Beranda Khazanah Alasan Kefenomenalan Burdah Imam Bushiri

Alasan Kefenomenalan Burdah Imam Bushiri

Harakah.id Ada 3 kasidah Burdah yang lahir dari masa yang berbeda. Karya Ka’ab, Bushiri, dan Ahmad Syauqi. Tapi dari ketiganya, Burdah Bushiri-lah yang paling fenomenal, apa alasannya kefenomenalan Burdah Bushiri?

Nabi Muhammad diutus ke dunia sebagai Rasul pembawa risalah Islam. Beliau memiliki peran utama dalam menyebarkan dan menyiarkan agama Allah ini ke dunia, tentunya hal ini merupakan sebuah tanggung jawab besar dan tidaklah mudah. Selain itu beliau juga menjadi role mode bagi umat Islam, dengan segala sifat-sifatnya yang mulia dan akhlaknya yang baik sudah sepatutnya diteladi oleh setiap Muslim di dunia sepanjang zaman.

Dengan kedudukannya yang begitu tinggi dan mulia. Tidak jarang, banyak penyair yang memberikan apresiasinya kepada Nabi sebagai bentuk kekagumannya kepada beliau dengan menggubah kasidah-kasidah yang berisikan pujian-pujian yang ditujukan kepada beliau, baginda Nabi. Sejak zaman dahulu, bangsa Arab memang sudah terbiasa dengan membuat kasidah sebagai bentuk ungkapan perasaannya maupun bentuk kekagumannya terhadap sesuatu maupun seseorang.

Diantara kasidah-kasidah yang berisikan pujian kepada Nabi, adalah kasidah Burdah. Sejatinya dalam sejarah kesusastraan Arab, setidaknya terdapat 3 kasidah Burdah yang ditulis oleh para penyair Arab pada masanya masing-masing. Ketiganya adalah Burdah karya Ka’ab bin Zuhair yang ditulis pada masa awal Islam dengan mathla’ nya banat suad. Kemudian Burdah karya al-Bushiri yang ditulis pada masa dinasti Abbasiyah dengan mathla’ nya a min tadzakkuri. Dan yang terakhir adalah Ahmad Syauqi yang menuliskan Nahj al-Burdah pada masa modern, tepatnya tahut 1910 dengan mathla’ nya rimun ‘alal qa’i.

Dari ketiga Burdah ini, yang paling fenomenal adalah Burdah karya al-Bushiri dengan  kemayshurannya dan ketenarannya, baik di luar negeri maupun dalam negeri, Indonesia. Di Indonesia, Burdah al-Bushiri kerap kali dibaca dan menjadi rutinitas bagi kalangan santri pondok pesantren maupun majlis-majlis ilmu lainnya. Mereka meyakini betul akan kesakralan dan nilai spiritualitas yang tinggi di dalam Burdah ini, oleh karenanya tidak heran jika Burdah al-Bushiri ini lebih terkenal di antara Burdah lainnya terutama di Indonesia.

Berbicara mengenai kefenomenalan dan kemasyhuran Burdah al-Bushiri, sejatinya beberapa tokoh sejarah telah menyebutkan faktor-faktor penyebab akan kefenomenal dan kemasyhurannya tadi. Setidaknya ada 6 faktor yang disebutkan oleh Mukhaymir Sholih dalam bukunya al-Madaih al-Nabawiyah bain al-Sharshari wa al-Bushiri. Yang pertama karena pribadi penulis sendiri yang merupakah seorang sufi, al-Bushiri memang salah seorang sufi besar dari kalangan thoriqoh Syadziliya. Dan hal ini termanifestasikan dalam beberapa bait kasidahnya yang mengandung nilai kesufistikan.

Yang kedua kisah pertemuan al-Bushiri dengan Nabi di dalam mimpinya. Tentu kisah ini begitu fenomenal dan diketahui banyak orang. Bahwa ketika itu al-Bushiri jatuh sakit pada saat proses penulisan kasidah Burdah, pada suatu ketika beliau bermimpi ditemui oleh Nabi dan memerintahkannya untuk menyelesaikan kasidah yang sedang dia tulis itu. Akhirnya al-Bushiri terbangun dari tidurnya dengan keadaan sehat, sembuh dari sakitnya. Dan pada saat itu dia lanjutkan untuk menyelesaikan menulis kasidah Burdahnya.

Yang ketiga karena notabennya ketokohan beliau dalam thoriqoh Syadziliyah, berpengaruh pada kefenomenalan kasidah Burdahnya. Dengan berlangsungnya komunitas sufi alirannya yang hingga saat ini masih berjalan, ikut andil dalam hal keberlangsungan kasidah yang beliau tulis. Hal ini secara otomatis berdampak pada penyebaran kasidahnya sehingga dikenal banyak kalangan dan menjadi fenomenal.

Yang keempat karena peran para penganut thoriqoh Syadziliyah yang memang melanggengkan pembacaan kasidah ini. Setiap hari Jumat para penganut thariqoh Syadziliyah secara rutin membaca kasidah Burdah al-bushiri dengan menghadap kiblat dan keadaan suci, baik dari hadast maupun najis. Kasidah ini menjadi wasilah bagi mereka untuk melakukan tawasul dalam bermunajat dan berdoa.

Yang kelima karena pada masa itu, orang orang dari daerah Maghrib yang pada awalnya menjalani kehidupannya yang tentram dan nyaman pada masa dinasti Fatimiyah, kemudian pada saat dinasti tersebut usai mereka mencari sesuatu yang menjadikan diri mereka merasa tentram dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang mereka yakini membuat hidupnya terasa tenteram. Salah satu yang mereka lakukan adalah dengan membaca kasidah Burdah ini di beberapa perkumpulan dan halaqah-halaqah dzikir. Ditambah lagi dengan kebiasaan mereka yang nomaden, berpindah dari satu tempat ke tempat yang lainnya dengan membawa kebiasaan mereka membaca kasidah ini. Dari situlah kasidah Burdah semakin menyebar luas dengan cepat.

Dan yang terakhir adalah isi konten dari kasidah Burdah ini diantaranya adalah bertawasul dengan Nabi dan para ahli baitnya Nabi. Dan pada saat ini golongan syiah membolehkan melakukan tawasul kepada para ahli bait Nabi yang termasuk sayyidina Ali, tetapi menolak keras tawasul kepada selain ahli baitnya Nabi. Sebab inilah kasidah Burdah tidak ditentang ataupun ditolak oleh golongan lain, terutama golongan Syiah pada saat itu. Alhasil kasidah Burdah ini bisa diterima oleh banyak kalangan tanpa adanya penolakan dari pihak manapun.

Selain faktor-faktor tadi, sejatinya masih banyak faktor lain yang menyebabkan kasidah Burdah menjadi fenomenal dan masyhur. Tentunya asrar lain dari kesyakralan kasidah inipun masih banyak lagi. Dalam tulisan ini hanya mengutip beberapa yang mungkin dapat disampaikan kepada para pembaca budiman. Semoga kita semua semakin cinta kepada kasidah indah ini dan semoga semakin menambah kecintaan kita kepada Nabi dan para ahli baitnya serta para ulama-ulama pendahulu. Wallahu a’lam.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...