Beranda Gerakan Aktor Regional dan Poros Baru Timur Tengah: Arab Saudi, UEA-Israel-Bahrain, Qatar

Aktor Regional dan Poros Baru Timur Tengah: Arab Saudi, UEA-Israel-Bahrain, Qatar

Harakah.id Pola hubungan antar negara Timur Tengah kini semakin kompleks. Kepentingan politik dan ekonomi menjadi alasan keputusan penting tersebut. Tidak hanya itu, konektivitas antar poros pun semakin kabur dan beragam. Inilah aktor regional dan poros baru Timur Tengah.

Peta geopolitik Timur Tengah semakin berubah pasca normalisasi negara-negara Arab dengan Israel. Mulai Uni Emirat Arab (UEA) hingga Bahrain menyusul keputusan krusial untuk membuka hubungan diplomatik bersejarah tersebut. 

Pola hubungan antar negara Timur Tengah kini semakin kompleks. Kepentingan politik dan ekonomi menjadi alasan keputusan penting tersebut. Tidak hanya itu, konektivitas antar poros pun semakin kabur dan beragam. 

Memang, berdasarkan sejarahnya, UEA tak pernah berseteru dengan Israel dan wilayahnya tidak berbatasan langsung dengan negara Yahudi tersebut. Sehingga, keputusan untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel adalah perkara mudah. Meski ada pelbagai entitas dan dampak yang melingkupinya.

Aktor Regional dan Poros Baru

Timur Tengah dengan aktivitas politik tensi tinggi dan konflik yang berlangsung panjang. Membuat aktor-aktor regional di kawasan saling berebut kekuasaan dan pengaruh. Mereka juga tengah membangun aliansi baru dan poros tandingan. Seperti halnya poros-poros lama yang memainkan peran sentral di kawasan. Arab Saudi, Iran, dan Turki selalu memegang kontribusi bagi stabilitas Timur Tengah. Tetapi, kini poros baru muncul dalam perebutan kekuasaan tersebut.

Salah satu negara Teluk seperti halnya UEA mengambil keputusan nekat dengan menormalisasi dengan Israel. Tetapi, baru Bahrain yang mau menyusul UEA untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. 

Sedangkan, negara-negara Teluk lainnya masih belum menunjukkan inisiatif untuk mengikuti jejak UEA dan Bahrain. Tetapi, Arab Saudi memperbolehkan jalur lalu lintas udaranya untuk dilewati pesawat Israel. Artinya, masih ada kesempatan dan keputusan yang diambil bagi negara-negara lainnya untuk melakukan normalisasi. Bahkan, kepentingan masing-masing negara telah melupakan persoalan perjuangan Palestina. 

Selanjutnya, Qatar sebagai rival Arab Saudi di negara Teluk menjadi musuh bagi negara “Dua Penjaga Kota Suci” tersebut. Kuartet negara Teluk, yakni Arab Saudi, Bahrain, dan UEA didukung oleh Mesir telah memblokade laut, darat, dan udara dengan Qatar. 

Aliansi kuartet negara Teluk pun kini telah berpisah dan membangun aliansi baru: UEA-Israel-Bahrain. Sementara Arab Saudi masih dalam proses kalkulasi dan diskusi panjang untuk menentukan keputusan penting tersebut. Pasalnya, Arab Saudi adalah negara yang menginisiasi Prakarsa Damai Arab 2002. Di dalam kesepakatan tersebut, negara-negara Arab tidak akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel, jika negara tersebut tidak mematuhi kesepakatan dari perbatasan sebelum tahun 1967. Mesir juga sudah sejak lama membuka hubungan diplomatik dengan Israel di tahun 1979. Sedangkan Yordania menyusul jejak Mesir di tahun 1994. Hingga akhirnya sekarang, UEA dan Bahrain pun menormalisasi dengan Israel.

Aktor regional dan poros baru di Timur Tengah semakin menunjukkan pengaruh dan kekuatannya masing-masing. Selain itu, lobi AS dalam keputusan normalisasi juga memainkan peranan penting. AS telah menjadi mediator ulung di tengah konflik Israel-Palestina. Mediasinya selama ini akhirnya membuahkan hasil yang luar biasa.

