Ahli Hadis Pembela Mazhab Asy’ariyah, Ibnu Asakir (499-571 H.)

0
69
Imam Ibnu Assakir

Harakah.id – Selalu ada ulama yang bangkit membela Mazhab Asy’ariyah. Salah-satunya Imam Ibnu Asakir Ad-Dimasyqi yang menulis Tabyinu Kadzbil Muftari Fi Ma Nusiba Ilal Asy’ari (Membongkar Fitnah Yang Dituduhkan kepada Imam Al-Asy’ari).

Sejak 30 tahun belakangan, ada sebagian umat Islam yang mengkampanyekan bahwa Mazhab Asy’ariyah bukan termasuk golongan Ahlus Sunnah. Mereka menyebarkan pandangan tersebut melalui ceramah, buku, majalah, buletin, video, dan lainnya.

Namun, akhir-akhir ini seluruh materi yang menolak Mazhab Asy’ariyah menjadi lebih masif setelah berkembangnya jaringan internet. Buku, ceramah audio, maupun video disebarkan dengan sangat massif. Umat Islam di negeri-negeri Muslim, yang tadinya belum mengenal Islam terlalu dalam, ketika membaca dan mendengar ceramah-ceramah tersebut kemudian mulai menerima dan meyakini bahwa Asy’ariyah bukan Ahlus Sunnah. Inilah wabah yang menjangkiti generasi muda Muslim hari ini. Generasi internet.

Banyak di antara mereka yang tidak begitu mengenal agama. Sekali mengenal agama, mereka menjadi begitu mudah menyalahkan orang lain. Ujaran kebencian pun merebak dari status-status mereka di sosial media. Padahal, Rasulullah saw. mengajarkan agar umatnya menghindari kata-kata kotor. Lebih baik diam daripada bicara kotor.

Berbicara tentang Mazhab Asy’ari yang mereka salah-salahkan, sebenarnya hal itu bukan fenomena yang muncul belakangan. Hampir di setiap zaman ada saja sebagian kecil umat Islam yang menyebarkan api kebencian terhadap mazhab yang diikuti mayoritas umat Islam ini. Mereka, atas nama Ahlus Sunnah, mencela Mazhab Asy’ari sebagai golongan Ahli Bid’ah. Seakan hanya mereka yang tergolong Ahlus Sunnah. Sedangkan lainnya tidak.

Padahal, baik Imam Abul Hasan al-Asy’ari maupun umat Islam yang mereka tuduh sebagai ahli bid’ah, adalah orang-orang yang sejak berabad-abad melestarikan ajaran Islam melalui jaringan ulama yang menyebar ke seluruh dunia Islam. Bila dihitung, bisa dikatakan bahwa Asy’ariyah telah berjasa besar menjaga agama Islam dari penyimpangan-penyimpangan.

Imam Abul Hasan al-Asy’ari (260-324 H.) pernah dituduh dengan berbagai tuduhan yang menyakitkan. Ketika ada tuduhan dan bahkan cacian, selalu ada ulama yang bangkit membela Mazhab Asy’ari.

Contohya, 50 tahun setelah Imam Abul Hasan al-Asy’ari wafat, ada tokoh yang bernama Abu Ali Hasan bin Ali bin Ibrahin Al-Ahwazi (362-446). Dia merupakan tokoh penting dalam kajian qiraat Al-Quran. Dalam ceramah-ceramah dan buku-bukunya, dia banyak mencaci maki dan menghujat Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Kebenciannya kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan pecintanya sangat terkenal.

Dia sendiri tidak setuju dengan pendapat Imam Abul Hasan al-Asy’ari yang berbeda dengan pendapatnya tentang sifat Allah. Dia mengikuti pandangan Salimiyah, aliran yang berpegang teguh kepada bunyi tekstual nas sehingga terjerumus ke dalam penyerupaan Allah dengan makhluk (mujassimah). Ada banyak tuduhan yang disebarkannya kepada masyarakat Muslim saat itu agar mereka menjauhi Mazhab Asy’ari.

