Ambyarnya Perekonomian Iran dan Tendensi Arogan Politik Trump di Pemilu 2020

0
167
Arogansi Trump, Tendensi Politik Pemilu 2020 dan Ambyarnya Perekonomian Iran

Harakah.idAmbyarnya perekonomian Iran tak lepas dari arogansi politik yang dimainkan Presiden Trump. Di tengah agenda normalisasi Israel, Trump dan AS kembali memperpanjang sanksi nuklir Iran yang awalnya dijadwalkan selesai pada Oktober 2020.

Di tengah riuhnya pro-kontra normalisasi Israel yang didukung sepenuhnya oleh Amerika, publik dunia kembali dikejutkan dengan arogansi retorik Presiden Trump tentang perpanjangan sanksi nuklir Iran yang awalnya dijadwalkan selesai 18 Oktober 2020. Menurut berita yang beredar, langkah Trump ini merupakan keputusan sepihak tanpa adanya dukungan dari negara sekutunya. Arogansi retorik Amerika terhadap Iran sebenarnya bukanlah hal baru. Karena sejak disepakatinya sanksi nuklir Iran pertama kali tahun 2007 hingga yang terbaru kini, arogansi retorik menjadi warisan model politik intimidasi ala Amerika terhadap musuh-musuhnya.

Sementara itu, pemegang kunci lain dari sanksi nuklir Iran menentang arogansi Trump ini. Inggris, Prancis dan Jerman bersepakat bahwa langkah Trump tersebut inkonstitusional dan tidak memiliki efek hukum apapun. Pernyataan tersebut didasarkan pada kesepakatan sanksi nuklir Iran di tahun 2015 dan 2018 silam. Tidak hanya berhenti di situ, pihak Iran dengan entengnya menanggapi bahwa tindakan Amerika itu sia-sia. Pasalnya, di tahun 2018, Amerika telah keluar dari perjanjian nuklir Iran. Oleh karena itu, baik Amerika maupun Trump tidak memiliki hak sama sekali terhadap keputusan atas sanksi nuklir Iran, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan ini hanyalah retorika semata.

Meski demikian, Trump tetap bersikukuh untuk memperpanjang sanksi nuklir Iran dengan upayanya melalukan lobi politik ke PBB sebagaimana metode ‘potong kompas’ yang selalu sukses itu. Trump dengan alibi perdamaian dan keamanan internasional kembali menjadi tren di headline media ‘mainstream’ untuk mengaburkan pandangan publik tentang ancaman nuklir Iran. Sementara data dan fakta menyatakan bahwa persediaan uranium Iran tidak membahayakan, karena berada di bawah standar dari kesepakatan kepemilikan uranium di tiap negara. Menurut International Atomic Energy Agency (IAEA), Iran hanya memiliki cadangan 4.5% dari angka 20% yang disepakati. Dengan kepemilikan itu, dapat dipastikan bahwa senjata sejenis bom atom, atau senjata pemusnah massal dapat tercipta. Di titik ini, ambyarnya perekonomian Iran ada di depan mata.

Mendulang Elektabilitas Politik

Arogansi Trump dalam konstelasi politik Timur Tengah dapat dikatakan beraroma politis untuk meningkatkan elektabilitasnya. Dengan memanfaatkan komitmen Amerika terhadap perdamaian dan keamanan Kawasan, Trump dengan tegas, lugas dan keras menerobos soft diplomacy yang sebelumnya telah dirintis oleh Obama. Karakter antagonis menjadi wajah nyata kolonialisme model baru yang diterapkan dalam segala kebijakan politik luar negeri Trump di Timur Tengah. Wajah antagonis ini menyerang, menggempur dan memborbardir negara-negara di Kawasan yang bukan sekutunya, seperti Iran. Drama arogansi Trump yang sebelumnya telah menewaskan Jenderal Qaseem Soleimani, pemimpin Garda Revolusi Iran, ini saja masih menyisakan kepedihan dan luka bagi masyarakat Iran, kini ditambah dengan perpanjangan sanksi nuklir yang kian menambah rentetan derita.

Terkait dengan upaya pendulangan elektabilitas politik, dalam sebuah laporan survey pemilu Amerika 2020 oleh Leo Shane dalam militarytimes.com pada akhir Agustus 2020, menyebutkan bahwa popularitas Trump menurun, sebaliknya Joe Biden merangkak naik. Penurunan ini disebabkan adanya indikasi dari sebagian besar responden yang menilai kinerja Trump ‘kurang beres’ dalam masalah keamanan nasional, terlebih dalam penanganan wabah Covid-19 ini. Sementara harapan baru disematkan pada Joe Biden yang dinilai lebih berpengalaman dibanding Trump.

