Beranda Keislaman Muamalah Amar Makruf Nahi Mungkar Menurut al-Ghazali, Memperbaiki Umat Gak Bisa Pake Metode...

Amar Makruf Nahi Mungkar Menurut al-Ghazali, Memperbaiki Umat Gak Bisa Pake Metode Marah dan Keras

Harakah.id – Amar Makruf Nahi Mungkar menurut al-Ghazali tidak sekedar grusah-grusuh dan bentak-bentak orang yang berbuat maksiat. Ada langkah-langkah strategis yang harus ditunaikan agar dakwah dan memperbaiki umat bisa berhasil.

Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin, pembawa perdamaian dan kasih sayang terhadap semua makhluk. Islam mempunyai misi untuk kesejahteraan umat di dunia dan akhirat. Ajaran Islam sendiri menghendaki terciptanya manusia yang mantap dalam berakidah, ibadah, maupun bermuamalah. Allah Swt telah mengutus Nabi Muhammad Saw untuk menyempurnakan kehidupan dengan menyeru kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. 

Jika kita melihat perkembangan dunia saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi informasi mempunyai peran penting dalam kehidupan. Teknologi modern membuat hidup manusia menjadi serba instan. Selanjutnya, tercipta pula berbagai macam alat transportasi, komunikasi, dan informasi yang dapat membawa berbagai dampak bagi manusia – positif maupun negatif. Semua pasti merasakan juga, kemudahan saat ini sangat membantu mengakses segala hal dengan mudah, cepat, efisien, dan praktis; tanpa menyadari bahwa kita telah terpengaruh oleh gerakan modernisme yang terkadang membawa kita kepada nilai-nilai baru dan tentunya tidak semua sejalan bahkan ada beberapa yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. 

Baca Juga: Dakwah Sejuk Ala Gus Mus, Begini Seharusnya Para Pendakwah Menyebarkan Islam

Modernitas selain menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, juga meningkatkan angka kriminalitas dan tindakan amoral yang mulai melunturkan nilai-nilai Islam. Menegakkan amar makruf nahi mungkar merupakan tanggung jawab setiap Muslim untuk menjamin keadilan, keselamatan, dan kesejahteraan masyarakat juga negara. Adanya kesadaran akan amar makruf nahi mungkar pada diri seseorang merupakan pertanda orang tersebut beriman dan sebaliknya, jika tidak adanya kesadaran akan hal tersebut merupakan ciri-ciri orang munafik. 

Pembahasan mengenai perintah amar makruf nahi mungkar ini tidak saja termaktub dalam ayat Al-Qur’an dan Hadis. Tetapi, banyak ulama juga yang menjelaskan tentang hal ini dalam karyanya. Imam Al-Ghazali adalah salah satu ulama Islam yang berbicara mengenai amar makruf nahi mungkar. Sebagai seorang ulama dan intelek yang berbakat dalam dunia Islam, Al-Ghazali yang dikenal di Barat sebagai “Algazel” membebaskan pemikiran Islam dari cengkeraman filsafat Yunani melalui karya fenomenalnya, yaitu Tahafut al-Falasifah. Amar Makruf Nahi Mungkar menurut al-Ghazali harus direncanakan secara taktis dan strategis.

Selain itu, Al-Ghazali juga menyiarkan agama Allah Swt dengan berdakwah untuk mengajak kepada jalan Allah Swt melalui amar makruf nahi mungkar. Sebagaimana diuraikan dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, di dalamnya ada pembahasan penting yang Al-Ghazali katakan, yaitu هو القطب الاعظم في الدين  amar makruf nahi mungkar merupakan kutub terbesar dalam agama.

