Al-Quran Sebagai Sumber Penemuan Sains, Sejarah Ringkas Kemunculan Tafsir al-I’jaz al-‘Ilmi

0
622
Mengenal dan Memahami Pendekatan Tanzili dalam Menafsirkan Al-Quran

Harakah.idAl-Quran sebagai sumber penemuan sains adalah isi dari gagasan al-I’jaz al-Ilmi. Tafsir al-I’jaz al-‘Ilmi adalah satu corak tafsir yang berusaha mengeluarkan hal-hal yang ilmiah dari dalam al-Quran. Meskipun bukan kitab sains, al-Quran terbukti mengonfirmasi banyak temuan dalam bidang pengetahuan.

Tidak dipungkiri lagi bahwa munculnya tafsir al-I’jaz al-‘Ilmî berawal dari sebuah gagasan yang menyatakan bahwa al-Qur’an dan akal tidak pernah bertentangan. Selain itu, al-Quran sebagai sumber penemuan sains juga tak dapat dipungkiri. Karena ajaran yang terkandung di dalam al-Qur’an tak pernah bertentangan dengan perkembangan keilmuan modern. Al-Qur’an adalah wahyu yang terakhir dari Allah kepada Muhammad Saw yang menjadi pedoman bagi umatnya.

Lebih lanjut lagi pada masa keemasan Islam (al-‘Ashr al-Dzahabî). Di masa dinasti Abbasiyah ketika al-Ma’mun menjadi khalifah, didirikan sebuah lembaga keilmuan yang di sebut dengan Bait al-Hikmah. Tempat ini menjadi tempat yang multifungsi, karena di satu sisi menjadi tempat kajian keilmuan dan perpustakaan dan di sisi lain dijadikan sebagai tempat untuk menerjemah buku-buku yang berbahasa Yunani dan Romawi ke dalam bahasa Arab.

Autentisitas al-Qur’an sebagai wahyu Ilahi tidak terbantahkan lagi. Pada era ini, ilmu pengetahuan sangatlah dihargai. Sampai-sampai sebuah karya akan dihargai dengan timbangan emas seberat jumlah timbangan karya terrsebut. 

Mereka mendapatkan fasilatas yang betul-betul mendukung sehingga Islam pada saat itu menuai masa kejayaan. Hal tersebut membuktikan kepada dunia bahwa cendekiawan pada saat itu sangatlah dihargai oleh Khalifah. 

Namun, rasionalisme ini pada akhirnya mengakibatkan noda hitam bagi sejarah Islam tentang perdebatan kekadiman al-Qur’an. Sehingga berujung pada munculnya tragedi penyiksaan ulama yang dikenal dengan peristiwa memilukan. Salah satu korbanya adalah Imam Ahmad Bin Hanbal. 

Dari tragedi tersebut dapat ditarik benang merah bahwa salah satu hal yang memengaruhi masuknya rasionalitas pada dunia Islam adalah munculnya paradigma Barat melalui penerjemahan buku-buku Yunani dan Romawi yang bercorak filsafat.

Dari arus deras Barat ini maka lahirlah cendekiawan muslim untuk menggunakan akal dalam menelaah dan mengkaji berbagai literatur keilmuan yang bersumber dari al-Qur’an, sehingga mereka banyak menghasilkan karya-karya monumental yang sampai saat ini dapat dirasakan melalui perkembangan dan metodologi mereka dalam berpikir.

Dalam bidang kedokteran misalnya, disebutlah nama Ibnu Sina. Beliau adalah seorang ilmuan muslim yang terkenal dengan sebutan Abû at-Thibb (father of medicine). Beliau juga seorang pionir dalam analisis penyakit syaraf dan berbagai macam penyakit lainnya. Selain dalam bidang kedokteran, Ibnu Sina juga dikenal sabagai saintis ulung dan sebagai filsuf. Di antara karya-karyanya yang sangat terkenal adalah al-Qânûn Fi al-Thibb dan al-Syifâ

Selain beliau ada nama Abû Zakâria al-Râzî yang bergelut di bidang serupa. Di bidang Filsafat ada nama al-Kindi yang banyak menjelaskan pemikiran-pemikiran Aristoteles. Ada lagi al-Farabi. Sedangkan di bidang Matematika, Sains dan Geologi seperti al-Khawârizmî, tokoh penemu teori Aljabar di masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun. 

Abû al-Raihan al-Birunî salah satu tokoh dalam ilmu Geografi yang banyak memberikan sumbangsih dalam literatur keislaman khususnya dalam ilmu Falak. Di antara karya-karyanya yang terkenal al-Qânûn al-Mas’udî. Beliau adalah salah satu ilmuan Islam pertama yang menolak teori Ptolemaeus, serta menganggap bahwa teori Geosentris tidak masuk akal. Dan masih banyak ilmuan-ilmuan Islam lainnya yang banyak memberikan sumbangsih terhadap khazanah keilmuan dunia.

