Beranda Keislaman Tafsir Alasan Mengapa Perempuan Perlu Menutup Aurat dalam Islam

Alasan Mengapa Perempuan Perlu Menutup Aurat dalam Islam

Harakah.idAurat merupakan suatu hal yang tidak boleh ditampakkan. Baik laki-laki maupun perempuan dan keduanya memiliki batasan aurat masing-masing yang harus dijaga. Inilah penjelasan mengapa perempuan perlu menutup aurat dalam Islam.

Aurat merupakan suatu hal yang tidak boleh ditampakkan. Baik laki-laki maupun perempuan dan keduanya memiliki batasan aurat masing-masing yang harus dijaga. Sebab wajib hukumnya untuk menutup aurat. Namun kebanyakan yang tergelincir dalam hal ini adalah wanita.

Berkenaan dengan hal ini, Maka Allah memberikan pesan khusus dalam alquran terhadap wanita. Sebagaimana yang dijelaskan dalam surah an-Nur: 31 ““Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak darinya”. Imam Nawawi rahimahullah juga mengatakan bahwa aurat itu wajib ditutupi dari pandangan manusia dan ini adalah Ijma’ (kesepakatan para ulama).

Dikutip dari buku Prof. Quraish Shihab yang berjudul Kosa Kata Keagamaan (Makna dan Penggunaanya), di sebutkan Kata aurat berasal dari huruf ع, و dan ر yang mempunyai dua makna dasar: beredar/berurutnya suatu penyakit di salah satu mata manusia. Dalam kamus-kamus Bahasa aurat di artikan dengan kerusakan atau aib/keburukann yang terdapat pada sesuatu. Dalam Bahasa agama Islam, aurat adalah bagian-bagian tertentu dari tubuh laki-laki dan perempuan yang tidak boleh di tampakkan kepada orang-orang tertentu. 

Dijelaskan juga dalam buku Quraish Shihab tersebut bahwa aurat perempuan dewasa sangatlah beragam, mulai dari yang longgar hingga ketat. Ada yang menyatakan seluruh badan wanita adalah aurat termasuk wajah dan telapak tangan, bahkan ada yang menyatakan suaranya tidak boleh di perdengarkan. Ada juga yang berpendapat bahwa aurat perempuan dewasa adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Ada juga yang menyatakan wajah dan sebagian lengannya tidak termasuk aurat juga kakinya (bukan betisnya).

Menurut Qurasih Shihab beliau menjelaskan bahwa ada yang lebih longgar lagi dalam mementukan batasan-batasan aurat, berkaca pada masa silam, ulama-ulama Nusantara yang membolehkan anak-anak perempuan tampil dengan menggunakan kebaya serta yang dapat menampilkan sebagian rambut perempuan dan leher mereka. 

Meskipun batas-batas aurat diperselisihkan oleh para ulama, hendaknya tetap diambil pendapat yang lebih kuat dan rajih. Lebih jauh, Al-Quran secara pasti melarang segala aktivitas pasif ataupun aktif yang dilakukan seseorang yamg dapat menimbulkan nafsu terhadap lawan jenisnya, apapun bentuk aktivitasnya, meskipun itu hanya suara gelang kaki, jika menjadi sebab terangsangnya nafsu seseorang.

Dalam hal ini tidak ada tawar-menawar, mungkin banyak pertanyaan yang muncul “Kenapa aurat wanita haram ditampakkan kecuali terhadap mahram? Mengapa perempuan perlu menutup aurat? Jawabannya antara lain karena Islam sangat mendambakan kesucian lahir batin dan Islam sangat memuliakan Wanita salah satunya dengan menjaga auratnya dengan setertutup mungkin. Maka dari itu Islam sangat membenci segala bentuk yang dapat memancing dan mengundang keburukan terhadap diri wanita,  atau bahkan dapat mengundang perzinaan sebagai akibat dari menampakkan aurat. Sebab keburukan yang besar akan muncul dari keburukan-keburukan yang kecil. Maka hendaknya para wanita tetap memperhatikan perintah syariat terhadap dirinya semampu mereka.

Sebagaimana yang Allah perintahkan dalam Surah An-Nur ayat 31

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ جُيُوبِهِنَّ ۖ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَىٰ عَوْرَاتِ النِّسَاءِ ۖ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ ۚ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali yang biasa tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putra-putra saudara mereka, atau wanita-wanita Islam yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertaubatlah kamu supaya kamu beruntung” (Q.S. An-Nur [24:60]

Dari sini Allah menetapkan keharusan menutup aurat dan kebolehan menampakkan bagian dari tubuh wanita yang di bolehkan syariat yaitu hanya boleh menampakkan di depan mahram dari si wanita tersebut terutama suaminya. Selain itu ada kelonggaran terhadap aurat wanita yang sudah mencapai usia senja dan tidak memiliki daya tarik untuk di nikahi. Contohnya wanita yang telah mengalami Menopause ia diperbolehkan menggunakan pakaian seperti lansia pada umumnya yang sopan dan santun namun tetap tertutup.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir menurutnya ini adalah perintah Allah yang di tujukan kepada kaum wanita mukmin, terhadap pembelaan Allah buat suami-suami mereka yang terdiri dari hamba-hamba Nya yang beriman, serta untuk membedakan wanita yanag beriman dengan waanita-wanita jahiliyah dan perbuatan musyrik. 

