Anjuran Nabi Untuk Menjauhi Sikap Berlebihan dalam Agama, Radikalisme dan Ekstremisme

0
71

Harakah.id Dengan penjelasan tersebut, maka sudah jelas bahwa umat Islam seharusnya menjadi umat wasathiyah (umat pertengahan, moderat).

Ekstremisme beragama atau berlebihan dalam agama telah banyak mendapat perhatian dari berbagai sarjana di berbagai belahan dunia. Hal ini tak lepas dari dampak yang ditimbulkan, bahwa berlebihan dalam agama dapat memunculkan dampak negatif bagi penganutnya.

Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda;

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ عَلَى نَاقَتِهِ : الْقُطْ لِي حَصًى ، فَلَقَطْتُ لَهُ سَبْعَ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ. فَجَعَلَ يَنْفُضُهُنَّ فِي كَفِّهِ وَيَقُولُ : أَمْثَالَ هَؤُلَاءِ فَارْمُوا، ثُمَّ قَالَ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ. (رواه ابن ماجه والنسائي وأحمد)

Artinya: “Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda di pagi hari jumrah Aqabah saat beliau berada di atas untanya: ‘Tolong ambilkan aku kerikil.’ Maka aku ambilkan untuk beliau tujuh kerikil, semuanya sebesar kerikil ketapel. Beliau mengebutkan (membersihkan debunya) di telapak tangan, seraya bersabda: ‘Dengan kerikil-kerikil seperti inilah hendaknya kalian melempar.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Wahai manusia jauhkanlah kalian berlebih-lebihan dalam agama. Karena orang-orang sebelum kalian telah binasa sebab mereka berlebih-lebihan dalam agama.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i dan Ahmad).

Dalam hadis ini Nabi Muhammad SAW melarang kita berlebih-lebihan dalam agama, yaitu melampaui batas dalam agama agar kita tidak binasa sebagaimana kebinasaan yang menimpa umat-umat dahulu ketika mereka berlebih-lebihan dalam agamanya dan melampaui batas dalam ibadahnya.

Imam Ath-Thahawi berkata di dalam kitabnya:

“ودين الله في الأرض والسماء واحد، وهو دين الإسلام، وهو بين الغلوّ والتقصير، وبين التشبيه والتعطيل، وبين الجبر والقدر، وبين الأمن والإياس”. (ابن أبي العزّ الدمشقي في كتاب شرح العقيدة الطحاوية :٧٨٦/٢)

Dan agama Allah di bumi dan langit itu satu, yaitu agama Islam. Agama Islam itu berada di antara melebih-lebihkan dan mengurang-ngurangi/meremehkan, penyerupaan Tuhan dan tidak mempercayai Tuhan (atheisme), Jabariyah dan Qadariyah, serta antara aman dan putus asa. (Lihat: Kitab Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah Juz 2/786).

Dengan penjelasan tersebut, maka sudah jelas bahwa umat Islam seharusnya menjadi umat wasathiyah (umat pertengahan/moderat). Hal ini seirama dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah [2]:143

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Artinya: “Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Dari ayat di atas, jika kita melihat lebih teliti maka kita akan menemukan ayat tersebut (143) merupakan ayat pertengahan pada surah Al-Baqarah yang terdiri dari 286 ayat. Hal ini termasuk kemukjizatan Al-Qur’an, sebab ayat yang berada di tengah-tengah surat membicarakan tentang pertengahan.

Serta Islam juga mengajarkan umatnya untuk menjauhi sikap yang berlebihan dan mengurang-ngurangi/meremehkan, dalam urusan apapun terutama dalam urusan agama.

Memang dalam menjauhi sikap ghuluw (berlebihan) dan tidak terjebak dalam sikap taqshir (meremehkan) itu sangat sulit. Karena jika disandingkan antara keduanya maka kebanyakan orang lebih condong di salah satunya. Namun, jika kita memahami agama dengan tepat dan belajar dengan tekun, maka keindahan akan lebih nampak dari agama itu sendiri.

Dalam hal ini, perkara yang paling penting agar berada di tengah-tengah dari kedua sikap tersebut yaitu ilmu, belajar dengan tekun dan memperluas khazanah keilmuan disertai akhlak dan akidah yang luhur. Dengan ilmu, kita dapat membedakan mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang seharusnya tidak dilakukan, dalam artian dapat mengondisikan bagaimana kita harus menyikapinya.

Kata al-ghuluw juga dapat diartikan sebagai Radikalisme. Sebagaimana menurut Syeikh Yusuf Al-Qardhawi, Radikalisme adalah sikap berlebihan yang seseorang miliki dalam beragama, ketidaksesuaian antara akidah dengan perilaku, antara yang seharusnya dengan realitas, antara agama dengan politik, antara ucapan dengan tindakan, antara yang diangankan dengan  yang dilaksanakan, serta antara hukum yang disyari’atkan oleh Allah dengan produk hukum manusia itu sendiri. (Lihat: Al-Qardhawi, , Hamin Murtadho, Islam Radikal, 2014: 127).

Pada riwayat hadis yang lain, Rasulullah SAW bersabda;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ قَالَهَا ثَلَاثًا (رواه مسلم وأبو داود وأحمد)

Artinya: “Dari ‘Abdullah bin Mas’ud dia berkata, “RasuluIIah SAW teIah bersabda: ‘Celakalah orang-orang yang suka melampaui batas.’ (Beliau mengucapkannya tiga kali).”

Apapun aktifitas yang kita lakukan jika disertai dengan berlebih-lebihan maka akan menjadi masalah atau bahaya, bahkan aktifitas positif sekalipun. Seperti  belajar, apabila dilakukan dengan berlebih-lebihan maka tubuh kita akan mengalami kelelahan dan juga akan berefek negatif pada kesehatan tubuh. Begitu juga dengan mengurang-ngurangi maka akan berakibat kurang luas pengetahuan yang kita punya.

Maka dari itu, Islam mengajarkan kepada umatnya agar menjadi umat pertengahan, tidak berlebihan serta tidak juga meremehkan. Islam menggabungkan semua aktifitas tersebut sebagai jalan pertengahan, tidak condong kepada berlebihan dan juga meremehkan.

Artikel kiriman dari Ahmad Kamaludin, Prodi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta