fbpx
Beranda Gerakan Alasan Kiai Saifuddin Zuhri Menolak Keputusan Soekarno Tentang Pembubaran HMI

Alasan Kiai Saifuddin Zuhri Menolak Keputusan Soekarno Tentang Pembubaran HMI

Harakah.id Soekarno pernah berpikir untuk membubarkan HMI. Organisasi yang Soekarno anggap terlalu radikal dan reaksioner. Tapi rencana itu gagal, salah satunya berkat Kiai Saifuddin Zuhri.

Seorang pemimpin mestinya berhati-hati dalam mengeluarkan putusan dan kebijakan. Jangan sampai keputusan yang diambil tidak dipikirkan matang-matang dan dipertimbangkan resikonya. Bagaimanapun, pada saat kebijakan dikeluarkan, pasti ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.

Dalam kaidah fikih ditegaskan, “Orang yang terburu-buru dalam mengambil putusan, maka dia akan mendapatkan hasil yang tidak baik (man ista’jala syaian qabla awanihi ‘uqiba bi hirmanihi)”. Berdasarkan kaidah ini, anak yang membunuh orang tuanya karena ingin mendapatkan harta warisan, menurut hukum Islam, anak tersebut tidak berhak atas warisan tersebut, sebab dia mengambil harta warisan sebelum waktunya.

مَنْ اسْتَعْجَلَ شَيْئًا قَبْلَ أَوَانِهِ عُوقِبَ بِحِرْمَانِهِ

Siapa yang terburu-buru mengerjakan sesuatu sebelum waktunya, maka dia akan menanggung dampak buruknya

Baca Juga: Dari Sarung Mandar Mbah Wahab Chasbullah, Soekarno Mengaji Ilmu Geo-Politik Global dan Anti-Kolonialisme Budaya

Bung Karno, pada saat menjabat sebagai Presiden, pernah berencana untuk membubarkan HMI. Rencana pembubaran organisasi mahasiswa Islam ini karena mereka dianggap terlalu reaksioner, anti revolusi, dan bertingkah  ke barat-baratan. Rencana pembubaran ini diutarakan kepada KH. Saifuddin Zuhri, yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Agama dan termasuk orang kepercayaan Bung Karno.

Seperti dikisahkan KH. Saifuddin dalam Berangkat dari Pesantren, Bung Karno biasanya pada tiap pagi jam 07.00-09.00 mengajak tamunya untuk sejenak minum kopi sambil berbincang-bincang, baik tamu yang datang dengan perjanjian ataupun tanpa perjanjian. Kebetulan waktu itu, KH. Saifuddin bertamu di  rumah Bung Karno dan beliau dimintai pendapat dan pertimbangan terkait rencana pembubaran HMI. Obrolan kedua tokoh ini disaksikan oleh Hasyim Ning, seorang pengusaha nasional terbaik.

Mendengar keinginan Bung Karno itu, KH. Saifuddin kaget bak mendengar petir di siang bolong dan untungnya beliau tidak panik serta berusaha memberi masukan dan pertimbangan kepada Bung Karno. KH. Saifuddin mencoba bertanya dan mencari alasan Bung Karno membubarkan HMI.

“Mengapa HMI ingin dibubarkan?” Tanya KH. Saifuddin

“Berbagai laporan disampaikan kepada saya bahwa di mana-mana HMI melakukan tindakan anti-revolusi dan bersikap reaksioner”

“Kadar, anti revolusi maupun reaksionernya sampai di mana?”

“Yaah, misalnya, selalu bersikap aneh, tukang kritik, bersikap liberal seolah-olah hendak mengembalikan adat kebarat-baratan dan lain-lain” Jawab Bung Karno.

“Apakah HMI sudah bapak panggil untuk dinasihati?”

“Secara umum dan terbuka sudah saya ingat berulang kali lewat pidato saya”

“Mohon dipertimbangkan sekali lagi! Pinta KH. Saifuddin.

Baca Juga: Periuk Nasi Ibunda Kiai Saifuddin Zuhri dan Aksi Penyelamatan Naskah Soekarno dari Kolonial Belanda

Penulis buku Guruku Orang Pesantren ini  menegaskan, “HMI itu anak-anak muda. Mereka sudah termakan oleh pidato-pidato bapak di banyak peristiwa. Kalau saya ini anak muda, saya akan memberontak melihat hal-hal yang tidak beres di kanan kiri kita. Mereka itu juga para mahasiswa berbagai fakultas. Mereka calon insinyur, dokter, ekonom, sarjana hukum, dan lain-lain. Mereka adalah kader-kader bangsa. Sudah jamak anak-anak muda berpikiran dinamis. Seperti yang sering Bapak pidatokan, mereka bisa membentuk gelombang arus listrik. Arus listrik harus disalurkan supaya menjadi kekuatan yang bermanfaat. Kalau HMI dibubarkan nanti mereka frustasi dan kita semua rugi”

“Mereka kan anak-anak Masyumi. Tentu seperti bapaknya, tetap saja reaksioner!” Tegas Bung Karno

“Pak, ketika masa jaya-jayanya Masyumi, mereka masih anak-anak SMP dan SMA. Mereka tidak tahu persis apa itu Masyumi. Kita jangan mengikuti falsafah yang mengatakan, ‘Karena Bapaknya berbuat salah, anak-anaknya pun berdosa semuanya’”.