Pendekatan tafsir saintifik dan gagasan al-Quran sebagai sumber penemuan sains inilah yang memicu lahirnya al-I’jaz al-‘Ilmî. Hal ini tidak luput dari sejarah awalnya yang banyak diwarnai dengan pertemuan filsafat Barat yang membawa pada paham rasionalisme, empirisme, positifisme dan materialisme.

Mufasir yang yang menggunakan corak sains ini di antaranya adalah Fakhr al-Din al-Râzî (w 606 H), Thathâwî Juauhâri dengan karyanya yang berjudul al-Jawâhir Fi Tafsir al-Qur’ân al-Karîm, dan masih banyak lagi para ilmuan muslim yang menbuka tirai keautentikan al-Qur’an yang berdasarkan pada temuan-temuan ilmuan yang spektakuler.

Ketika membahas tentang al-I‘jaz al-‘Ilmi kita tidak dapat menafikan al-Tafsîr al-‘Ilmî. Hal ini akan mempermudah mufasir mendapatkan titik temu antara sains modern dengan al-Qur’an dan tafsirannya, sehingga tafsir tipe ini dapat memposisikan ilmu saintifik sebagai bagian ilmu yang sudah dijelaskan di dalam al-Qur’an.

Di samping itu semua, terdapat perbedaan antara al-I’jâz al-‘Ilmî dengan al-Tafsîr al-‘Ilmî sebagaimana pernyataan Abdullah Bin Abdul Aziz al-Mushleh yang dituangkan dalam tulisan al-I’jâz al-‘Ilmî Fi l-Qur’ân wa al-Sunnah, bahwa al-Tafsîr al-‘Ilmî itu memiliki sifat yang lebih universal daripada al-I’jâz al-‘Ilmî dan lebih detail dalam ulasannya.

Lebih jelasnya lagi beliau memaparkan bahwa al-I’jâz al-‘Ilmî muncul setelah al-Tafsîr al-‘Ilmî. Senada dengan pernyataan Mansûr Muhammad bahwa al-I’jâz al-‘Ilmî  sangat erat sekali kaitanya dengan al-Tafsîr al-‘Ilmî yang di dalamnya membahas tentang ayat-ayat kosmologis dengan menembahkan hadis sebagai bumbu penyedapnya, sedangkan al-I’jâz al-‘Ilmî  merupakan satu dari sekian cabang tafsir. 

Dengan demikian, adanya interpretasi teks al-Qur’an yang disesuaikan dengan wawasan mufasirnya akan melahirkan banyak mukjizat yang terkandung dalam al-Qur’an. Semakin al-Qur’an itu dieksplorasi kandungannya, semakin banyak pula ilmu yang lahir, sehingga banyak pula hal-hal yang akan diperoleh umat, dan itulah yang pada gilirannya menjadi pedoman hidup. 

Abdul ‘Aziz juga mengetengahkan dengan detail, bahwa perbedaan antara al-I’jâz al-‘Ilmî dan al-Tafsîr al-‘Ilmî adalah: pertama, al-I’jâz al-‘Ilmî bentuknya lebih parsial. Di dalamnya terdapat keterpautan antara fenomena syara’ (al-Haqiqah asy-Syar’iyah) dengan fenomena alam (al-Haqiqah al-Kauniyah). Sedangkan al-Tafsîr al-‘Ilmî di dalamnya banyak mengandung teori-teori yang tersirat di dalam tafsir ayat-ayat kauniyah

Kedua, al-I’jâz al-‘Ilmî di dalamnya terdapat keselarasan dengan ahli tafsirnya, sedangkang al-Tafsîr al-‘Ilmî di dalamnya terdapat banyak perbedaan dengan ahli tafsirnya, bahkan ditentang oleh para ulama yang tidak sejalan pemikirannya. 

Ketiga, al-Tafsîr al-‘Ilmî tidak dapat meninggalkan dua hal yaitu: ke-dhabit-an dan syarat-syaratnya dalam penafsiran. Ketika sudah meninggalkan kedua aspek tersebut, seorang mufasir akan cenderung keliru dalam melakukan penafsiran al-Qur’an. 

Oleh karena itu tidak sedikit orang-orang yang hidup di era modern ini yang memahami al-Qur’an dengan keliru bahkan fatal, karena tidak memerhatikan kedua aspek tadi. 

Keempat, al-I’jâz al-‘Ilmî lebih jelas dan terperinci, meskipun terdapat beberapa kekeliruan di dalamnya, yang terkadang tidak berkaitan dengan hakikat syâr`iyah dan kauniyah.

Setidaknya perihal tersebutlah yang mendasari keniscayaan Tafsir al-I’jaz al-‘Ilmi muncul dan tak akan lekang oleh waktu untuk selalu ditelaah. Terlebih doktrin Islam ialah Shalih li kulli zaman, hal wa makan menjadi nutrisi tersendiri bagi setiap ilmuan Muslim. Tentunya dengan tetap mendasarinya pada kaidah al-muhafadzatu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.