Siapa Pemimpin Dunia Arab?

Di tengah pertarungan antar poros di kawasa, pada dasarnya siapa sesungguhnya pemimpin dunia Arab? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menggali data sejarah dan kontribusi aktif negara-negara Arab yang layak menjadi pemimpin dunia Arab. 

Sejak Turki Utsmani runtuh, kepemimpinan di dunia Arab terpecah belah dan terfragmentasi. Arab Saudi pun memiliki klan Saud yang menjadi cikal bakal berdirinya negara tersebut. Arab Saudi pun berupaya menjadi negara nomor satu yang ingin menjadi pemimpin Dunia Arab. Apalagi dua kota suci, Mekkah dan Madinah berada di negara tersebut. Kondisi ini membuat Arab Saudi semakin percaya diri atas otoritas tersebut.

Proses politik berjalan dari waktu ke waktu. Mesir juga menjadi aktor utama di dalam percaturan geopolitik Timur Tengah. Sejak kepemimpinan Muhammad Naguib, Gamal Abdel Nasser, Anwar Sadat, Muhammad Mursi, Husni Mubarak, hingga saat ini, Abdul Fattah as-Sisi. Mesir berusaha memainkan peran penting di kawasan. 

Tidak hanya Turki, Arab Saudi, dan Mesir, tetapi Iran pun disinyalir dinilai oleh banyak pihak layak menjadi pemimpin dunia Arab dan lebih mumpuni dibandingkan negara-negara yang disebutkan di atas. Iran telah menorehkan sejarah penting dalam dunia Arab, yakni revolusi Islam Iran di tahun 1979.

Masing-masing negara saling unjuk kemampuan dan selalu tampil di panggung utama dalam percaturan politik kawasan maupun internasional. Turki, Arab Saudi, Mesir, dan Iran selalu berusaha mencuat dalam beberapa kesempatan dan peristiwa yang terjadi di kawasan. Qatar juga ingin menjadi kompetitor di antara poros-poros utama. Meski Qatar “dikucilkan” oleh kuartet negara Teluk (Arab Saudi, Bahrain, dan UEA). Tetapi, Qatar memainkan jaringan dan strateginya untuk berusaha menjadi pemimpin dunia Arab. 

Poros baru yang tengah dibangun antara Israel, UEA, dan Bahrain menjadi rival bagi poros-poros utama. Artinya, Israel juga mencari sekutu di kawasan. Melalui lobi politik AS ke negara-negara Arab. Kedepan, aktor regional dan poros-poros baru akan memainkan peran penting di kawasan. Perubahan akan selalu terjadi ditengah berbagai kemungkinan. Bahkan, teman bisa menjadi lawan, ataupun sebaliknya. 

Poros baru di kawasan akan mengatur strategi dan kebijakan penting untuk meng-counter poros lawan yang sudah mapan. Tetapi, pola hubungan antar poros pun semakin memanas, jika masalah Palestina tidak diperjuangkan dengan serius. Bahkan, resistensi kelompok-kelompok pendukung Palestina, seperti halnya Hamas, Fatah, Hizbullah, dan lainnya akan bergerak.

Iran dan Turki juga tak akan diam melihat poros baru Timur Tengah membangun kekuatan. Israel, UEA, dan Bahrain bagi mereka adalah musuh baru dan lawan politiknya di kawasan. Maka, tinggal menunggu momen kapan perseteruan antar poros akan bergejolak. Jika tidak dipersiapkan secara matang, maka poros lama akan kalah dan poros baru akan memainkan percaturan politik kawasan.

Kawasan Timur Tengah akan selalu menarik untuk ditelusuri akar persoalan dan dinamika yang terus bergerak di sana. Persoalan politik, konflik antar kepentingan, perang saudara, pertarungan ideologi, reformasi birokrasi, protes massa, dan entitas lainnya menjadi realita kawasan yang kompleks.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

5 Tips Menjaga Hafalan Al-Quran Menurut Sunnah Rasulullah SAW

Harakah.id - Aku akan menjelaskan ke kalian tentang hadits yang aku yakin hadits ini akan sangat bermanfaat untuk teman-teman penghafal Qur’an.

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...