Alasan Said Nursi Meninggalkan Pentas Politik Turki

0
409

Harakah.idSaid Nursi menjelaskan alasan mengapa beliau meninggalkan karir politiknya sebagai penasihat pemerintah, menolak tawaran jabatan dari Mustafa Kemal Ataturk, bahkan memilih menjauhkan diri dari pentas politik untuk selama-lamanya.

Badiuzzaman Said Nursi bukan hanya seorang ulama, melainkan juga negarawan, sekaligus politisi. Salah satu karya beliau yang paling fenomenal ialah Kulliyyat Rasail an-Nur, atau di Indonesia lebih dikenal dengan Risalah Nur.

Kumpulan surat yang berisi nasihat-nasihat keagamaan dan jawaban atas persoalan umat Islam ini lantas menjadi bahan kajian Islam di Turki, bahkan dipelajari banyak pelajar Islam di penjuru dunia.

Dalam beberapa tulisannya, beliau kadang menyebut dirinya dengan Said Lama (Said Qadim) dan Said Baru (Said Jadid). Penyebutan dirinya sebagai “Said Qadim” dan “Said Jadid” sekaligus memberikan gambaran periodisasi kehidupannya.

“Said Qadim” digunakan untuk menyebut dirinya sejak dilahirkan hingga beliau memilih hengkang dari dunia politik, atau tepat sebelum beliau diasingkan ke Barla. Sedangkan “Said Jadid” dimulai ketika beliau memutuskan menjauh dari kontes politik, hingga akhir hayatnya.

Melalui Kulliyyat Rasail an-Nur, Said Nursi menjelaskan alasan mengapa beliau meninggalkan karir politiknya sebagai penasihat pemerintah, menolak tawaran jabatan dari Mustafa Kemal Ataturk, bahkan memilih menjauhkan diri dari pentas politik untuk selama-lamanya. Redaksi alasan tersebut dapat dijumpai dalam Al-Maktubat, surat keenam belas. ( http://www.iqra.rasaelalnour.com/2017/07/12/المكتوب-السادس-عشر/ )

Setelah menjalani aktivitas sebagai politisi selama sepuluh tahun, Said Nursi merasakan adanya ketidaksesuaian dengan harapan yang ia bangun. Alih-alih dapat melancarkan misinya untuk berkidmah pada agama melalui jalur politik, beliau justru merasa bahwa rutinitasnya sebagai politisi tak jarang menghalanginya untuk menunaikan tugas yang lebih penting dan lebih wajib.

Keputusan Said Nursi menghentikan langkahnya di dunia politik itu dibarengi dengan menghentikan hobinya membaca koran. Padahal ketika masih berkecimpung dalam dunia politik, Said Nursi bisa mengunyah informasi dari delapan koran sekaligus dalam sehari. Karena pada saat itu informasi publik hanya bisa diperoleh melalui surat kabar.

Said Nursi juga menguraikan bahwa orang yang terjun ke dunia politik hanya akan memiliki dua pilihan, yakni menjadi pendudung atau menjadi oposisi. Padahal menjadi salah satu dari keduanya dimungkinkan akan mengalami problem dan berada di ambang ketidakpastian.

Sebagaimana diketahui, bahwa Republik Turki pada saat itu sedang didera isu sekularisme. Dan itu cukup memberatkan bagi seorang ulama seperti Said Nursi.

Karena beliau bukan seorang aparatur pemerintahan maupun wakil parlemen, maka menjadi barisan pendukung–menurut beliau–merupakan sebuah kegiatan tak berguna dan menghabiskan waktu.

Said Nursi pun menganggap bahwa pemerintah–yang berkuasa saat itu–tak terlalu membutuhkan campur tangannya. Sementara jika menjadi oposisi, ia juga merasa tak perlu.

Selain karena alasan bahwa orang-orang sudah mengetahui permasalahan politik, juga karena nuraninya menolak untuk menggiring orang-orang yang tak berdosa ke dalam suatu problem.

Untuk mendukung keputusannya, Said Nursi memberitahukan bahwa; orang seperti dirinya tak mungkin mampu menyembunyikan kebenaran, meski hanya selama delapan hari, apalagi delapan tahun. Maka dari itu, beliau menukil dan mengikuti sepenggal syair dari Lamiyah Ibn Al-Wardi; meninggalkan semua siasat adalah siasat (innamal hilatu fi tarkil hiyali). 

Pilihannya untuk fokus mengabdi pada Al-Qur’an dan iman saja, serta memutus rantai perpolitikan dari dirinya merupakan keputusan yang sudah beliau pertimbangkan masak-masak.

Said Nursi tidak ingin apabila orang-orang awam berpikiran bahwa dakwah agama beliau hanyalah upaya untuk menarik masa dan mencari pengikut demi memuluskan agenda politiknya.

Beliau sangat tidak mengharapkan jika dicap sebagai politisi dengan kedok pendakwah. Apabila orang awam sampai berpikir demikian, bisa jadi mereka akan memandang ajaran Al-Qur’an yang tak berharga. Menjadi ajaran murahan. Karena anggapan tersebut disebabkan oleh sikap politik “Said Qadim”, beliau takut apabila menjadi orang yang zalim terhadap kalamullah.

Said Nursi menjelaskan bahwa mengabdi untuk Al-Qur’an dan iman adalah pengabdian paling agung, paling mulia, paling tulus, dan paling benar. Sehingga sayang sekali apabila kehidupan akhirat yang tanpa batas waktu dan pantas diperjuangkan itu dikorbankan hanya demi keterlibatan sia-sia yang memakan beberapa tahun kehidupan dunia yang tak kekal.

Oleh karenanya, beliau lebih memilih mengabdikan diri untuk keimanan semata. Karena iman merupakan sarana untuk bisa berhasil meraih kehidupan yang abadi.

Pengabdian untuk iman yang tulus itu diyakininya sebagai pengabdian yang tak bisa ditolak oleh makhluk mana pun. Melalui pengabdian tersebut, beliau berharap bisa menjadi penebus atas dosa-dosa dan kesia-siaan yang telah dilakukannya semasa masih menjadi “Said Qadim”.

Meski Said Nursi telah menyatakan menarik diri dari kancah politik, tetapi bukan berarti beliau acuh terhadap negaranya. Sebelum akhir hayatnya, beliau sempat memberikan rekomendasi kepada muridnya untuk memilih salah satu partai yang lebih loyal kepada Islam.

Rekomendasi ini tidak menandakan beliau terlibat dalam politik kembali, tetapi hanya sebatas kecondongan dengan landasan iman dan Islam.

Artikel ini dikirim oleh Maslahul Habib.