Baca Juga: Banyak yang Ngaku Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Inilah yang Sebenarnya

Namun demikian, para ulama tidak tinggal diam. Imam Ibnu Asakir Ad-Dimasyqi (499-571 H.) bangkit menulis sebuah buku yang sangat terkenal, Tabyinu Kadzbil Muftari Fi Ma Nusiba Ilal Asy’ari (Membongkar Fitnah Yang Dituduhkan kepada Imam Al-Asy’ari).

Ibnu Asakir adalah seorang ahli hadis kenamaan dari Damaskus. Penulis buku yang sangat produktif. Tidak kurang dari dua puluh empat judul buku beliau tulis. Satu judul buku terdiri dari banyak jilid. Yang paling terkenal adalah Tarikh Dimasyq (Sejarah Damaskus) yang berisi biografi para ulama yang pernah belajar dan berkarir di kota Damaskus.

Buku Tabyinu Kadzbil Muftari Fi Ma Nusiba Ilal Asy’ari ditulis secara khusus untuk membantah tuduhan Abu Ali Al-Ahwazi. Terdapat dua puluh lima poin, kalau tidak lebih, tuduhan yang dialamatkan kepada Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Tuduhan dan fitnah bahkan mengarah kepada pribadi Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Seperti tuduhan bahwa gelar Al-Asy’ari, yang berarti dari keturunan keluarga sahabat Abu Musa al-Asy’ari, ada kebohongan. Nasabnya tidak terhubung dengan sang sahabat. Sekalipun terhubung, nasabnya tidak bermanfaat.

Dalam buku Tabyinu Kadzbil Muftari Fi Ma Nusiba Ilal Asy’ari, Ibnu Asakir membantah tuduhan tersebut. Beliau menegaskan bahwa nasab Imam al-Asy’ari nyambung kepada sahabat Abu Musa Al-Asy’ari. Dengan rinci beliau menyebut jalur nasab Imam al-Asy’ari hingga ke sahabat Abu Musa.

Tuduhan lainnya terkait dengan kapasitas keilmuan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari. Al-Ahwazi menuduh bahwa Imam al-Asy’ari bukan tergolong ahli ilmu, tidak paham Al-Quran, hadis, dan fiqh. Ibnu Asakir membantah tuduhan tersebut dengan menyebutkan judul buku karangan Imam Al-Asy’ari, salah satunya adalah Tafsir Al-Quran War Radd Ala Man Khalafa al-Bayan Min Ahlil Ifki Wal Buhtan.

Al-Ahwazi menuduh Imam al-Asy’ari dengan menyebut bahwa Imam al-Asy’ari hanya diikuti oleh orang-orang bodoh (al-Juhhal). Ibnu Asakir membantah bahwa para pengikut Asy’ariyah bukan hanya orang-orang yang awam dalam masalah agama, tapi juga tokoh-tokoh besar dalam Islam. Para imam terkemuka dari berbagai mazhab.

Ibnu Asakir menyebutkan daftar ulama besar yang menjadi pengikut Imam al-Asy’ari dalam masalah aqidah. Ada lima generasi ulama yang sudah menjadi pengikut beliau. Termasuk di antaranya adalah para ahli hadis, ahli fiqh, ahli kalam, ahli tasawuf dan lainnya seperti Abu Bakr al-Baqillani, Abu Ishaq al-Isfirayini, Ibnu Faurak, Abu Hamid al-Ghazali, Abu Hawazin al-Qusyairi, dan lainnya. Para ulama besar di zamannya dengan banyak murid yang berpengaruh di dunia Islam.

Baca Juga: Sikap Dikotomis Terhadap Ilmu Pengetahuan yang Sangat Disayangkan

Al-Ahwazi menuduh Imam Al-Asy’ari ditolak oleh umat Islam. Tuduhan ini dibantah Ibnu Asakir. Tidak ada negeri Muslim yang menolak pemikiran Imam al-Asy’ari yang secara tulus membela ajaran Islam Ahlus Sunnah.

