Akad Hawalah, Mengalihkan Penagihan Hutang kepada Orang Lain

0
85
Mengalihkan Penagihan Hutang dalam islam

Harakah.id – Di dalam istilah ilmu fiqih hawalah adalah pengalihan penagihan hutang dari orang yang berhutang  kepada orang yang menanggung hutang tersebut.

Secara etimologi, Hawalah ((حواله bermakna “mengalihkan” atau “memindahkan”. Di dalam istilah ilmu fiqih hawalah adalah pengalihan penagihan hutang dari orang yang berhutang (muhil)  kepada orang yang menanggung hutang tersebut (muhal ’alaih).

Dalam hawalah ini terjadi perpindahan tanggungan atau hak dari satu orang kepada orang lain. Pengalihan penagihan hutang ini dibenarkan oleh syariah dan telah dipraktikan oleh kaum Muslimin dari zaman Nabi Muhammad saw sampai sekarang.

Baca Juga: Bangun Tidur Hutang Lunas, Kisah Pedagang Banyak Hutang Mimpi Bertemu Rasulullah

Dalam Al-Qur’an, kaum Muslimin diperintahkan untuk saling tolong menolong satu sama lain. Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah, “Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa.” [QS. Al-Maidah: 2]

Akad hawalah merupakan suatu bentuk saling tolong-menolong yang merupakan manifestasi dari semangat ayat tersebut.

Kemudian berdasarkan hadis, barang siapa yang mempunyai hutang namun dia mempunyai piutang pada orang lain yang mampu, kemudian dia memindahkan kewajiban membayar hutangnya kepada orang lain yang mampu itu, maka orang yang mampu tersebut wajib menerima kewajiban itu.

Nabi Muhammad saw bersabda, “penundaan orang yang mampu (melunasi hutang) itu adalah dzalim, dan apabila seorang di antara kamu menyerahkan (kewajiban menyerahkan hutangnya) kepada orang kaya, maka terimalah.” [Shahihul Jami’us Shagir, 5876]

Sebagai contoh, A mempunyai hutang kepada B sebesar Rp 50.000 dan A memiliki piutang terhadap C dengan harga yang sama yaitu Rp 50.000. Ketika B menagih hutangnya terhadap A, si A berkata “si C memiliki hutang Rp 50.000 kepadaku, dan kau dapat menagih kepadanya.” Tetapi hawalah hanya dapat terjadi apabila terdapat sebuah kesepakatan di awal antara ketiganya.

Untuk itu, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam menjalankan akad hawalah ini.

Syarat-syarat hawalah ada empat yaitu:

  1. Kerelaan orang yang menagih hutang,
  2. Penerimaan oleh yang empunya piutang,
  3. Keadaan piutang itu sudah tetap menjadi tanggungannya (bukan piutang yang masih kemungkinan gugur),
  4. Adanya persamaan sifat hutang yang ditanggung oleh pemindah hutang dengan sifat hutang yang ditanggung oleh pengambil alih hutang dalam jenis, macam, waktu bayar, dan waktu penangguhannya. Dengan hawalah tersebut tanggungan si pemindah hutang itu menjadi lunas.
Baca Juga: Kisah Seorang Gadis yang Berhutang Ciuman pada Seorang Lelaki yang Belum Halal

Menanggung hutang-hutang itu sah, asal keberadaannya sudah tetap dalam tanggungannya (tidak mungkin berubah) dan hutang itu diketahui jumlahnya. Bagi yang empunya hak boleh menagih siapa yang ia sukai dari penanggung atau tertanggung, jika adanya penanggungan tersebut menurut apa yang telah diterangkan tadi.

Apabila penanggung sudah menutup hutang tersebut, maka kembalilah wajib bayarnya pada si tertanggung jika penanggung dan pelunasan hutang tadi dilakukan dengan seizin si tertanggung.

Misalnya: Deni menanggung hutang Ahmad kepada Roni, maka Roni boleh menagih hutangnya kepada Deni atau Ahmad, dan apabila salah satu dari keduanya sudah membayar, maka selesailah utang piutang antara Ahmad dan Roni.

Tidak sah menanggung hutang yang tidak terang, dan tidak sah pula menanggung apa yang belum pasti terjadinya, kecuali menanggung barang yang dijual. Demikian penjelasan mengenai akad Hawalah sebagaimana dijelaskan dalam kitab Matn Al-Ghayah Wa Al-Taqrib.

Baca Juga: Dari Lintasan Catwalk Sampai Lapangan Sepak Bola, Dukungan Pembebasan Palestina yang Merebak di Seantero Dunia