Perbedaan pengalaman ini sangat mencolok. Dalam sanksi nuklir Iran, Biden menanggapinya dengan sangat hati-hati. Setelah Trump menyatakan perpanjangan sanksi nuklir Iran, Biden lebih memilih untuk Kembali berunding, dengan menjaminkan Amerika dapat kembali masuk dalam kesepakatan nuklir Iran. Aroma politis dalam kasus sanksi nuklir Iran semakin terendus tanpa ‘aling-aling, karena semua dipertaruhkan untuk menaikkan elektabilitas dan popularitas masing-masing kandidat presiden. 

Adapun yang patut dicatat dan diingat, Iran adalah salah satu faktor sukses tidaknya pemilu presiden di Amerika 2020. Pasalnya, pemilu merupakan helatan akbar yang membutuhkan dana yang besar, baik penyelenggaraannya maupun kampanyenya. Sementara sponsor keuangan terbesar Amerika, salah satunya adalah para sekutu Amerika di Timur Tengah, baik melalui perdagangan minyak, senjata dan lainnya. Di sisi lain Iran memegang kunci sebagai pengontrol jalur perdagangan laut, tepatnya di selat Hormuz juga teluk Arab. Mudahnya, Ketika Iran memutus akses di selat Hormuz, maka eskpor-impor minyak terhambat, dan otomatis tidak ada aktifitas perdagangan, yang menyebabkan ekonomi lumpuh.

Jikalau tidak menutup akses perdagangan, Iran dapat pula meningkatkan konflik melalui serangan-serangan berdampak signifikan terhadap negara sekutu Amerika di Kawasan, yang dapat memicu perang terbuka. Sehingga berpengaruh pada wacana perdamaian dan keamanan kawasan yang selama ini digaungkan Amerika. Dan itu memberi catatan buruk bagi seorang kandidat presiden. Catatan buruk itu menjadi cacat moral bagi seorang kandidat presiden. Dalam hal ini Trump harus hati-hati, karena semua itu mungkin terjadi. Terlebih jika Biden dapat memanfaatkan kondisi tersebut dengan melakukan kritik kebijakan pada pemerintahan Trump, maka elektabilitas keduanya akan terus mengalami kurva yang tak beraturan, mengingat Iran adalah faktor pemilu presiden Amerika 2020.

Lesu dan Ambyarnya Perekonomian Iran

Menyebut Iran sebagai faktor bagi pemilu Amerika 2020 bukanlah hal yang berlebihan. Karena rivalitas ekonomi dan politik antara Amerika-Iran di Timur Tengah telah berlangsung cukup lama. Saling jegal dan tukar guling sering dilakukan antar keduanya. Namun yang patut digaris-bawahi, Iran sebagaimana kala revolusi Islam 1979 tetap berkomitmen menjadikan Israel dan Amerika sebagai musuh, meski menggunakan metode dan pendekatan yang berbeda di tiap periodenya. Rivalitas ini telah menjadikan Amerika geram terhadap perkembangan ekonomi dan teknologi di Iran. Penjatuhan sanksi nuklir Iran sejak tahun 2007 merupakan alibi Amerika dan awal bagi fase ambyarnya perekonomian Iran.

Adapun wacana perpanjangan sanksi nuklir di tahun 2020 memberi pengaruh terhadap lesunya perekonomian Iran dengan menurunnya daya jual mata uang Iran terhadap Dolar. Sementara itu kasus kematian akibat Covid-19 di Iran meningkat hingga menyentuh angka 24.301 kematian pada Senin (21/9). Meski begitu, Iran menanggapi semuanya dengan sangat dewasa. Karena Iran sangat paham bahwa sekutu dan aliansinya tidak akan tinggal diam. Pembelaan-pembelaan dari negara-negara seperti Rusia, China, Prancis, Inggris dan Jerman terus berdatangan mengulurkan tangan, agar sanksi nuklir Iran dapat selesai Oktober mendatang. Sementara itu, Iran terus melakukan lobi-lobi dengan Amerika, disertai dengan ancaman-ancaman ringan dan serangan-serangan berskala kecil ke jalur-jalur strategis perdagangan, sehingga Iran dapat membentuk suatu pola perimbangan kekuatan (Balance of Power) di tengah panasnya geopolitik Timur Tengah.

Oleh karena itu, arogansi Trump ini bukanlah perkara yang substantif, melainkan hanya berupa retorik untuk menarik simpati dan manaikkan popularitas dan elektabilitas untuk pemilu presiden November mendatang. Namun, jika drama retoris ini ‘kebablasan’ yang memicu Iran bergerak lebih agresif, maka arogansi retoris ini akan layu sebelum berkembang. Maka diperlukan pula rencana-rencana cadangan untuk menopang gagalnya politik arogansi retoris ini. Karena pengaruh politik arogansi ini sebentar lagi meledak, jika perekonomian Iran tidak segera menuju stabil. Lalu pada akhirnya kita hanya tinggal mengamati kemungkinan-kemungkinan lain yang masih dapat terjadi. Politik bukan ilmu pasti, dia dapat berubah sesuai kebutuhan, kepentingan dan keuntungan.