“Tetapi bagaimanapun HMI dan SBII bakal saya bubarkan. Kalau HMI bubar, NU kan untung, PMII makin besar” Kata Bung Karno.

KH. Saifuddin tetap tidak mundur dari pendiriannya dan berusaha agar Bung Karno menarik keinginannya. Meskipun Bung Karno memprediksi dengan dibubarkan HMI, maka PMII akan menjadi besar dan memberi keuntungan terhadap NU, KH. Saifuddin tetap tidak goyah dengan pendiriannya. Bahkan, beliau bersedia mempertaruhkan jabatannya demi mempertahankan kebebasan beroganisasi.

“Kalau Bapak hendak membubarkan HMI, artinya pertimbangan saya bertentangan dengan gewetan Bapak. Tugasku sebagai pembantu Bapak hanya sampai di sini.” Kata KH. Saifuddin.

“Jangan berkata begitu. Saya tetap memerlukan bantuan saudara. Baiklah HMI tidak akan saya bubarkan.” Jawab Bung Karno.

Baca Juga: “Indonesia Bukan Hanya Milik PDIP” dan Ceramah Gus Baha’ yang Dipolitisir

Apa yang dilakukan KH. Saifuddin ini termasuk gambaran dari perlunya kebijaksanaan dan berpikir lapang sebelum mengambil keputusan. Kebijakan yang tidak berpijak pada pikiran dan pertimbangan yang matang, pada gilirannya akan membawa dampak buruk dan tidak maslahat bagi masyarakat. Padahal, HMI Ciputat dan HMI Yogyakarta sebelumnya melakukan demonstrasi dan protes atas kebijakan KH. Saifuddin, bahkan demonstrasi di Ciputat menimbulkan kerusakan fisik, namun beliau tetap bersikap lapang dada dan tidak memancing di air keruh pada saat berdiskusi dengan Bung Karno.

Meskipun sebagian perilaku anak-anak HMI di mata Bung Karno salah dan keliru, tetapi seorang pemimpin lebih baik memaafkan ketimbang memberi hukuman tanpa didasarkan argumentasi yang jelas. Tampaknya, KH. Saifuddin paham betul maksud dari hadis Nabi SAW, “Lebih baik seorang pemimpin salah dalam memaafkan daripada salah dalam memberi hukuman.”

REKOMENDASI

Mertuaku Adalah Bapak Tiriku, Tentang Hukum Pernikahan Besan dan Sebab Mahram Musaharah

Harakah.id - Penyebab lain dari munculnya hubungan mahram adalah akad pernikahan antara suami dan istri. Pernikahan ini membuat masing-masing kedua mempelai...

Syarat Jadi Wali Itu Harus Berilmu, Rekaman Dialog Quraish Shihab Ft. Gus Baha’

Harakah.id - Dalam sebuah talkshow yang dipandu Najwa Shihab, Gus Baha dan Quraish Shibab terlibat dalam dialog yang seru. Salah satu...

Takbiran Setiap Selesai Shalat Fardhu Sampai Penghujung Hari Tasyrik, Bagaimana Hukumnya?

Harakah.id - Mulai sejak Hari Arafah, Kaum Muslimin punya kebiasaan takbiran setiap selesai Shalat Fardhu. Takbiran ini dilakukan sampai selesai Hari...

Download Khutbah Ringkas Idul Adha 2020

Mampu Sholat, Tapi Belum Tentu Mampu Berqurban Allâhu akbar Allahu akbar Allahu akbar la ilaha illallâhu wallâhu akbar, Allâhu akbar wa lillahil hamd... Allahu akbar kabîra wal hamdu lillahi katsîra wa subhanallahi...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Ada Orang yang Berkurban Tapi Belum Akikah, Bolehkah dalam Islam?

Harakah.id – Berkurban sangat dianjurkan ditunaikan oleh setiap Muslim. Tak berbeda, akikah juga diwajibkan kepada setiap anak yang lahir. Lalu bagaimana...

Jarang Disampaikan, Ternyata Inilah Keutamaan Beristri Satu dalam Islam

Harakah.id - Sunnah hukumnya bagi laki-laki untuk mencukupkan satu istri saja, sekalipun pada dasarnya ia diperbolehkan untuk menambahnya lagi.

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Hari ini kita banyak mendengar kata ijtihad. Bahkan dalam banyak kasus, ijtihad dengan mudah dilakukan oleh banyak orang, yang...