Amar Makruf Nahi Mungkar menurut al-Ghazali harus menunaikan beberapa langkah; Langkah pertama taaruf—melakukan pengenalan atau penyelidikan yang cukup mendalam terhadap rahasia-rahasia dari seorang pelaku perbuatan mungkar. Langkah kedua, ta’rif,  yaitu memberi tahu kepada si pelaku kemungkaran bahwa hal yang telah atau akan dikerjakan itu mungkar. Langkah Ketiga, mencegah dan melarangnya untuk melakukan perbuatan mungkar. Langkah keempat, memberikan nasihat, teguran, dan pengajaran kepada pelaku perbuatan mungkar. Langkah kelima, menghardik dan memarahinya dengan kata-kata yang keras dengan tujuan agar si pelaku tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Baca Juga: Jimat Kalimasada dan Dakwah Budaya Sunan Kalijaga

Langkah keenam, mencegah kemungkaran dengan tangan, misalnya dengan menumpahkan arak, merampas minuman. Langkah ketujuh, memberikan ancaman atau menakut-nakuti dengan sebuah pukulan, seperti contoh, “Berhentilah dalam meminum khamr atau akan aku tampar mukamu”. Langkah kedelapan, melarang perbuatan mungkar dengan menggunakann tamparan atau pukulan. Langkah kesembilan, mencegah perbuatan mungkar dengan menggunakan senjata. Langkah kesepuluh, adalah dengan memerangi orang yang melakukan perbuatan mungkar bersama dengan kelompok. 

Salah satu cara untuk menyebarkan amar makruf nahi mungkar melalui dakwah. Dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin, Al-Ghazali tampil untuk menghadapi serangan materialism yang buas dalam pemakaian ilmu dan teknologi sebagai ganti filsafat dan safistaisme. Gagasan Al-Ghazali tentang dakwah mencakup seluruh aspek kehidupan, yaitu akidah, syariah, akhlak, muamalah, dan dakwah termasuk di dalamnya bidang sosial, ekonomi, dan lain sebaigainya.

Dalam kitabnya itu, Al-Ghazali menggambarkan sistem kehidupan Islam. Menjelaskan persoalan tentang fikih, seperti taklid mazhab, dalil, penilaian terhadap masing-masing pendpat yang dinilainya relative benar dan kuat. Serta di dalamnya banyak disinggung fenomena-fenomena sosiologis dan psikologis. Menurut Al-Ghazali dakwah Islamiyah itu tidak secara otomatis harus dikerjakan begitu saja. Tetapi, kita juga harus melihat kepentingannya, memahami sekitar, adakah kemungkaran yang terjadi di tengah masyarakat dan hal apa yang perlu dilakukan oleh kita untuk mencegah kemungkaran tersebut.

Baca Juga: Independen dan Berdaulat Meski Hidup di Tengah Patriarkisme Arab, Khadijah Jadi Penyokong Utama Dakwah Muhammad

REKOMENDASI

Mendamaikan [Kembali] Hisab dan Rukyat, Dua Metode Penentuan Awal-Akhir Bulan Dalam Penanggalan Hijriyah

Harakah.id - Hisab dan Rukyat adalah dua metode yang masyhur digunakan untuk menentukan awal dan akhir dalam penanggalan Hijriyah. Termasuk dalam...

Secercah Kisah Imam al-Bukhari dan Bapaknya; Catatan Singkat Sorogan Buku “Commentary of Forty Hadiths...

Harakah.id - Imam al-Bukhari adalah salah satu ulama yang kontribusinya tidak lagi bisa kita pertanyakan. Kitabnya, Sahih al-Bukhari, adalah kitab sahih...

Apakah Boleh Membayar Zakat Fitrah Menggunakan Uang Pinjaman Dari Rentenir?

Harakah.id - Apakah boleh membayar zakat dengan uang pinjaman dari rentenir, maka sebenarnya tak perlu ditanyakan, karena dia bukan tergolong orang...

Teologi Pembebasan dan Konsep Kebertuhanan dalam Pemikiran Hassan Hanafi

Harakah.id - Teologi pembebasan memang merupakan gagasan yang sudah cukup lama bergulir. Tapi demikian, gagasan lontaran Hassan Hanafi ini terbukti memang...

TERPOPULER

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...

Kenapa Orang Indonesia Hobi Baca Surat Yasin? Ternyata Karena Ini Toh…

Harakah.id - Surat Yasin adalah salah satu surat yang paling disukai orang Indonesia. Dalam setiap kesempatan, Surat Yasin hampir menjadi bacaan...