Beranda Keislaman Ibadah Anjuran Puasa Tasu’ah, Puasa di Hari Kesembilan di Bulan Muharram

Anjuran Puasa Tasu’ah, Puasa di Hari Kesembilan di Bulan Muharram

Harakah.idPenetapan anjuran puasa Tasu’ah hari kesembilan Muharram adalah sunnah yang bersifat taqriri. Yakni, amalan sunnah yang sudah direncanakan dikerjakan Nabi, namun beliau belum sampai mengerjakannya karena wafat.

Hari Tasu’ah adalah hari kesembilan di Bulan Muharram. Tasu’ah berasal dari kata tis’ah yang berarti Sembilan. Yakni satu hari sebelum Hari Asyuro yang legendaris dan terkenal itu. Dan memang, sebagaimana yang biasa dilakukan sampai saat ini, selain di Hari Asyuro, kita juga dianjurkan untuk berpuasa di Hari Tasu’ah.

Dalil puasa Hari Tasu’ah bisa kita temukan dalam hadis berikut ini:

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Pada waktu Rasulullah dan para sahabatnya mengerjakan puasa Asyura, para sahabat menginformasikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa hari Asyura diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Nabi bersabda, “Tahun depan Insyaallah kami akan berpuasa juga pada hari kesembilan”. kata Ibnu Abbas, akan tetapi sebelum mencapai tahun depan Rasulullah SAW wafat.” [HR. Muslim, No: 1916, Abu Daud, No: 2089].

Dari hadis ini kita bisa menyimpulkan dua hal:

Pertama, penetapan anjuran dan kesunnahan puasa Hari Tasu’ah adalah sunnah yang bersifat taqriri. Artinya, amalan sunnah ini sudah direncanakan akan dikerjakan oleh Nabi Muhammad Saw., namun Nabi sendiri tidak sampai mengerjakannya karena wafat.

Baca Juga: 12 Amalan Di Hari Asyuro, Satu Hari Mulia di Bulan Muharram

Setiap amalan yang diperintah oleh Nabi namun Nabi sendiri belum sempat mengerjakannya disebut taqriri. Puasa hari Tasu’ah adalah contohnya.

Kedua, penetapan puasa hari Tasu’ah didasarkan pada alasan agar amaliyah yang dilakukan oleh umat Muslim di hari Asyuro berbeda dengan amalan-amalan yang juga dikerjakan oleh orang Yahudi dan Nasrani.

Sebagaimana yang kita tahu, puasa Asyuro bukan hanya dilakukan oleh umat Islam saja, tapi juga umat agama lainnya seperti Yahudi dan Nasrani. Agar berbeda dengan mereka, maka Nabi memerintah untuk menambah satu hari sebelum Asyuro, yaitu puasa Tasu’ah.

Itulah sekilas tentang Hari Tasu’ah dan landasan penetapan anjuran berpuasa di dalamnya. Semoga bermanfaat.

Baca Juga: Hukum Merayakan Tahun Baru dalam Hadis Nabi, Ini Pendapat Mereka yang Memperbolehkan
Baca Juga: Inilah yang Dilakukan Para Malaikat Ketika Ikut Mengadakan Jum’atan

[TheChamp-Sharing]

[TheChamp-FB-Comments]

REKOMENDASI

5 Ayat Al-Quran yang Menjadi Dalil Muslimah Punya Hak Untuk Bekerja

Harakah.id - Tulisan ini akan membahas lima ayat Al-Quran yang memberikan nilai-nilai filosofis, tentang kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan dalam hal...

Kepemimpinan Militer Laksamana Keumalahayati, “Inong Balee” di Benteng Teluk Pasai

Harakah.id - Keumalahayati menempuh pendidikan non-formalnya seperti mengaji di bale (surau) di kampungnya dengan mempelajari hukum-hukum Islam, sebagai agama yang diyakininya. Beliau...

Ketika Perempuan Menggugat dan Tuhan Mendengarnya, Kisah Khaulah Binti Tsa’labah

Harakah.id - Kisah perempuan yang menyuarakan keadilan sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw yang diabadikan kisahnya dalam al-Qur’an, yaitu dalam Qs....

2 Ummahatul Mukminin yang Terkenal Sebagai Muslimah Bekerja

Harakah.id - Muslimah yang memilih bekerja di era modern ini dapat meneladani kehidupan mereka. Mereka punya keahlian profesional, mereka beriman dan berakhlak...

TERPOPULER

Tradisi Tahlilan 3, 7, 40, 100 Hari Kematian dalam Islam

Harakah.id - Sudah menjadi sebuah tradisi di kalangan masyarakat Muslim, ketika ada sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia, selalu diadakan...

Mengapa Ada Anak Kiai Tapi Tidak Berjilbab, Inilah Penjelasan Gus Baha’

Harakah.id - Para istri, puteri hingga santriwati pondok pesantren di Indonesia umumnya mengenakan penutup kepala dan baju tertutup, tetapi dengan membiarkan...

Mengenal Istilah Ijtihad dan Mujtahid Serta Syarat-Syaratnya

Harakah.id - Ijtihad dan Mujtahid adalah dua terminologi yang harus dipahami sebelum mencoba melakukannya. Hari ini kita banyak mendengar kata...

Empat Kelompok Kristen Radikal di Indonesia, Dari Konflik Lokal Hingga Terkait Jaringan Transnasional

Harakah.id - Ada beragam jenis radikalisme. Radikalisme agama salah satunya. Setiap agama memiliki kelompok radikal, meskipun pada umumnya minoritas dalam kelompok...