dari bahan mentah yang disediakan oleh hutan kita.

Agenda-Agenda di Bidang Pertanian

Farid Gaban, salah seorang jurnalis senior dan ekolog, dalam sebuah catatan di laman Facebooknya membuat perencanaan sederhana di bidang pertanian harus kembali dihidupkan yang saya kira mewakili agenda di Bidang Pertanian. Dalam catatannya tersebut, setidaknya ada 8 posisi yang bisa dikembangkan, yang memiliki fungsi krusial dalam pengembangan sektor pertanian di Indonesia yang mulai ditinggalkan;

Pertama Botanis. Di samping terlalu tergantung pada pupuk kimia pabrik yang mahal, para petani juga tergantung pada benih dan bibit yang mahal dan seringkali harus diimpor. Para ahli tanaman (botanist) bisa berperan dalam penyediaan benih yang berkualitas namun terjangkau, termasuk mengeksplorasi serta melestarikan keragaman hayati negeri kita yang sangat kaya.

Kedua, Microbiologis. Sebagian besar ilmu pertanian berkaitan dengan mikroba, dari pemupukan, pestisida/insektisida hingga pengolahan pangan dan pengolahan limbah pertanian. Pengetahuan mikrobiologi salah satu yang paling penting di pertanian pedesaan. Di tengah trend ”green lifestyle”, para ahli mikrobiologi bisa menciptakan produk-produk baru ramah lingkungan dari sumber daya desa yang selama ini terbengkalai, suatu hal yang ditunjukkan oleh riset-riset universitas terkemuka di dunia belakangan ini.

Ketiga, food Innovator. Banyak petani hanya menjual produk mentah yang murah. Padahal mereka bisa mendapat keuntungan lebih baik jika menjual produk pangan olahan. Di sini bisa berperan para inovator pangan dalam menciptakan keragaman produk pangan. Para ahli bio-kimia juga bisa berperan dalam proses-proses penyulingan, pengawetan pangan yang sehat, fermentasi, dan sejenisnya.

Keempat, Business Consultant. Banyak usaha tani sebetulnya tidak bisa dikatakan sebagai usaha atau bisnis. Di tengah kemiskinan dan keterbatasan, jarang ada dari mereka yang punya hitung-hitungan ongkos produksi dan pendapatan dari penjualan. Hampir tidak ada yang membuat rencana bisnis (business plan): strategi produksi, permodalan, memilih jenis komoditi, manajemen produksi, pengolahan, pemasaran serta menghitung risiko bisnis. Manajer usaha tani atau konsultan bisnis pertanian bisa berperan di sini. Mereka bisa mendapat gaji lumayan jika bisa memberikan jasa pada kelompok tani atau koperasi.

Kelima, Art and Product Designer. Banyak produk pangan yang ada sekarang dikemas seadanya, memberikan kesan murahan. Pemasaran membutuhkan art-designer untuk merancang materi promosi dan packaging yang berselera tinggi. Di samping itu, desiner produk juga bisa mengeksplorasi bahan-bahan alam pedesaan untuk produk bernilai: ukiran kayu, patung batik pewarna alami, anyaman dan kerajinan tangan.

Keenam, Waste Manager. Banyak limbah pertanian, perkebunan dan kehutanan dibuang percuma, padahal memiliki nilai ekonomi. Pengelolaan limbah ini membutuhkan pengetahuan dan ketrampilan tersendiri.

Ketujuh, Social Worker. Para pekerja sosial yang dibekali ilmu komunikasi, sosiologi dan antropologi bisa berperan dalam membangun organisasi atau koperasi di kalangan petani. Peran mereka juga penting dalam penyebarluasakan praktek pertanian sehat (good agriculture practices). Tak hanya lahan kian sempit, para petani desa umumnya bekerja sendiri-sendiri dan bersaing satu sama lain. Hanya dengan kemauan bekerjasama, membentuk kelompok tani atau koperasi, mereka bisa mencapai skala ekonomi usaha tani yang menguntungkan. Dengan cara itu pula mereka bisa bersama-sama menyewa mahal para profesional, termasuk manajer usaha pertanian sekalipun.

Kedelapan, Mechanics. Jika usaha tani membaik, para petani pada akhirnya akan membutuhkan mesin-mesin pertanian dan pengolahan pangan. Tidak perlu canggih, cukup yang sederhana saja. Perancang, produsen dan pemelihara mesin akan makin dibutuhkan.

Agenda-Agenda di Bidang Politik, Perencanaan Ekonomi dan Tata Kelola Kebijakan

Tentu saja, semua rencana-rencana yang telah dipersiapkan akan hambar ketika ia tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah sebagai pihak yang mengatur kehidupan bersama dalam sebuah bangsa. Maka mempersiapkan perencanaan ekonomi sekaligus format kebijakan politik sama krusialnya dengan rencana-rencana kemajuan yang telah dicanangkan sebelumnya

Inilah agenda-agenda dan imajinasi yang patut menjadi perhatian dan kesadaran bersama pasca pandemi Covid-19, khususnya di kalangan umat Muslim yang menjadi mayoritas di Indonesia. Sudah saatnya kita semua bersama-sama bergerak, membangun konsep harakah yang progresif di seluruh sektor kehidupan. Dan saya kira, wabah menjadi momentum penting untuk memulai itu semua.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...