Beranda Gerakan Agenda Normalisasi dan Aliansi Tiga Negara, Keuntungan Geopolitik dan Pundi-Pundi Dollar Bagi...

Agenda Normalisasi dan Aliansi Tiga Negara, Keuntungan Geopolitik dan Pundi-Pundi Dollar Bagi Israel

Harakah.idAgenda normalisasi dan aliansi tiga negara sudah diresmikan. Israel, Uni Emirat Arab dan Bahrain sepakat menandatangani nota kesepakatan. Langkah politik yang tentu akan mendatangkan pundi-pundi dollar bagi Israel dan Amerika Serikat.

Normalisasi hubungan diplomatik negara Arab, khususnya negara Teluk, yakni Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel menjadi isu terkini dalam percaturan geopolitik Timur Tengah.

Kesepakatan yang disebut dengan “Abraham Accord” tersebut menjadi momentum penting bagi perkembangan situasi Timur Tengah. Mengingat selama ini Israel selalu “dikucilkan” oleh kebanyakan negara-negara Arab. Tetapi, sekarang mereka akhirnya mendapatkan kawan baru dan sekutu di kawasan. Agenda normalisasi dan aliansi tiga negara di Timur Tengah yang diinisiasi AS memasuki babakan baru.

Proses peresmian hubungan diplomatik yang terjadi hanya beberapa hari saja. Membuat banyak pihak dan pengamat terkejut. Bahkan, kesepakatan tersebut juga membuat banyak pihak terdampak, terkhusus bagi Palestina. Negara tersebut merasa bahwa kesepakatan damai itu telah membuat mereka “didustai” oleh negara-negara Arab. Khususnya UEA dan Bahrain yang telah menyetujui untuk membangun upaya damai dengan Israel.

Baca Juga: Ultimatum Erdogan Soal Sengketa Mediterania, Problem Eksplorasi Gas Bumi dan Perseteruan Panas Turki-Yunani

Aliansi Tiga Negara 

Kesepakatan yang telah ditandatangani secara resmi, kemarin, (15/9), memulai babak baru aliansi antara UEA, Bahrain, dan Israel, yang membuat situasi geopolitik Timur Tengah semakin kompleks.

Aliansi baru kawasan menjadi semacam perebutan kekuatan. Hal ini memunculkan kontestasi poros baru dan poros lama. Aliansi tiga negara menjadi kompetitor baru ditengah kompetisi sengit di kawasan.

Amerika Serikat (AS) selalu menjadi mediator dan penengah antar negara-negara Arab. Kondisi ini semakin menguatkan bahwa AS tidak mau diam begitu saja dalam menancapkan pengaruh dan kekuasaannya di Timur Tengah.

Kontribusi dan intervensi AS selalu berperan aktif dalam upaya normalisasi. Yang sejatinya hal itu tak lain sebagai usaha AS, khususnya presiden Donald Trump menarik dukungan  di kawasan Timur Tengah terkait pemilihan presiden AS November mendatang.

Kesepakatan demi kesepakatan yang telah berjalan lancar. Kedepan akan menjadi amunisi yang kuat bagi AS. Trump telah melakukan manuver luar biasa. Ia membuat sejarah baru dalam hubungan negara-negara Arab. 

Selanjutnya, mungkin saja negara-negara Teluk lainnya akan mengikuti jejak UEA dan Bahrain. Meski sebelumnya ada beberapa diantaranya seperti Oman, Qatar dan Arab Saudi menolak. 

Banyak kemungkinan bisa saja terjadi didalam pola hubungan diplomatik antar negara. Ada kalanya hari ini mereka menolak, tetapi mungkin saja besok keputusan akan berganti.

Persoalan Dalam Negeri Israel

Setelah UEA dan Bahrain menormalisasi dengan Israel. Ada banyak hal yang belum ditelusuri secara mendalam. Situasi politik dan ekonomi dalam negeri Israel juga tengah mengalami persoalan serius.

Dugaan tindak korupsi yang dilakukan oleh Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan para elit politik Israel telah menambah permasalahan sulit bagi Israel. Meski dua negara Teluk telah menerima “pinangan” Israel melalui bantuan AS. Tetapi, persoalan dalam negeri yang masih belum stabil sangat menentukan situasi politik Israel. 

Bahkan, salah satu menteri Israel Yaakov Litzman, mundur dari jabatannya karena persoalan lockdown terkait kasus covid-19 yang semakin bertambah. 

Ia mundur dari jabatannya karena berusaha memprotes lockdown untuk mengurangi penyeberan covid-19 yang dianggapnya menghalangi perayaan Tahun Baru Yahudi. Perdana Menteri (PM) Israel, Benyamin Netanyahu memang baru-baru ini telah mengumumkan pemberlakuan lockdown nasional selama tiga minggu.

Pemberlakuan lockdown kal ini memang akan menjadi pembatasan paling luas yang diberlakukan Israel sejak lockdown pertama diterapkan antara akhir Maret hingga awal Mei lalu. 

Lockdown nasional pun akan mulai berlaku Jumat (18/9) mendatang, tepat saat perayaan Tahun Baru Yahudi, Rosh Hashana, hingga 27 September mendatang, saat peringatan Yom Kippur yang merupakan hari paling suci dalam agama Yahudi.

Litzman sendiri diketahui memimpin aliansi politik ultra-Ortodoks Yahudi, United Torah Judaism, dalam parlemen. Aliansi itu tergabung dalam koalisi konservatif Benyamin Netanyahu. Litzman sebelumnya menjabat Menteri Kesehatan Israel saat awal-awal pandemi Corona merebak.

Baca Juga: Politik Normalisasi AS dan Sengkarut Kepentingan Barat di Kawasan Teluk, Masa Depan yang Berbahaya Bagi Timur Tengah

Jika mengacu pada undang-undang Israel, pengunduran Litzman akan berlaku dalam 48 jam. Meskipun pengunduran diri ini menandai ketegangan antara Netanyahu dan mitra politiknya. Namun diperkirakan tidak akan berdampak langsung pada stabilitas koalisi pemerintahan saat ini.

Dalam pernyataan kepada kabinet Israel saat voting untuk lockdown, Netanyahu menyesalkan pengunduran diri Litzman. 

Menurut data, Israel yang berpenduduk 9 juta jiwa, sejauh ini melaporkan sekitar 153.217 kasus Corona dengan 1.103 kematian. Dengan jumlah kasus baru mencapai 3 ribu per hari dalam beberapa pekan terakhir. Otoritas Israel pun khawatir sistem kesehatan bisa kewalahan menangani covid-19.

Melihat situasi dan kondisi dalam negeri Israel yang runyam. Israel masih diuntungkan dari proses kesepakatan damai dengan beberapa negara Teluk, UEA dan Bahrain. Maka, jika melihat hal tersebut mengindikasikan bahwa Israel juga mencari solusi terbaik ditengah permasalahan yang dihadapi negara tersebut.

Pundi-pundi dolar akan mengalir dari kerjasama mereka ke Israel. Pihak AS pun diuntungkan atas upaya Trump mencari dukungan dari negara-negara Arab untuk proses pemilihan presiden November mendatang. Meski persoalan internal Israel membuat mereka kelimpungan menghadapinya. Setidaknya agenda normalisasi dan aliansi tiga negara dengan UEA dan Bahrain akan memberikan dampak besar bagi perekonomian Israel. 

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...