Beranda Keislaman Hikmah Alasan di Balik Anjuran Berbuka dengan yang Manis, Apakah Hanya Jargon Iklan?

Alasan di Balik Anjuran Berbuka dengan yang Manis, Apakah Hanya Jargon Iklan?

Harakah.idSebagian orang berkata bahwa anjuran berbuka dengan yang manis adalah pemahaman yang keliru, sesuatu yang tidak ada dasarnya.

Kita semua tentu akrab dengan anjuran berbuka puasa dengan sesuatu yang manis. Keterangan semacam itu sudah jamak disuarakan pada setiap bulan Ramadhan. Belakangan ini, suara-suara perlawanan terhadap anjuran itu pun juga terdengar gencar disuarakan, sebagian orang berkata bahwa anjuran berbuka dengan yang manis adalah pemahaman yang keliru, sesuatu yang tidak ada dasarnya, tidak ditemukan hadisnya atau dituduh hanya sebuah suara “aji mumpung” beberapa produk makanan dan minuman untuk kampanye iklan produk mereka.

Permasalahan ini tentu perlu dikaji ulang dengan melihat hadis-hadis dan keterangan para ulama terkait masalah di atas. Dalam banyak hadis yang mungkin telah cukup akrab bagi kita semua, telah dijelaskan berbagai kebiasaan yang dipraktikkan oleh Rasulullah SAW dalam setiap kegiatan puasa beliau.

Dalam sebuah hadis dari Anas Ibn Malik yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi disebutkan:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Nabi selalu berbuka dengan kurma basah sebelum shalat, jika beliau tidak mendapatinya, maka (beliau berbuka) dengan kurma kering dan jika tidak mendapatkan kurma kering, beliau berbuka dengan meneguk air tiga kali. (HR Tirmidzi).

Hadis dengan keterangan serupa juga diriwayatkan oleh Abu Dawud. Keduanya baik Al-Tirmidzi Maupun Abu Dawud mengomentari hadis ini adalah hadis Hasan. Imam Ahmad juga menyebutkan hadis serupa dalam kitab Musnad beliau.

Jika merujuk pada hadis di atas memang tidak ada keterangan secara tersurat yang menganjurkan berbuka dengan sesuatu yang manis, sehingga perkataan bahwa anjuran berbuka dengan yang manis itu tidak ada hadisnya dapat dikatakan benar, jika yang dimaksud adalah keterangan yang eksplisit dan tersurat.

Akan tetapi sesuatu yang tidak ada hadis-nya tidak otomatis dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak berdasar atau mengada-ada dalam syariat. Kenyataannya, anjuran berbuka dengan yang manis telah dijelaskan oleh beberapa ulama dalam kitab-kitab mereka yang mu’tabar, dan mereka ternyata juga berdasar pada pemahaman tersirat dari bunyi hadis di atas.

Sebagian ulama memahami pilihan Nabi untuk berbuka dengan kurma adalah karena ada keberkahan yang terkandung dalam kurma. Berpijak pada pemahaman ini tentu kesunnahan dan fadhilah berbuka dengan kurma tidak dapat diperluas pada jenis makanan yang lain. Namun, sebagian ulama berpendapat ekslusifitas kurma dii sini disebabkan oleh hikmah tertentu yang terkandung dii dalamnya, dan hikmah ini boleh jadi juga dimiliki oleh jenis makanan yang lain sehingga fadhilah amalan Nabi ini dapat ditarik menjadi lebih luas lagi.

Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan:

“والحكمة في استحباب التمر لما في الحلو من تقوية البصر الذي يضعفه الصوم ولأن الحلو مما يوافق الإيمان ويعبر به المنام ويرق به القلب وهو أيسر من غيره ومن ثم استحب بعض التابعين أنه يفطر على الحلو مطلقا كالعسل رواه بن أبي شيبة عن معاوية بن قرة وبن سيرين وغيرهما”

Hikmah disunnahkan berbuka dengan kurma adalah karena ia jenis makanan manis, sesuatu yang dapat memperkuat tubuh setelah lemah berpuasa. Filosofi manis juga sesuai dengan filosofi keimanan yang menghasilkan rasa manis bagi manusia. Ia juga dapat melunakkan hati selain itu mengkonsumsi makanan manis juga menghasilkan rasa segar dan nikmat. Tidak heran jika sebagian tabi’in menyunnahkan agar kita berbukan dengan sesuatu yang manis secara umum tidak mesti kurma, misalnya madu. Keterangan ini diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dan Ibn Sirin.

Penjelasan serupa juga disebutkan oleh Al-Bujairimi dalam kitab Hasyiyah al-Bujairimi,

إن قلت ما الحكمة في استحباب التمر قلت لما في الحلو من تقوية البصر الذي يضعفه الصوم وهو أيسر من غيره

Jika ada yang bertanya apa hikmah berbuka dengan kurma? Maka jawabannya adalah karena ia bersifat manis yang dapat menguatkan, ia juga lebih mudah didapat daripada yang lain.

Jika mengacu pada penjelasan al-Bujairimi, maka makanan manis juga dapat menggantikan kurma. Dahulu Nabi berbuka dengan kurma karena ia makanan manis yang paling mudah didapat. Adapun bagi kita juga baiknya berbuka dengan makanan manis yang mudah kita dapat.

Dalam dunia medis juga ditemukan bahwa makanan manis mengandung karbohidrat sederhana yang lebih mudah diserap dan dapat memberikan kekuatan bagi orang yang berpuasa. Fakta ini semakin membenarkan klaim beberapa ulama bahwa Nabi berbuka dengan kurma karena keistimewaan sifat manis yang dimilikinya, dan hal ini dapat pula berlaku pada jenis makanan berbeda seperti madu dan gula.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

Gempa Bumi di Cianjur, Ini Panduan Menyikapinya Menurut Islam

Harakah.id - Gempa bumi mengguncang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat pada Senin, (21/11/2022). Sampai tulisan ini diturunkan, Selasa 22/11, tercatat korban meninggal...

Inilah Gambaran Kecantikan Bidadari Surga dalam Literatur Klasik

Harakah.id - Dalam Al-Quran dijelaskan bahwa orang-orang beriman akan masuk surga. Di dalam surga, mereka akan mendapatkan balasan yang banyak atas kebaikan...

Hadis yang Menjelaskan Puasa dan Al-Qur’an Dapat Memberi Pemberi Syafaat

Harakah.id - Beruntungnya bagi kita para muslim, terdapat suatu amalan dan kitab suci yang dapat memberikan syafaat untuk kita di hari akhir...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...