Al-Amtsilah Al-Tasyrifiyah dan Filosofi di Balik Enam Bab Tsulatsi Mujarrad dalam Ilmu Shorrof

0
87
Al-Amtsilah Al-Tasyrifiyah dan Filosofi di Balik Enam Bab Tsulatsi Mujarad dalam Ilmu Shorrof

Harakah.idTsulatsi mujarrad adalah tipe-tipe kalimat yang tersusun dari tiga huruf. Dalam Ilmu Shorrof, tipe kalimat ini dijelaskan fase-fase perubahannya. Tapi di balik itu, ternyata ia juga menyimpan filosofi.

Siapa yang tidak mengenal kitab fenomenal al-Amtsilah al-Tasyrifiyah, karya ulama besar Nusantara asli, beliau KH Ma’shum Ali. Kitab kecil namun menyimpan segudang manfaat besar yang ditulis oleh menantu Hadrotus Syeikh KH Hasyim Asy’ari ini berisikan wazan-wazan dan tasyrifan-tasyrifan ilmu shorof yang disusun dengan ringkas serta sistematis.

Dalam halaman pertama misalnya, kita akan menjumpai bab fiil tsulatsi mujarrad, yaitu kalimat fiil yang terdiri dari 3 huruf pokok tanpa tambahan huruf lain. Dan di dalam bab ini, terdapat 6 wazan yang berbeda-beda. Untuk mempermudah dalam mengingat keenam wazan ini, terdapat sebaih bait yang menjadi pedoman atau patokannya, bait tersebut berbunyi 

فتح ضم فتح كسر فتحتان # كسر فتح ضم ضم مسرتان

Adapun contoh dari masing-masing wazannya, secara berurutan Kyai Ma’shum menuliskan نصَر-ينصُر sebagai contoh bab pertama, ضرَب-يضرِب sebagai contoh bab kedua, فتَح-يفتَح sebagai contoh bab ketiga, علِم-يعلَم sebagai contoh bab keempat, حسُن-يحسُن sebagai contoh bab kelima, dan حسِب-يحسِب  seabagai contoh bab kelima.

Sekilas, memang tidak ada yang istimewa dari beberapa contoh yang dituliskan oleh kyai Ma’shum dalam kitab tasyrif kecilnya itu. Namun siapa sangka, ternyata terdapat pesan filosofi tersirat dari urutan contoh tadi yang mungkin sebagian orang jarang mengetahuinya. Lalu apa dan bagaimana filosofi yang tersirat itu?

Yang bab pertama contohnya adalah kata نصَر, yang artinya itu tolong. Maksudnya, seorang santri saat awal mula ingin berangkat belajar atau mondok tentunya dengan pertolongan dari orang tua atau walinya. Mendapat bekal, biaya pesantren, bahkan bulanan uang saku ia dapatkan dari kiriman atau pertolongan orang tua.

Yang bab kedua contohnya adalah kata  ضرَب, yang artinya pukul. Maksudnya, pukul di sini diibaratkan sebagai cobaan, ujian atau kesengsaraan. Sebagaimana dalam surat al-Insyirah disebutkan; Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Di ayat tadi dijelaskan bahwasanya kita harus menghadapati kesulitan terlebih dahulu barulah kita bisa meraih kemudahan. Santri pun begitu, saat belajar dan mengaji di pesantren, tak jarang mendapat berbagai cobaan dan mendapat gemblengan dari para ustadz serta kyai di sana. Namun itu semua dilakukan dengan niatan agar kelak nanti para santri bisa meraih kemudahan dan kemenangan.

Yang bab ketiga contohnya adalah kata فتَح, yang artinya buka. Maksudnya, terbuka atau futuhnya pikiran dan hati bagi para santri setelah berhasil melewati segala cobaan dan ujian yang mereka hadapi sebelumnya. Diharapkan setelah menjalani dan berhasil melewati segala gemblengan tadi, ilmu yang sudah dipelajari dapat masuk ke dalam pikiran bahkan bisa masuk juga ke dalam hati mereka. Dengan begitu, santri akan dengan mudah paham dan mudah mengerti dengan apa-apa yang disampaikan para ustadz dan kyai. Bukan hanya mengerti saja, karena masuk juga ke dalam hati, harapannya ilmu tadi tertanam dalam hati dan jiwa mereka. 

Yang bab keempat contohnya adalah kata علِم, yang artinya adalah mengerti. Tadi sudah dijelaskan, jika pikiran dan hati telah terbuka. Maka di sana ilmu akan lebih mudah untuk masuk, dan akhirnya para santri menjadi mengerti dan paham dengan apa-apa yang disampaikan oleh para ustadz dan kyai saat pengajian. 

Kemudian bab kelima contohnya adalah kata  حسُن, yang artinya adalah bagus atau indah. Maksudnya, orang jika sudah memiliki ilmu dan sudah menjadi ahlul ilmi. Maka dia akan mendapatkan keindahan, akan mendapatkan kemuliaan, kemudian juga akan dihormati dan disegani oleh orang-orang. Sebagaimana sudah dijelaskan dalam sebuah bait yang berbunyi

تعلم فان العلم زين لاهله # وفضل وعنوان لكل محامد

belajarlah, sesungguhnya ilmu itu menjadi perhiasan, keutamaan, tanda-tanda setiap akhlaq terpuji bagi pemiliknya.

Yang terakhir bab keenam contohnya adalah kata حسِب, yang artinya menghitung atau interospeksi. Maksudnya, jika semua tadi sudah ditempuh dan digapai, pada akhirnya kita akan kembali lagi diingatkan untuk senantiasa interospeksi diri, untuk senantias bermuhasabatun nafsi. Karena bagaimanapun juga yang namanya manusia tak akan pernah bisa luput dari kesalahan seratus persen, sesekali terkadang tanpa disadari ternyata kita telah berbuat kesalahan, walaupun mungkin kecil bentuknya namun tetap saja namanya adalah kesalahan. Dan di sinilah peran dari muhasabah atau interospeksi diri, tujuan agar kita senantiasa ingat dan senantiasa berbenah diri terus mencoba untuk menjadi lebih baik.

Itulah filosofi di balik rumus fiil tsulatsi mujarrad dalam Ilmu Shorrof yang wajib kamu ketahui.