Beranda Keislaman Tafsir Al-Qur’an Bicara Tentang Bulan yang Memantulkan Cahaya Matahari

Al-Qur’an Bicara Tentang Bulan yang Memantulkan Cahaya Matahari

Harakah.idAl-Qur’an sudah menyebutkan fakta bahwa Bulan memantulkan cahaya Matahari sekitar 1400 tahun lalu. Hal ini terbukti benar melalui ilmu pengetahuan alam.

Al-Qur’an is not a book of SCIENCE, but a book of SIGN!” kata Dr. Dzakir Naik dalam salah satu ceramahnya. 

Walaupun banyak yang tidak setuju dengan cara dakwahnya dan kini bermasalah dengan pemerintah India, beliau perlu diakui sebagai salah satu tokoh terkenal yang mempopulerkan ayat-ayat Al-Qur’an dan fakta-fakta sains modern di seluruh dunia.

Di samping itu, penulis setuju dengan kutipan itu karena dapat menyadarkan kita bahwa Al-Qur’an bukanlah sumber pengetahuan alam, yang harus memuat fakta-fakta atau prediksi-prediksi alamiah yang sesuai ilmu sains modern. Tapi kalaupun ada fakta atau prediksi alamiah di dalamnya, lalu kebetulan sesuai dengan sains modern, kita seharusnya tidak perlu terkejut karena sudah semestinya tanda-tanda kekuasaan Allah itu pasti benar.

Salah satu contohnya adalah fakta alamiah mengenai Bulan yang memantulkan cahaya Matahari. Dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 61, Allah SWT berfirman,

Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya Matahari dan Bulan yang bersinar.

Kata yang diterjemahkan sebagai “Matahari” sebenarnya berasal dari kata Siraajan. Dalam tafsir Jalalain, disebutkan bahwa menurut suatu qiraat, lafal Siraajan dibaca Suruujan dengan ungkapan jamak. Dalam kamus Mutarjim, Siraaj berarti lampu, pelita, obor, atau penerang. Menurut tafsir Ibnu Katsir, Matahari bercahaya bagaikan pelita pada alam wujud ini.

Menurut beliau juga, hal ini sesuai dengan ayat lain, seperti an-Naba ayat 13, dengan redaksi kata Siraajan wa al-Haajan, yang artinya pelita yang amat terang. Faktanya memang Matahari serupa dengan pelita utama di Bumi, bahkan di Tata Surya.

Kemudian kata yang diterjemahkan sebagai “yang bersinar” untuk menerangkan Bulan, sebenarnya berasal dari kata Muniiran. Dalam tafsir Jalalain, maknanya adalah Nayyiraatin, yang dalam kamus Murtajim berarti yang berkilauan, bersinar, bercahaya, berseri-seri, terang, dan brilian. Namun menurut pendapat Ibnu Katsir, Bulanlah yang bersinar (memancarkan cahaya, pen.), bukan yang memantulkan sinar Matahari.

Tetapi ditinjau dari kata-katanya, Muniiran, dapat diartikan pula sebagai “tempat cahaya”. Karena itulah, sinar cahayanya bukan berasal dari sana karena itu hanyalah “tempat”, bukan “sumber”. Ditinjau dari penggunaan kata-katanya, kita juga melihat bahwa antara Matahari dan Bulan yang sama-sama bersinar ternyata dibedakan. Yang satu Siraajan dan yang satu lagi Muniiran. Jika maksudnya sama-sama menghasilkan sinar, mengapa hal tersebut dibedakan?

Oleh karena itu, kita bisa menganggap bahwa Al-Qur’an sudah menyebutkan fakta bahwa Bulan memantulkan cahaya Matahari sekitar 1400 tahun lalu. Hal ini terbukti benar melalui ilmu pengetahuan alam. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Mungkin pendekatan tersebut agak apologetis, tetapi sah saja menurut ilmu bahasa. Itu bukan masalah. Yang justru menjadi masalah adalah klaim gegabah, yang justru membuat orang malah menyalahkan Al-Qur’an, bukan klaimnya.

Misalnya pernyataan bahwa Al-Qur’anlah yang pertama kali menyebutkan Bulan memantulkan cahaya Matahari. Apalagi jika ditambah, “Sebelum orang-orang Barat membuktikannya.”

Faktanya, yang pertama kali tercatat dalam sejarah yang menduga bahwa Bulan memantulkan cahaya Matahari adalah Anaxagoras, filsuf Yunani, sekitar pada tahun 450 SM. Dia juga menjelaskan bahwa pada saat Gerhana Matahari Total, Bulan berada di antara Bumi dan Matahari. Kegelapan yang terjadi saat itu disebabkan karena Bulan tidak menghasilkan cahayanya sendiri.

Meskipun Anaxagoras atau orang-orang lain mencetuskan idenya terlebih dahulu mengenai hal ini, tetapi mereka tidak bisa membuktikannya secara langsung sampai datangnya zaman modern. Manusia pada akhirnya menemukan teleskop, membangun roket dan satelit, bahkan menjejakkan kakinya di Bulan, sehingga dapat membuktikan ide itu secara nyata. Artinya, dugaan mereka bisa benar, bisa juga salah. Namanya juga dugaan. 

Berbeda dengan pendapat manusia yang bisa benar dan bisa salah, Al-Qur’an adalah sesuatu yang tegas kebenarannya. Ini juga sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Tuhan. Sebagai tanda-tanda kekuasaan-Nya, bukankah sudah sepatutnya Al-Qur’an mengandung fakta-fakta yang benar?

REKOMENDASI

Muslim Tapi Musyrik, Kerancuan Stigma dan Pemikiran Kaum Salafi Terkait Konsep Kafir dan Syirik

Harakah.id - Muslim tapi Musyrik adalah stigma dan status yang tampaknya baru lahir belakangan ini. Penyebabnya adalah, ada sebagian kelompok yang...

Kalau Hidup Anda Terasa Sempit Dan Sesak, Coba Amalkan dan Baca Shalawat Fatih Pelapang...

Harakah.id – Shalawat Fatih ini cocok dibaca ketika anda merasa hidup sesak dan sempit. Di satu situasi, kita seringkali merasa hidup...

Kita Sering Diceritakan, Bahwa Di Awal Penciptaan, Seluruh Malaikat Bersujud Kepada Nabi Adam. Benarkah...

Harakah.id - Malaikat bersujud kepada Nabi Adam adalah hal atau peristiwa yang seringkali dikisahkan dalam kisah-kisah permulaan Adam diciptakan oleh Allah....

Syukur Bisa Diungkapkan Dengan Banyak Cara, Salah Satunya Dengan Sujud. Ini Doa Ketika Sujud...

Harakah.id - Sujud Syukur adalah salah satu bentuk ungkapan yang terima kasih dan bersyukur. Syekh Nawawi dalam Nihayah al-Zain, mengutarakan ada...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...