Disebutkan bahwa asbabun nuzul turunnya ayat ini seperti yang di sebutkan oleh Muqatil ibnu Hayyan, telah sampai kepada kami bahwa Asma binti Marsad mempunyai warung di perkampungan Bani Harisah, maka kaum wanita mondar-mandir memasuki warungnya tanpa memakai kain sarung sehingga perhiasan gelang kaki mereka kelihatan dan dada serta rambut mereka kelihatan. Maka berkatalah Asma, “Alangkah buruknya pakaian ini”. Maka Allah menurunkan surat ini.

Pada ayat lain dalam alquran tepatnya pada surah al-Ahzab: 33 dibahas juga terkait dengan hal ini 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Ahzab [33]:59)

Di sisi lain ada kelonggaran tertentu yang melahirkan pengecualian terbatas terhadap wanita-wanita yang sejenis kelamin dengan mereka, atau budak-budak yang tidak mempunyai anak yang belum mengetahui tentang aurat wanita (Q.S al-Nur [24]:60) pengecualian ini terjadi karena secara naluriah rangsangan birahi mereka yang di kecualikan. Hampir tidak ada sama sekali baik akibat hubungan keluarga, atau wibawa wanita yang biasanya enggan berhubungan gelap dengan para budak atau memang pada dasarnya akibat ketiadaan birahi, baik karena belum muncul atau telah sirna. 

Kesimpulan yang dapat diambil terkait dengan pembahasan ini adalah menutup aurat ketika sedang bepergian atau melakukan kegiatan yang memungkinkan perempuan bertemu yang bukan mahramnya adalah wajib untuk setiap muslimah, agar mereka lebih mudah di kenali sebagai seorang muslimah, juga tidak diganngu. Namun ada beberapa toleransi atau kelonggaran terhadap situasi tertentu yang sangat mendesak maka di perbolehkan dengan syarat tidak menimbulkan syahwat/nafsu dan yang di benarkan oleh agama. 

Jadi para wanita muslimah haruslah berpakaian yang baik. Bagaimana pakaian yang baik bagi muslimah mungkin kita bisa langsung memahami dari penjelasan Q.S An-Nur ayat 31 dan al-Ahzab ayat 59. Tapi untuk memperjelas lagi bagaimana pakaian muslimah yang seharusnya ialah menuutpi seluruh tubuhnya, jadi maknanya pakain itu harus longgar, tidak trasnparan dan juga tidak ketat yang membuat perempuan menampakkan lekak-lekuk tubuhnya.

Larangan berpakaian ketat ini diperkuat dengan hadis Nabi dari Usmah bi Zaid dimana ia berkata

كساني رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قبطية كثيفة كانت مما أهدى له دِحْيَةُ الكلبي فكسوتها امرأتي، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : مالك لا تلبس القبطية؟ فقلت: يا رسول الله! كسوتها امرأتي، فقال: مرها أن تجعل تحتها غلالة فإني أخاف أن تصف حجم عظامها

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah memakaikanku baju Quthbiyyah yang tebal. Baju tersebut dulu dihadiahkan oleh Dihyah Al Kalbi kepada beliau. Lalu aku memakaikan baju itu kepada istriku. Suatu kala Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menanyakanku: ‘Kenapa baju Quthbiyyah-nya tidak engkau pakai?’. Kujawab, ‘Baju tersebut kupakaikan pada istriku wahai Rasulullah’. Beliau berkata, ‘Suruh ia memakai baju rangkap di dalamnya karena aku khawatir Quthbiyyah itu menggambarkan bentuk tulangnya’” (HR. Ahmad dengan sanad layyin, namun punya penguat dalam riwayat Abi Daud. Ringkasnya, derajat hadits ini hasan).

Jadi selain kain yang menutup dada seperti yang telah di dijelaskan dalam Q.S An-Nur ayat 31, menjulurkan jilaab keseluruh tubuh seperti yang di jelaskan dalam surah al-Ahzab ayat 59, juga di larang bagi setiap perempuan muslimah yang beriman untuk mengenakan pakaian ketat yang membuat ia berpakaian tetapi seperti telanjang.

Demikian penjelasan mengenai alasan mengapa perempuan perlu menutup aurat dalam Islam. Semoga bermanfaat.

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

Ini Risalah Lengkap Syaikhul Azhar Mengkritik Keras Keputusan Taliban Melarang Pendidikan Perempuan

Harakah.id - Salah satu yang mengeluarkan kritik adalah Syaikhul Azhar, Syaikh Ahmad Tayeb. Berikut adalah pernyataan lengkap beliau. Berbagai...

Mengagetkan! Habib Rizieq Menolak Diajak Demo, Ingin Fokus Ibadah

Harakah.id - Kalau bentuknya demo, kalian saja yang demo. Gak usah ngundang-ngundang saya. Setuju? Habib Rizieq Menolak Diajak Demo....

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...