fbpx
Beranda Keislaman Tafsir Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.idAda sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah khawatir menyakiti hati Nabi. Mengapa demikian? Memang apa isi surat Al-Masad?

Alquran adalah kitab suci yang menjadi pedoman hidup bagi umat muslim. Di dalamnya memuat ribuan ayat dan ratusan surat, banyak perbedaan pendapat terkait jumlah masing-masing surat dan ayat di dalam kitab ini. Selain berisikan tentang akidah, ibadah, muamalah, hukum dan lain sebagainya. Di dalam kitab ini juga terdapat berbagai macam kisah.

Di dalam kitab Mabahits fi Ulum al-Quran, Manna al-Qattan membagi menjadi 3 kategori kisah-kisah yang ada di dalam Alquran. Yang pertama adalah kisah para nabi seperti kisah nabi Ibrahim dan Ismail, kedua adalah kisah-kisah masa lampau seperti kisahnya ashabul kahfi, dan ketiga adalah kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasullullah saw. Salah satunya adalah kisah Abu Lahab yang celaka sebab mencela dan menentang dakwah Rasulullah saw.

Paman nabi yang bernama Abu Lahab ini, namanya diabadikan di dalam alquran, tepatnya dalam surat Allahab, atau sebagian ada juga yang menyebutnya surat Al-Masad. Di dalam surat ini dijelaskan bahwa paman nabi yang bernama Abu Lahab beserta isterinya akan mendapatkan siksa pedih di akhirat kelak. Diceritakan dalam tafsir Al-Baghawi, saat nabi Muhammad berada di Safa dan menyeru kepada para Sahabat dan memperingatkan mereka, dan akhirnya para sahabatpun berkumpul serta meyakini dengan apa yang dikatakan nabi. Kecuali Abu Lahab, ia justru menentang dan berkata kepada nabi; tabban laka, a lihadza da’autana  jamian (celakalah kamu wahai Muhammad, apa Cuma karena ini kamu mengumpulkan kami semua). Tak lama kemudian barulah turun surat tabbat yada abi lahab.

Demikianlah sekilas cerita mengenai surat Al-Masad. Namun, pada tulisan kali ini sebenarnya yang akan dibahas bukanlah mengenai asbabun nuzul atau isi kandunan dari surat Al-Masad sendiri. Akan tetapi yang akan dibahas di sini adalah adanya sebagian orang yang tidak mau membacanya dengan keras bahkan enggan membacanya dengan disengaja di dalam sholat. Mengapa demikian?

nucare-qurban

Ada berbagai pendapat mengenai hal ini. Contohnya mengutip perkataan Syekh Ali Jum’ah, beliau mengatakan bahwa suatu ketika Sahabat Umar bersama dengan seseorang yang berniat sengaja membaca surat Al-Masad di dalam sholatnya. Mengetahui hal itu Umar sedikit tidak suka dan dia mengkritik orang tadi. Karena menurut Umar, isi kandungan dalam surat tadi itu sangat sensitif bagi Nabi sebab di dalamnya menceritakan azab bagi pamannya yaitu Abu Lahab. Dan di sini Umar lebih memilih untuk menjaga perasaan Nabi dan menghormati Nabi, oleh karenanya dia mengkritik orang tadi dan lebih memilih untuk tidak membacanya.

Imam Syafi’i juga pernah berkata:

أنا أكره أن أقول سورة المسد فى الصلاة حتى لا أوذي بها رسول الله

Saya tidak suka membaca surat Al-Masad di dalam sholat dengan sengaja, sebab saya khawatir menyinggung hati Rasullullah saw.

Selain itu, Asysyahid Syeikh Muhammad Said Ramadan Al-Buthi pernah berkata, bahwa ayahandanya yaitu Syeikh Ramadan Al-Buthi tidak suka membaca surat Al-Masad di dalam sholat dengan disengaja, sebab demi menjaga perasaan dan memuliakan Rasullullah saw. Bahkan, banyak kalangan ahli sufi yang memang sangat menghindari membaca surat Al-Masad ini dengan sengaja di dalam sholat. 

Seperti contohnya ulama kita, yaitu maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya Pekalongan. Beliau pernah menjelaskan di dalam majlis pengajian kilatan Ramadan yang kebetulan saat itu penulis hadir langsung di sana. Bahwa beliau dan beberapa kaum alawiyin dan ahli sufi menghindari membaca surat Al-Masad dengan sengaja di dalam sholat, sebab untuk menjaga perasaan dan menghormati Rasulullah, karena bagaimana pun Abu Lahab ini masih termasuk dari bani Hasyim dan kerabat Nabi sendiri.

Lalu bagaimana jika dalam sholat Terawih yang biasanya para imam membaca surat runtut mulai dari At-Takatsur hingga surat An-Nashr? Atau ketika kita sedang mengadakan khataman Alquran dan membaca juz 30 bersama-sama? Di sana maulana Habib Luthfi menjelaskan, jika seperti itu maka hendaknya kita pelankan suara kita saat membaca surat Al-Masad, sebagai bentuk wujud penghormatan kita kepada Nabi Muhammad. Dan benar saja, sholat terawih yang dilakukan di Kanzus Sholawat Habib Luthfi Pekalongan, imamnya selalu melirihkan suara ketika membaca surat Al-Masad.

Sebenarnya jika ditanya dalil Alquran dan Sunnah yang secara gamblang menjelaskan tentang hal ini memang tidak ada. Namun dari sini ada pelajaran lain yang tidak kalah penting dari hanya ittiba dengan dalil saja. Adalah adab lebih utama dari sekedar ittiba (mengikuti dalil) ketika dalam hal yang berhubugan dengan Rasulullah. Sebagaimana contohnya dalam peristiwa Hudaibiyah saat para sahabat tidak ada yang berani menghapus kata Rasulullah dalam tulisan perjanjian, hingga pada akhirnya Nabi sendirilah yang menghapusnya sebab sahabat tidak ada yang berani saking hormat dan takzimnya mereka kepada sang Nabi. 

REKOMENDASI

Saking Beratnya Dosa Korupsi, Sampai-Sampai Rasulullah Enggan Menyalati Jenazah Koruptor

Harakah.id - Rasulullah enggan menyalati jenazah koruptor. Ini Fakta. Bukan berarti jenazah koruptor tidak boleh disalati, tapi hal itu menunjukkan kalau...

Menilik Kembali Misi “Revolusi Ahlak” yang Diusung Habib Rizieq Shihab

Harakah.id - Revolusi ahlak adalah satu adagium yang baru-baru ini diperkenalkan dan sepertinya akan menjadi arah baru perjuangan HRS, FPI dan...

Harlah, Natal dan Maulid

Harakah.id – “Harlah, Natal dan Maulid” adalah artikel yang ditulis Gus Dur pada tahun 2003. Meski sudah berusia 17 tahun, namun...

Tidak Seperti Manusia Pada Umumnya, Benarkah Rasulullah Tidak Dilahirkan Dari Lubang Kemaluan? Begini Penjelasannya

Harakah.id – Rasulullah tidak dilahirkan dari lubang kemaluan. Ada keyakinan di kalangan para ulama, bahwa baik Nabi Muhammad maupun Nabi-Nabi yang...

TERPOPULER

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Alasan Sebagian Ulama Mengapa Tak Mau Baca Surat Al-Masad dalam Shalat

Harakah.id - Ada sebagian ulama yang tak mau baca surat Al-Masad dalam shalat. Alasan mereka tak mau baca surat Al-Masad adalah...