Al-Ahwasi menuduh bahwa Imam Al-Asy’ari hanya berpura-pura mendukung Ahlus Sunnah, sebenarnya dia mengajarkan paham Muktazilah. Pertaubatannya diragukan. Tidak mungkin seorang pengikut Ahli Bid’ah bertaubat.

Ibnu Asakir membantahnya dengan mengatakan bahwa klaim ahli bid’ah tidak bisa bertaubat adalah bukti kebodohan Al-Ahwazi. Jika perkataan itu dibenarkan, lalu apa gunanya para ulama besar bersusah payah mendakwahi, berdialog, berdebat dengan ahli bid’ah, jika pertaubatan itu tidak mungkin. Bukankah sama saja mereka melakukan perbuatan yang sia-sia. Perkataan al-Ahwazi tersebut adalah bentuk kebodohannya ditunjukkannya kepada banyak orang. Jika pertaubatannya Imam Al-Asy’ari sekadar pura-pura, lalu jasa-jasa besarnya selama hidupnya setelah bertaubat dalam membela ajaran-ajaran Ahlus Sunnah tentang sifat-sifat Allah, dan perjuangannya membongkar paham Muktazilah, maka jasa-jasanya lebih besar dibanding Al-Ahwazi. Para ulama besar juga lebih percaya ketulusan beliau dibanding tuduhan Al-Ahwazi.

Dalam bagian depan kitab Tabyinu Kadzbil Muftari Fi Ma Nusiba Ilal Asy’ari, Ibnu Asakir membuat statement yang menujukkan ketajaman analisisnya. Beliau mengatakan, “Inna Luhumal Ulama’ Masmumatun wa adatullah fi hatki astari muntaqishihim ma’lumatun“ yang berarti “Daging para ulama itu beracun, Allah punya kebiasaan membongkar kebusukan orang yang merendahkan ulama” (hal. 29).

Pernyataan Ibnu Asakir itu adalah kesimpulan yang beliau ambil dari peristiwa yang dialami Abu Ali Al-Ahwazi. Pada akhir hayatnya, Abu Ali Al-Ahwazi yang merupakan ahli qiraat, ahli meriwayatkan hadis, dan dikenal punya banyak sanad tinggi (ali), ternyata banyak melakukan pemalsuan.

Para ahli hadis berhasil membongkar pemalsuan-pemalsuan yang dilakukannya. Dia meriwayatkan banyak hadis palsu untuk mendukung paham Salimiyyah, salah satu aliran Mujassimah, yang meyakini Allah punya anggota tubuh. Sanad-sanad yang disebarkannya ternyata merupakan pemalsuan karena setelah ditelusuri dari guru-guru yang disebutkan, tidak ada nama Abu Ali Al-Ahwazi disebut sebagai muridnya. Namun demikian, Ad-Dzahabi dan beberapa ulama lain masih memandang kemuliaan Abu Ali Al-Ahwazi. Sekalipun terbukti memalsukan sanad, tapi kepakarannya dalam ilmu qiraat dan jasanya mengajarkan kepada umat Islam, tidak dapat diremehkan.

Demikian, adalah kisah di sekitar buku Tabyinu Kadzbil Muftari Fi Ma Nusiba Ilal Asy’ari. Sebuah buku yang ditulis seorang Ahli Hadis kenamaan, yang bergelar Al-Hafizh, guna membela kemuliaan seorang Imam Besar dalam Islam.

Di zaman old, seorang ahli hadis terkemuka saja mengakui ketokohan Imam Abul Hasan al-Asy’ari, anehnya, di jaman now, orang yang belum pernah belajar Islam, lalu tiba-tiba berani menuduh macam-macam Imam Al-Asy’ari dan para pengikutnya sebagai ahli bid’ah. Aneh bukan?